Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 24 Corla VS One Fides


__ADS_3

Zayn dan Xavir kini telah terbangun dari tidur, mereka memandangi sekitar yang terlihat begitu asing di mata. Dekorasi kamar yang di dominasi oleh warna hitam dan beberapa lukisan kuno membuat ruangan ini terlihat menyeramkan.


"Kita ada dimana?" Xavir berusaha bangkit dari kasur.


Zayn melangkah ke arah depan, dibukanya jendela kecil yang berada di ruangan tersebut. Zayn melihat banyak pria yang menggunakan pakaian serba hitam tengah saling menembak.


"Aku rasa kita berada di markas One Fides," Zayn kembali berjalan ke arah Xavir yang masih terbengong.


Xavir menatap Zayn, "One Fides? Apa itu semacam organisasi?"


Zayn menghela nafas, "Astaga! Kau sungguh tidak tahu tentang One Fides?"


"Aku benar-benar tidak tahu." Jawabnya sambil menggelengkan kepala.


Buk!


Buk!


Zayn berusaha menendang pintu dengan sekuat tenaga. Namun, pintu tersebut begitu kuat sehingga tidak mudah membukanya.


*****


Arwan Arkana telah menginjakan kaki di halaman Markas One Fides, matanya dari tadi menatap Pria tampan yang saat ini baru keluar dari Markas. Arwan Arkana berjalan mendekati pria tersebut.


"Selamat datang Tuan Arwan! maaf, kami tidak menyambut mu dengan baik." Ucap Agren sambil membungkuk.


Arwan hanya tersenyum, "Kau terlalu sungkan tuan Agren! aku juga tak Sudi disambut oleh iblis sepertimu."


Prok!


Prok!


Prok!


"Iblis katamu? Lalu kau siapa? Hah! Bagaimana kalau cucumu ku jadikan bidik pistol? Pasti dia akan segera pergi jauh dari sini." Agren tersenyum smirik.


Arwan mengumpat, "SIALAN!"


Dor!


Tembakan yang dilepaskan oleh Arwan berhasil mengenai daun telinga Agren, lalu Agren melakukan hal yang sama.


Dor!


Melihat serangan Agren yang menghampirinya, Arwan langsung menjatuhkan diri ke halaman badannya berguling-guling sambil melepaskan peluru ke arah Agren. Agren menghindari serangan Arwan dengan sangat cepat, gerakannya seperti kilat.


"ENYALAH KAU!" Arwan menembak Agren dengan cara berbeda.


"Akh!" Peluru tersebut mengenai lengan kanan Agren.


Arwan tersenyum, dia mendekati Agren yang saat ini terbaring sambil memegangi lengannya yang sudah mengeluarkan banyak darah. Arwan menginjak kaki Agren dengan kuat.


Krek!


"Akh!" Tulang kaki Agren patah.


Dor!

__ADS_1


Kaki Arwan terkena peluru yang datang dari arah samping, matanya melihat seseorang yang terlihat tidak begitu asing. Bukannya merasa kesakitan, Arwan malah tertawa renyah.


"Sudah kuduga!" Ucapnya sambil tersenyum.


Sementara pasukan Corla dan One Fides saling menyerang, sejauh ini belum terlihat korban yang berjatuhan dari kedua Mafia terbesar tersebut.


Teo yang merupakan inti dari Corla sedang berkelahi menggunakan belati yang baru saja di asahnya. Teo memegangi dua belati, kemudian berusaha menyerang titik vital dari pemuda di depannya.


"Hanya segitu kemampuanmu?" Eiden meremehkan Teo.


Teo tetap terlihat tenang, dia kembali menyerang Eiden dengan gerakan aneh dan cepat. Eiden pun berusaha untuk menyamai gerakan Teo menggunakan jurus andalannya.


Syut!


Belati tajam itu berhasil menggores dada kekar milik Eiden. Eiden memegangi dadanya, kemudian langsung menembak Teo dengan pistol yang disembunyikan di balik bajunya.


Dor!


Buk!


Teo menendang tangan Eiden dengan kuat sehingga pistol yang berada di tangan Eiden terlempar jauh. Walau sedikit pincang, Teo tetap berusaha untuk menyerang Eiden.


Syut!


Teo berhasil melukai Eiden dengan belati miliknya. Dengan keadaan Eiden yang terlihat lemah, Teo kembali menambah luka di tubuh pria tersebut. Saat akan melukai perut Eiden, tiba-tiba sebuah peluru berhasil melukai lengan Teo.


Beberapa anggota dari One Fides segera menyerang Teo yang saat itu sudah cukup terluka, dan yang lain membawa Eiden menuju mobil.


Arwan Arkana kini sudah tergeletak, badannya kini dipenuhi oleh darah. Arwan Arkana di serang oleh orang kepercayaannya.


"Bangun!" Agren menarik baju Arwan yang saat ini sedang tergeletak.


Bugh!


Bugh!


"Habis ini kau akan mendapatkan kejutan yang sesungguhnya!" Ucap Agren


Tiba-tiba...


Dor!


Dor!


Dua peluru berhasil mengenai jantung Gerry dan Agren. Mereka berdua seketika pingsan. Para anak buah One Fides kini sudah ditangani oleh anak buah milik Emilio.


"Milio!" dengan keadaan yang sekarat Arwan berusaha untuk memeluk tubuh pria yang baru saja datang tersebut.


"Maafkan aku ayah, aku datang terlambat." Ucap Emilio sambil membalas pelukan dari Arwan.


Arwan yang mengingat bahwa Kiara saat ini berada dalam bahaya langsung saja berlari ke dalam markas. Walaupun tubuhnya lemas, jalannya sedikit tertatih, Arwan tetap berusaha mencari Kiara.


Emilio dan Arwan Arkana berpencar untuk mencari Kiara, mereka tak mungkin mencari Kiara secara bersamaan.


Arwan Arkana melihat Kiara saat ini sedang tergantung dengan tali di atas Platform. Matanya sudah berkaca-kaca saat melihat Kiara.


"Kakek! Aku takut!" Ucap Kiara saat dirinya melihat Arwan.

__ADS_1


"Kakek akan menyelamatkanmu Princess!" Ucap Arwan.


Anak buah One Fides menggantung Kiara di Platform menggunakan sebuah alat yang canggih. Saat ini Arwan sedang mencari tombol agar Kiara bisa di turunkan.


"Dimana sih tombolnya?" Arwan masih terus mencari tombol dari alat Tersebut.


Bruk!


Tali yang tadi mengikat tangan Kiara tiba-tiba terlepas, Kemudian tubuh Kiara terjatuh ke bawah.


"Ko nggak sakit?" Ucap Kiara sambil membuka matanya secara perlahan-lahan.


"Sampai kapan kamu mau diatas tubuhku?" Ucap Xavir yang saat ini terbaring dengan Kiara yang berada diatas tubuhnya.


"Hehehe... Makasih ya!" Ucap Kiara girang.


Xavir saat ini merasa tubuhnya sangat sakit, tulangnya seakan mau patah karena beban yang sangat berat. Sedangkan Kiara hanya terkekeh dari tadi.


"Kiara!" Arwan memanggil Kiara.


Kiara menoleh, kemudian merentangkan tangannya agar bisa memeluk pria paruh baya yang tengah berlari tersebut. Kiara memeluk erat tubuh Arwan.


"Kakek maafkan aku ya kek, aku sudah buat kakek seperti ini." Ucap Kiara sambil mengecup wajah yang dipenuhi darah yang sudah mengering.


"Kiara!" Suara yang sudah lama tidak didengar oleh Kiara kini memanggil namanya.


Pria tampan itu berlari ke arah Kiara dengan cepat, tangannya memeluk tubuh Kiara dengan sangat erat.


"Dady kangen kamu Princess!" Ucapnya sambil mengelus kepala Kiara.


Dor!


Tembakan tersebut berhasil mengagetkan mereka bertiga, mereka melihat kesana-kemari untuk mencari tahu asal peluru tersebut.


Bruk!


Seketika pandangan Xavir menjadi buram, tubuhnya terjatuh ke lantai. Kiara berlari ke arah Xavir yang sudah tak sadarkan diri.


"Xavir! jangan tinggalin aku! XAVIR!" Kiara tak henti-hentinya berteriak sambil menggoyang-goyangkan tubuh Xavir.


"Ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" Emilio langsung menggendong Xavir diatas punggungnya.


Mereka keluar dari markas dengan langkah yang terburu-buru. Kiara memapah kakeknya, sedangkan Emillio membawa Xavir menuju ke mobil.


Brum!


Emilio menancapkan gas, mereka menuju ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari Markas One Fides. Emillio menyalip setiap kendaraan yang dilewatinya.


Tak berselang lama, mereka sampai di rumah sakit. Xavir segera ditangani oleh dokter. Arwan Arkana juga dibawa ke ruang UGD untuk dirawat.


Kiara dan Emillio sedang menunggu hasil pemeriksaan di kursi tunggu, dari tadi mereka terlihat sangat cemas.


Sementara di markas One Fides, seorang pemuda tampan memukul dinding beberapa kali. Pemuda tersebut terlihat sangat emosi.


"Kenapa salah sasaran sih? Kenapa bukan Kiara yang tertembak! Kanapa harus dia?" Pemuda itu terlihat frustasi. Tangannya menjambak rambutnya sendiri.


"Kau tidak akan tenang Princess!" Ucapnya sambil tersenyum miring.

__ADS_1


__ADS_2