Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 27 Bujang Tua


__ADS_3

Siang itu Kiara dan Bianca memesan bakso, mereka memakan beberapa mangkok bakso. Bianca hari ini mentraktir Kiara karena dirinya senang dengan kedatangan orang yang dia sayang. Beberapa pria tampan mendekati mereka berdua.


"Selamat pagi Neneng!" Fidas menarik kursi yang berada di dekat Bianca.


Sedangkan Bianca hanya acuh tak acuh dengan kedatangan pria yang membuatnya kesal. Xavier menarik bangku yang berada tepat di muka Kiara. Dia memperhatikan Kiara yang sibuk memakan bakso.


"Sibuk amat sih! sampai-sampai pria tampan seperti aku saja di kacangin." Ucapnya sambil menarik mangkok bakso.


"Balikin nggak!" Kiara yang sedang asik makan langsung saja emosi.


Prak!


Kiara berdiri dan memukul kepala Xavier, sedangkan yang dipukul hanya tertawa renyah. Kiara mengangkat sebelah alisnya, kemudian kembali melayangkan pukulan di wajah tampan Xavier.


"Emang gini ya kalo udah jatuh cinta, pukulan pun dirasa belaian." Ucap Fidas.


Sedangkan Ferdo dari tadi hanya menatap Kiara tanpa ekspresi sedikitpun. Kiara yang merasa ditatap jadi salting sendiri.


"Ngapain lo natap-natap bini gua? Lo mau saingan ama gua!" Xavier menatap tajam ke arah Ferdo yang dari tadi tidak mengedip saat menatap Kiara.


"Rambutnya ada laba-laba." Jawab Ferdo dengan dingin.


Kiara segera meraba rambutnya, tangannya mencari hewan yang barusan di bilang oleh Ferdo. Kiara dari tadi terus menerus memegangi rambutnya.


"Nih!" Ferdo meletakan laba-laba yang dia ambil dari rambut Kiara.


"Kok bisa ada laba-laba di rambut aku?" Ucap Kiara sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


"Gimana nggak ada laba-laba coba! Lu aja keramas sebulan sekali." Jawab Bianca ngasal.


Ferdo tersenyum sangat tipis, hal tersebut hanya diketahui oleh Kiara seorang. Karena merasa tidak nyaman Kiara bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah kelas.


"Jangan tinggal gue!" Bianca bangkit dari duduk.


"Terus Mamang Fidas sama siapa?" Ucap Fidas dengan menarik tangan Bianca untuk duduk kembali.


Bianca menonjok hidung mancung Fidas dengan kekuatan penuh. Setelah melakukan hal itu, Bianca membayar makanan dan pergi menyusul Kiara.


Xavier dan Ferdo hanya tersenyum tipis saat melihat sahabat mereka dipukul oleh cewek. Mereka berdua sangat puas melihat Fidas yang dianiaya oleh seorang perempuan.


"Puas!" Ucap Fidas sambil memegangi hidungnya.

__ADS_1


"Anggap aja itu belaian kasih sayang dari ayang Caca." Ucap Xavier


"Caca siapa Anjir?" Fidas tidak mengenal Caca.


"Caca itu Bianca Goblok!" Ucap Xavier memukul kepala Fidas.


"Sakit Anji**!" Ucap Fidas.


******


Bianca saat ini sedang memakai gaun sampai di bawah lutut berwarna peach, ditangannya ada paper bag yang berwarna merah. Bianca memasuki ruang Kerja Emillio dengan hati yang berbunga-bunga.


Krek!


Bianca terkejut dengan pemandangan di depan. Matanya memerah, tangannya mengepal kuat. Bianca memutuskan untuk tidak menghentikan apa yang mereka lakukan.


"Kenapa kau lebih memilih dia dibanding aku? Kenapa kau membuatku dilema?" Ucap Emillio dengan posisi memeluk wanita tersebut dan sesekali mencium puncak kepalanya.


"Kita sudah tidak bisa berhubungan lagi Milli, aku sekarang sudah punya suami yang sangat baik kepadaku." Ucap perempuan itu dengan melepaskan tangan Emillio.


"Apa aku kurang baik?" Tanya Emillio.


Bianca segera menutup Pintu kembali dan pura-pura tidak tahu apa-apa. Bianca acuh tak acuh saat perempuan tersebut menatap heran kepada Bianca.


Bianca menghapus air matanya, kemudian memasuki ruangan dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah.


"My Baby Handsome! Aku bawa makanan kesukaan kamu." Bianca meletakan paper bag di atas meja.


"Ada perlu apa kemari?" Ucap Emillio dengan dingin.


"Aku hanya mau bertemu dengan calon suami masa depan aku." Bianca mengibaskan rambut di depan Emillio.


Melihat leher jenjang dan putih milik Bianca yang terekspos membuat jiwa Emillio serasa ditantang. Dia menelan saliva saat melihat bibir pink menggoda milik Bianca.


"Aku tidak suka makananmu!" Ucap Emillio sambil membaca beberapa dokumen yang berada di atas meja.


Bianca mendekatkan wajahnya dengan wajah Emillio, dia menatap mata Emillio dari dekat. Emillio yang awalnya acuh tak acuh kini sudah tidak bisa menahan lagi.


Cup!


Emillio mencium bibir merah tersebut dengan lembut, dia juga menekan tengkuknya agar bisa memperdalam ciuman. Sedangkan Bianca hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Emillio, dia tidak menolak ataupun membalas ciuman tersebut.

__ADS_1


Saat mereka masih larut dalam ciuman seorang penggawai memasuki ruangan yang sedikit terbuka tersebut. Penggawai itu terkejut saat mendapati bos mereka sedang berciuman dengan gadis yang masih SMA.


Penggawai itu memberanikan diri untuk menyerahkan dokumen yang ada di tangannya. "Maaf Tuan, ini ada dokumen yang harus anda tanda tangani."


Emillio merasa malu karena penggawai tersebut melihat dia yang sedang berciuman panas dengan gadis SMA. Emillio sekarang berumur 30 tahun, sedangkan Bianca baru berumur 17 tahun.


Sedangkan Bianca hanya menyembunyikan wajahnya di balik tas. Dirinya sangat malu karena ketahuan berciuman dengan Emillio yang notabene adalah bos perusahaan, bisa-bisa penggawai itu mengira Bianca adalah Sugar Baby-nya Emillio.


"Lain kali kalau masuk diketuk dulu!" Ucap Emillio yang berusaha menyembunyikan rasa malu.


"Maaf tuan." Ucap Penggawai tersebut.


Saat penggawai tersebut sudah pergi, Emillio menutup pintu ruangan. Kemudian dia menghampiri Bianca yang sedang duduk di sofa sambil memakan cemilan.


"Jangan memancingku lagi! aku ini pria normal." Ucap Emillio sambil menutupi leher Bianca dengan jasnya yang besar.


"Larangan adalah perintah." Ucap Bianca sambil memakan kembali cemilannya.


Emillio membuka satu persatu dokumen yang diberikan oleh penggawai tadi. Dia mulai menandatangani dokumen tersebut. Bianca memperhatikan Emillio yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Kenapa lo nggak bisa mencintai gue? apakah karena ada dia? atau karena usia kita yang terpaut jauh? semoga aja gue bisa luluhin hati lo." Ucap Bianca.


Emillio sesekali menatap gadis remaja di depan dengan menggunakan ekor mata. Emillio sangat tidak percaya jika dirinya melakukan hal yang tidak baik kepada gadis tersebut.


****


"Serius? Kau berciuman dengan Dady? Kok aku nggak percaya." Ucap Kiara sambil tersenyum.


"Gue nggak bohong." Ucap Bianca.


Kiara sangat terkejut karena mendengar cerita dari sahabatnya tersebut, pasalnya dia sangat mengetahui kepribadian Emillio. Kiara tak percaya dengan apa yang di bilang oleh Bianca.


"Dady nggak gitu orangnya." Ucap Kiara tak percaya, "Emang kamu beneran suka sama Dady yang udah tua gitu? Kamu mau sama bujang tua?" Lanjutnya.


" Kiara gue beneran merasa berbunga-bunga saat berada di dekat my Baby Milli gue juga nggak tahu kenapa gue bisa suka sama dia." Ucap Bianca sambil membayangkan ciuman tadi.


Jangan lupa like, komen and dukung novel ini ya!


Dukungan dari kalian sangat berarti untuk membangun semangat buat author.


Jangan lupa meninggalkan jejak setelah membaca cerita ini ya!

__ADS_1


__ADS_2