
Tok!
Tok!
Mimpi indahnya buyar karena pintu yang diketuk dengan kencang dari luar. Kiara mengucek mata, kemudian menarik selimut dan membuka pintu.
"Kenapa?" Rasa malas dan perasaan benci membuat dirinya malas berhadapan dengan suaminya sendiri.
"Aku udah bikin sarapan buat kamu." Ferdo berjalan lebih dulu ke ruang makan.
Kiara mengikuti Ferdo dari belakang, dia melihat Kepiting saos telah terhidang di atas meja. Dengan langkah yang masih gontai Kiara menghampiri meja dan membuang semua makanan yang tersaji.
Brak!
Rumah yang tadinya bersih menjadi kotor dan berantakan. Piring pecah dan makanan berserakan dimana-mana.
"Jangan mengira dengan membuat makanan kesukaanku bisa membuatku luluh! aku tak akan pernah luluh! ingat itu." Kiara berjalan keluar rumah dan meninggalkan Ferdo yang masih menatap makanan tadi.
Padahal Ferdo berusaha bangun subuh dan memasak makanan kesukaannya Kiara agar bisa lebih mudah mendapatkan hatinya. Namun, dia tidak menyangka usahanya malah tidak dihargai sama sekali.
08324252***
[Kiara, aku rindu kamu.]
[Siapa?]
[Ini aku, Xavir.]
[Kamu ada disini?]
[Aku berada di Taman dekat apartemenmu.]
[Aku kesana sekarang]
Kiara masuk kembali ke dalam kamar, dia mengganti pakaian. Kiara tidak mau terlihat jelek di depan Xavir. Kiara sama sekali sudah lupa dengan rekaman CCTV yang diberikan kakeknya waktu itu.
"Mau kemana?" Selama dengan Kiara Ferdo tak pernah melihat Kiara berdandan seperti ini.
"Mau keluar!"
Kiara tak memperdulikan tatapan Ferdo kepadanya, dia begitu malas dengan pria itu. Kiara berlari ke arah taman karena tidak sabar bertemu dengan Xavir.
"Xavir!" Teriak Kiara saat melihat seseorang yang dicintainya berada di depan mata.
Kiara berlari dengan cepat dan merentangkan tangannya untuk memeluk pemuda di depan. Matanya berbinar, senyumnya mengembang. Dia selama ini menahan rindu yang tidak bisa di salurkan.
"Kenapa kamu menghilang? Kenapa kamu malah menikah dengan orang lain?" Xavir menghujani Kiara dengan pertanyaan yang membuat Kiara terisak.
__ADS_1
"Kamu mencintaiku? Apakah kamu akan menentang kemauan bunda demi aku?" Tanya Kiara.
Xavir terdiam, dia sangat bingung apakah memilih Kiara atau bundanya. Dia dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
"Apakah kamu akan tetap mencintaiku walau dirimu terluka? maukah kau terluka demi cinta kita?" Xavir ingin Kiara mau bertahan dengan menuruti kemauan bundanya.
Kiara berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Cinta perlu pengorbanan, itulah yang ada di benak Kiara. Dia akan berkorban asal dia bisa bersama dengan Xavir.
Kiara dan Xavir menumpahkan rasa rindu lewat ciuman mesrah. Mereka tidak memperdulikan orang-orang sekitar yang melihat mereka.
Ferdo melihat kemesraan itu sambil mengelus dadanya yang terasa sesak, kini pembuluh darahnya juga terasa sempit. Ferdo memang sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Beginilah nasib menikahi seseorang yang kita tidak miliki hatinya. Sakit, tapi kita harus bisa menghadapinya dengan lapang dada.
Ferdo meninggalkan mereka, dia tak ingin menyakiti hatinya lagi karena melihat mereka.
"Ya Tuhan, berikanlah keajaiban mu." Saat ini hanya meminta kepada Tuhan yang bisa dia lakukan.
Xavir dan Kiara sedang berjalan-jalan sambil membeli beberapa cemilan di pedagang-pedagang kecil yang ada di Cina.
"Kamu tidak marah saat tahu aku menikah?" Kiara takut jika Xavir marah kepadanya karena telah menikah dengan orang lain.
"Tidak, yang penting hatimu tetap untukku." Ucapnya sambil meneguk minuman.
Apa yang dikatakan di mulut dan di hati beda, Xavir hanya berusaha meyakinkan Kiara kembali agar dia bisa melaksanakan rencananya.
Kau pikir aku dengan senang hati mau menerimamu kembali? jangan harap! teruslah percaya, agar aku bisa dengan mudah melaksanakan rencananya. batin Xavir.
Ternyata kedatangannya ke Cina adalah salah satu rencana yang telah di susunnya bersama sang bunda. Xavir saat ini hanya memikirkan bagaimana caranya dia bisa menyembuhkan bundanya.
Kali ini Ferdo tak bertanya lagi kepada Kiara, bahkan dia tidak menyiapkan makanan seperti biasanya. Namun bukannya senang, Kiara malah merasa ada yang kurang karena sikap Ferdo yang telah berubah tersebut.
"Baguslah! dia tidak menggangguku lagi." Ucap Kiara sambil merebahkan tubuhnya.
Malam harinya, Kiara di ajak oleh Xavir ke Club malam. Kiara memaksakan diri untuk pergi walau badannya tidak enak badan.
"Kalau aku tidak pergi, dia pasti akan marah padaku." Ucapnya seraya merapikan make up tipis di wajahnya.
Ferdo tidak berniat melarang Kiara, dia malah membebaskan Kiara untuk pergi bersama dengan Xavir. Dia tidak mau terlalu mengekang Kiara.
Walau begitu, dia tetap pergi mengawasi Kiara dari jarak jauh.
Ferdo memasuki Club tempat Kiara dan Xavir bertemu. Dia menggunakan Kaos hitam, celana hitam, dan topi hitam agar tidak ketahuan.
Dari arah jauh dia melihat Kiara dan Xavir tengah meminum minuman yang disediakan oleh Bartender. Kiara tak menolak sama sekali, bahkan dia menambah sampai beberapa gelas.
"Minumannya Tuan." Ucap Bartender sambil memberikan segelas alkohol kepada Xavir.
Xavir menolak minuman itu, tapi dia membayar minuman tersebut."Aku tidak bisa minum."
__ADS_1
"Kalau tidak bisa minum kenapa kesini?" Bartender itu heran dengan Ferdo yang menolak minuman.
"Jalan-jalan." Ucapnya sambil melangkahkan kaki ke depan.
Dari tadi Ferdo mengawasi Kiara yang terus meminum minuman alkohol. Dia begitu khawatir dengan kondisi Kiara yang sekarang.
Setelah membuat Kiara mabuk, Xavir membawa Kiara ke kamar yang telah tersedia di Club malam ini. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan emas tersebut.
Dia membawa Kiara ke kamar dan mengunci kamarnya agar lebih mudah mendapatkan apa yang dia cari.
"Maaf, tapi aku harus melakukan hal ini." Ucapnya sambil membuka kancing baju satu persatu.
Sedangkan Ferdo kehilangan jejak Kiara, dia saat ini sangat panik jika Kiara sampe di sentuh oleh Xavir. Ferdo tak pernah menyerah, dia bahkan beberapa kali mendobrak pintu kamar untuk mencari Kiara.
"DASAR GILA!" Umpat salah seorang karena Ferdo yang mendobrak pintu kamar ketika mereka sedang bercinta.
"PRIA GILA!"
Begitulah umpatan dari orang-orang karena kesal dengan Ferdo yang selalu mendobrak pintu. Mereka semua sangat ingin mengganjarnya, namun mereka saat ini di kuasai oleh hawa nafsu.
Hingga tibalah dia di kamar terakhir, dia sudah memastikan bahwa kamar tersebut adalah kamar tempat Kiara berada.
Dengan dada yang menggebu-gebu Ferdo mendobrak pintu kamar terakhir tersebut. Dilihatnya Xavir yang sedang mencium Kiara dengan sangat brutal.
Bugh!
"Beraninya kau!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Xavir terkapar di lantai dengan wajah yang memar dan tubuh yang lemah. Kekuatan Xavir nyatanya tidak dapat menandingi Ferdo.
Ferdo menggendong Kiara ala Bridal style. Dia membawa Kiara keluar dari Club tersebut.
Sampai di Apartemen, Ferdo membersihkan mulut Kiara dari alkohol. Ferdo juga mengganti baju Kiara dengan pakaian Piyama.
"Panas!" Tariak Kiara sambil menarik-narik bajunya.
Ferdo memasang AC agar Kiara tidak merasa kepanasan lagi. Namun, Kiara masih terus berteriak panas.
Cup!
"Aku milikmu malam ini." Bisik Kiara dengan lembut sambil menggigit daun telinganya Ferdo.
__ADS_1
Deg!
Jantungnya berdetak lebih kencang, darahnya berdesir sampai ke otak. Perlakuan kecil tersebut membuat Ferdo tidak karuan.