Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 36 Pembunuhan


__ADS_3

Bau bangkai memenuhi taman. Orang-orang yang yang tengah asik bersantai mencari-cari asal dari bau bangkai tersebut. Setelah beberapa saat, mereka menemukan seseorang terbaring di balik pohon.


"Asalnya dari sana!" Ucap salah satu dari mereka.


Bau bangkai semakin tercium oleh Indra penciuman mereka, tapi mereka seakan mengabaikan bau busuk yang memasuki lubang hidung.


Mata mereka membulat, mulut mereka terbuka lebar, dan tubuh mereka langsung gemetaran saat melihat mayat yang tubuhnya sudah membusuk. Beberapa dari mereka pingsan dan yang lainya berteriak karena Syok.


"Mayat!"


"Ada mayat!"


Seketika orang-orang berkerumun untuk melihat apakah yang mereka katakan benar adanya. Orang-orang yang berkerumun menyangkan kematian dari wanita tersebut.


Mayat yang mereka temukan adalah mayat dari seorang artis yang cukup terkenal. Tubuh dari wanita itu terdapat beberapa sayatan, dan sebagian melepuh dan mengeluarkan bau busuk.


Banyak dari mereka yang memposting video saat mereka menemukan mayat tersebut untuk dijadikan konten. Dunia yang semakin canggih membuat mereka terus Eksis di dunia Maya.


********


Arwan tersenyum miring saat melihat sosial media yang dipenuhi oleh kasus kematian dari artis tersebut. Tak jarang banyak sekali yang membuat berita hoaks di sosial media.


"Bukan kau pelakunya kan?" Hard yang sedari tadi membaca berita bertanya kepada tuannya.


"Kenapa kau mencurigai ku seperti itu? aku bukan orang ceroboh yang membunuh dengan jejak." Arwan meninggalkan Hard di ruangan sendirian.


"Semoga saja bukan engkau." Hard sangat malas membahas tentang pembunuhan, walau dirinya juga mesin pembunuh.


Arwan pulang Mansion untuk menenangkan pikirannya, dia sendiri juga bingung dengan pembunuhan tersebut. Sebenarnya apa motif dari pembunuhan ini? begitulah pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.


Sampai di Mansion, Dimas menatap Arwan seakan-akan bertanya tentang sesuatu.


"Aku tidak mengetahuinya!" Ucapnya sambil berjalan menuju kamar.


Dimas mencekal tangan ayahnya agar tidak pergi. "Tidak tahu? Atau kau sendiri pelakunya? Aku sudah tahu sikapmu itu ayah!"


Plak!


"Jangan berpikir karena kau anakku bisa seenaknya menyudutkan ku seperti ini. Aku memang pembunuh! Apa ada masalah dengan hal itu?" Ucap Arwan sambil menahan amarahnya.


"Jauhi Kiara! aku tak sudi jika Kiara dekat dengan orang sepertimu!" wajah Dimas memerah karena menahan amarah, dia ingin sekali membunuh ayah yang sangat kejam tersebut.


"Jauhi? Anakmu hanya Anira seorang. Kiara tak punya ayah kejam sepertimu!" Ucapnya sambil mempercepat langkah ke arah kamar.


Anira dan Anita dari tadi hanya diam mendengar percakapan tersebut. Mereka berdua sangat takut berbicara langsung dengan Arwan sekarang.


"Sudah mas, kita nggak boleh buat Papi marah." Anita menenangkan sang suami.


Dimas mengikuti istrinya ke kamar, mereka segera beristirahat agar bisa lebih tenang.

__ADS_1


Anira sejak semalam tak bisa tidur, dia terus memikirkan perhatian kecil yang Dimas berikan kepada Kiara. Anira begitu takut jika ayah angkatnya itu akan membuangnya setelah hubungan mereka membaik.


"Ayah sama bunda nggak boleh sayang sama Kiara! mereka harus tetap menyayangiku." Anira memikirkan cara agar bisa membuat hubungan orang tua dan anak itu renggang.


Namun sampai pagi tiba Anira tidak mendapatkan ide apa-apa. Pagi ini dia mencuci muka langsung pergi ke bawah untuk sarapan pagi.


"Sini nak!" Dimas memanggil Anira agar duduk disampingnya.


Hening. Tak ada satu kata pun yang terdengar dari mulut mereka, hanya dentingan sendok dan piring yang memenuhi ruangan. Hingga akhirnya Dimas bersuara.


"Ayah." Panggi Dimas dengan suara lembut.


Arwan hanya menoleh sekilas dan kembali memakan makanannya.


"Ayah! aku hanya ingin bertanya keberadaan Kiara. Aku rindu dengannya ayah." Dimas tak kuasa menahan air matanya yang sedari tadi ditahan.


Arwan meletakan sendok, kemudian langsung saja berjalan ke arah ruang tengah. Melihat hal itu Dimas berjalan dan langsung bersujud di bawah kaki Ayahnya.


"Aku benar-benar menyesal ayah! aku mohon..." Dimas benar-benar sudah menyesal sekarang.


Arwan mengangkat tubuh anaknya agar berhenti bersujud, dia memeluk tubuh anaknya untuk memberikan ketenangan.


"Apa kau benar-benar menyesal?" Tanya Arwan yang hanya di balas anggukan oleh Dimas.


"Baiklah! siang ini aku akan memesan pesawat agar kau bisa menemuinya." Ucap Arwan sambil mengutak-atik ponselnya.


"Aku juga mau ikut!"


Arwan menatap mereka dengan datar, "Boleh, asal jangan membuat masalah dengan Kiara. Aku sudah menepatkan beberapa pengawal yang akan mengawasi kalian."


****


Pulang dari skolah Kiara langsung mencari Ferdo untuk menanyakan sesuatu. Kiara khawatir dengan Ciao yang dinyatakan menghilang oleh pihak sekolah. Padahal beberapa hari yang lalu Ciao datang ke apartemennya dan berjalan bersama dengan Ferdo.


"Apa Ciao tidak menghubungimu? dia telah dinyatakan menghilang." Ucap Kiara sambil mengambil beberapa potongan kue.


Ferdo tersenyum tipis melihat tingkah Kiara, kemudian dia kembali dengan wajah datarnya, "Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya kepadaku?"


Kiara menghabiskan kue terlebih dahulu, kemudian menjawab pertanyaan Ferdo. "Karena kau yang terakhir laki bersamanya."


saat akan ke kamar Kiara berdiri untuk menghentikan Ferdo. Namun kakinya malah tersandung di kaki meja dan akhirnya terjatuh kembali.


Ferdo berbalik dan langsung menggendong Kiara ke kamar untuk mengobati lutut Kiara yang sedikit memar.


"Kenapa nggak hati-hati sih? Jadi gini kan." Omel Ferdo sambil mengobati dan sesekali meniup memar tersebut.


"Siapa suruh mejanya ada disitu! aku tak akan tersandung kalau mejanya tidak menghalangi jalan." Ucap Kiara yang tak mau di salahkan.


Ting!

__ADS_1


Tong!


Karena mendengar suara bel berbunyi, Ferdo minta izin untuk melihat siapa yang ada di depan rumah mereka. Kiara tidak diizinkan pergi melihat oleh Ferdo.


"Aku keluar sebentar, jangan kemana-mana." Ucap Ferdo sambil mendaratkan ciuman singkat di dahi Kiara.


Wajah Kiara memanas, tubuhnya seakan menginginkan hal itu lebih lama lagi. "I-iya."


Ferdo sangat bersyukur karena melihat sikap Kiara yang sedikit berubah dari hari ke hari. Dia merasa tengah mendapatkan kesempatan untuk membuat Kiara jatuh cinta kepadanya.


Clek!


"Kiara ada? saya mau bertemu dengannya." Tanya Dimas sambil berjalan ke ruang tengah.


"Kiara sakit, dia ada dikamar." Ucap Ferdo dingin tanpa ekspresi.


Anita, Anira dan Dimas masuk ke dalam Kamar Kiara untuk bertemu dengannya. Dimas begitu antusias dan sedikit sedih melihat Kiara yang terbaring di kamar.


"Nak!" Dimas sangat rindu dan merasa malu di depan Kiara. Namun, dia sangat ingin memeluk Kiara dan ingin meminta maaf.


"Kenapa sih?" Tanya Kiara sambil membuka matanya.


Mata Kiara membulat karena tahu siapa yang ada di depannya. Kiara tadi mengira bahwa Ferdo yang membangunkannya.


"A-ayah! kenapa ada disini?" Kiara yang tadinya terbaring segera bangkit dari kasur dan berdiri di hadapan Ayahnya.


Dimas tak bisa berkata-kata, lidahnya seakan kelu, matanya mulai berair. Dimas mengingat perlakuan buruknya kepada anak kandungnya sendiri. Dia bahkan sampai mengutuk dirinya sendiri.


"Lutut kamu kenapa memar?" Anita memperhatikan lutut Kiara yang terlihat membiru.


"Itu karena...," Ucap Kiara terhenti saat Anira memotong pembicaraan.


"Baru nikah berapa hari aja udah kena KDRT, apalagi nikah setahun." Ucap Anira sambil tersenyum miring.


Rasain! Aku akui suamimu itu tampan dan menawan, tetapi dia tidak lebih dari seorang preman. Semoga saja kau cepat mati karena telah menikahinya. Batin Anira.


Kiara yang mendengar perkataan Anira langsung mendekat kearah Ferdo yang sedang duduk di sofa kecil. Dia duduk diatas pangkuan Ferdo dan mencium bibir Ferdo dengan lembut.


"Sayang maaf ya. Aku tidak bermaksud membuat keluargaku membencimu."Ucap Kiara sambil mengedipkan sebelah matanya.


Ferdo tersenyum melihat tingkah Kiara yang terlihat imut di matanya. Ingin rasanya dia memakan istrinya ini."Kamu mau ku bawa ke rumah sakit?"


Dimas merasa tidak enak karena menggangu anaknya yang baru saja menikah itu. Dimas segera menghampiri Kiara dan merentangkan tangannya sebagai isyarat ingin di peluk.


Kiara yang mengerti langsung bangkit dan memeluk tubuh ayahnya yang lebih tinggi darinya. Kiara tidak perduli dengan perubahan sikap sang ayah yang secara tiba-tiba. Dia sangat senang karena bisa merasakan hangatnya pelukan ayah.


"Ayah pulang dulu ya, kamu jaga diri baik-baik. Ferdo, om titip Kiara." Ucap Dimas sambil menatap Ferdo.


Ferdo hanya menganggukkan kepala, dia sangat malas berbicara dengan orang yang asing.

__ADS_1


Setelah Dimas Anita dan Anira pergi, Kiara langsung saja memukul tubuh Ferdo karena tidak sengaja berciuman dengannya. Walau dia sendiri yang melakukannya, dia sangat kesal dengan Ferdo.


"Apalah dayaku, perempuan selalu benar." Ucap Ferdo pasrah.


__ADS_2