Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Terpuruk


__ADS_3

Semenjak kejadian itu Kiara menjadi depresi berat, bahkan beberapa dokter ahli jiwa belum ada yang mampu menyembuhkan depresinya.


Siang ini Ferdo menemani Kiara seperti biasa, dia tak pernah meninggalkan Kiara yang masih terpuruk tersebut. Dia tak pernah ada niat sedikitpun meninggalkan atau mencari wanita lain.


Ferdo menarik nafas dalam-dalam sambil mengingat kebersamaannya bersama orang tuanya. Hatinya sesak jika mengingat Kakek yang disayangi ternyata yang menjadi dalang dari kematian kedua orang tuanya.


Dirinya tak menyangka seseorang yang terlihat sangat baik itulah yang menjadi duri dalam kehidupannya. Dengan sekuat tenaga Ferdo berusaha untuk tidak menangis. Namun matanya seakan tidak mau bekerja sama.


"Aku harus kuat!" Batin Ferdo


Ferdo tidak mau menjadi lemah saat Kiara membutuhkan sosoknya untuk tempat bersandar. Dia tidak mau terlihat lemah di depan perempuan lemah yang ada di depannya.


Kiara melototkan matanya ke arah Ferdo, "PERGI! KAU SENANG AKU SEPERTI INI KAN? AKU MUAK MELIHAT WAJAHMU!" Kiara tidak bisa berfikir jernih ditengah keterpurukan ini.


"PERGI! JANGAN MENDEKAT!" Namun Bukannya pergi Ferdo malah mendekati Kiara.


Ferdo memeluk tubuh ramping itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri mengelus puncak kepala Kiara untuk memberikan penenangan. Ferdo berharap tindakan kecil ini bisa meredamkan emosi Kiara sesaat.


Sedangkan Kiara yang merasakan pelukan malah tambah emosi, dipukulnya tubuh Ferdo dengan sekuat tenaga. Dia menyalurkan segala emosi yang ada dengan memukul tubuh Ferdo.


Ferdo sendiri tak mempermasalahkan tubuhnya yang sakit karena ulah dari wanita yang dicintainya. Dia bahkan rela mengorbankan nyawanya jika hal itu bisa membuat Kiara seperti dulu.


"Aku rindu kamu yang galak." Hanya kata itu yang bisa diucapkan Ferdo. Untuk membisikan kata itu Ferdo harus mengumpulkan tenaga yang banyak.


Beberapa menit kemudian, Kiara mulai menutup matanya. Memang beberapa tahun ini Kiara mempunyai kebiasaan seperti itu. Setelah mengeluarkan Emosi dia akan mengantuk dan tertidur dengan posisi berdiri.


Seperti biasa Ferdo mengangkat tubuh Kiara kearah Kasur untuk membaringkan tubuh Kiara. Tak lupa dia mengelus kepala Kiara sejenak dan meninggalkan Kiara menuju ruangan dokter jiwa.


Pria tampan itu memasuki ruangan dan duduk mengarah ke Pria yang menggunakan jubah berwarna putih.


"Bagaimana kondisinya?" Ferdo langsung bertanya pada intinya.


Pria itu mengambil map merah, kemudian memandangi Ferdo. "Sejauh ini belum ada kemajuan dari Kiara. Biarkan waktu yang akan menyembuhkannya."


Brak!

__ADS_1


Ferdo memukuli meja dengan sekuat tenaga. Dia merasa sia-sia membawa Kiara ke rumah sakit yang sangat terkenal ini.


"Jika kau tidak puas, kau bisa mencari tempat lain." Ferdo tidak berkutik karena dia masih membutuhkan penanganan dari dokter tersebut.


Ferdo meninggalkan ruangan dengan sangat emosi. Dia sudah tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan Kiara. Walau harus mengeluarkan uang banyak dia rela asal Kiara bisa sembuh.


"Kakek!" Dari arah ruangan Ferdo mendengar Kiara memanggil-manggil kakeknya.


Ferdo mendekati ruangan dan membuka pintu ruangan. Dia mendapati Kiara yang sedang berbicara sendiri


"Maafkan Kiara ya kek, Kiara tidak ada disaat kakek sedang diserang. Kakek tidak akan meninggal jika saja aku datang membantu. Hiks...hiks... Kakek tidak boleh mati!" Kiara berbicara seolah-olah sedang berhadapan dengan Arwan Arkana.


Hati Ferdo sesak saat melihat Kiara yang berhalusinasi tentang kakeknya. Dia sudah tidak tahu dengan cara apa lagi menyembuhkan depresi Kiara.


"Kiara!" Walau sedih Ferdo berusaha memanggil Kiara.


Kiara menoleh dan berlari ke arah Ferdo. Tubuhnya perlahan mendekat dan memeluk Ferdo. "Kakek tadi datang menemui ku, dia terlihat sangat sedih. A-aku sangat senang." Walau suaranya sedikit lambat, Ferdo masih bisa memahami apa yang dikatakan Kiara.


"Harus dengan cara apa lagi biar kau sembuh." Gumam Ferdo yang masih bisa di dengar oleh Indra pendengaran Kiara.


"Aku tidak Depresi!"


"Sudah beberapa kali aku bilang kalau aku tidak sakit, aku baik-baik saja." Ucapnya dengan nada yang melunak.


Ferdo menatap lekat matanya kemudian berkata, "Semoga saja apa yang kau katakan akan menjadi kenyataan."


Ferdo duduk di salah satu sudut ruangan sambil menyandarkan tubuhnya. Dia sudah hampir mau menyerah karena keadaan Kiara yang belum ada kemajuan beberapa tahun ini.


"Aku harus gimana?" Ucapnya sambil menarik-narik rambutnya.


Tiba-tiba ada tangan putih menyentuh tangannya, Ferdo mengendarakan pandangan ke atas sambil tersenyum." Maafkan aku karena telah membuatmu repot. Jika kamu lelah, pergilah."


Perkataan Kiara membuat hatinya berdesir, tidak seharusnya dia menyerah. Ferdo tidak berkata apa-apa dia hanya duduk terdiam.


Keesokan harinya, Ferdo terlihat sangat terkejut karena tidak mendapati Kiara di dalam ruangan. Dia mencoba untuk tenang sambil mencari keadaan Kiara di semua tempat yang ada di rumah sakit ini.

__ADS_1


"Ternyata dia keluar dari rumah sakit ini." Ucap Ferdo saat dirinya melihat rekaman CCTV.


Segera Ferdo pergi ke arah garasi mobil untuk mencari keadaan Kiara. Tak lupa juga dia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Kiara.


"Kamu kemana sih?" Ucapnya sambil menyetir mobil.


Ferdo turun dari mobil saat dirinya melewati keramaian. Dia mengambil foto Kiara untuk diperlihatkan kepada mereka.


"Misi, saya mau bertanya. Apakah kalian melihat wanita dalam foto ini?" Tanya Ferdo sambil memperlihatkan foto Kiara.


setiap orang yang ditanyai hanya menggelengkan kepala. Kemudian Ferdo kembali memasuki mobil dan melanjutkan perjalanannya.


sudah beberapa jam namun tak ada hasilnya. Alhasil Ferdo berhenti di salah satu taman untuk beristirahat sejenak.


Dia juga menghubungi anak buahnya namun mereka juga belum menemukan dimana keberadaan Kiara. Ferdo duduk di kursi taman sambil meneguk air Aqua yang baru saja dibeli.


Sementara itu Kiara berjalan tak tau arah dengan menggunakan pakaian khas rumah sakit. Kiara berjalan sambil berteriak-teriak memanggil sang kakek.


"Kakek!" Kiara menghampiri seorang kakek-kakek yang tengah duduk menunggu angkot.


Seketika kerumunan orang yang ikut duduk menunggu langsung menjauhi dan memaki Kiara.


"SIALAN! PERGI KAU DARI SINI! DASAR GILA."


Begitulah makian yang diterima Kiara saat dirinya memeluk kakek tua. Apa yang dilihat Kiara sangat berbeda dengan apa yang mereka lihat. Kiara melihat Kakek itu sebagai kakeknya, sedangkan mereka tidak.


"Aku bukan orang gila! aku masih waras!" Bantahnya dengan suara keras.


Kiara beralih memandangi kakek itu, kemudian memegangi tangannya. "Kakek jangan pergi dari aku lagi yah, aku sayang kakek. Aku bakal jadi cucu yang baik kalau kakek tidak pergi lagi."


"Menjauh dari kakekku dasar gila!" Seseorang yang hampir sebaya dengan Kiara mendorong Kiara agar menjauhi kakeknya.


"Jangan jauhin aku dari kakek!" Kiara berusaha berdiri dan kembali mendekati pria paruh baya tersebut.


Bruk!

__ADS_1


Lagi-lagi Kiara didorong oleh wanita tersebut hingga tubuhnya terasa sangat sakit.


"Jangan sakiti wanitaku!" Ucap Pria tampan yang baru saja tiba ditempat itu.


__ADS_2