
Kiara baru saja akan keluar rumah terkejut dengan kedatangan Ciao. Ferdo segera keluar dan pergi bersama Ciao menggunakan mobil.
Mata Kiara memanas saat tangan putih Ciao menggenggam tangan Ferdo. Kiara segera menetralkan emosinya. "Ada apa denganku? kalau dia mau dekat dengan siapapun itu kan terserah dia, kenapa aku harus marah? Dasar!"
Kiara berjalan kaki menuju sekolah seraya menendang botol minuman seakan-akan sedang bermain sepak bola. Tak beberapa saat, panah tajam hampir saja mengenai perutnya.
Kiara mengambil panah itu, dia membuka surat dan membacanya. Kiara tak bisa menangkap maksud dari surat tersebut.
"Bersiap? bersiap untuk apa? mengapa mereka memanggilku tuan?" Kiara merobek kertas itu sambil melirik sekitar.
Kiara melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Kiara berjalan seraya memutar lagu sial dan mendengarkannya menggunakan earphone.
Disisi lain, Ferdo tersenyum tipis sambil memperhatikan ponsel yang menunjukan tempat Kiara. Yah, Ferdo memasang pelacak di ponsel Kiara agar dia mudah mengawasi Kiara.
Ferdo duduk di sebuah Halte untuk menunggu kedatangan bis yang akan dinaikinya. Ferdo menelpon seseorang untuk diperintah.
"Bereskan semuanya! Aku tak mau ada jejak." Tanpa menunggu persetujuan, Ferdo langsung memutuskan telpon secara sepihak.
Ferdo risih dengan seorang nenek-nenek yang sedari tadi terus memandangnya seperti mau mengatakan sesuatu.
Ferdo memberanikan diri menyapa duluan, "Ada apa nek? Apa ingin kau katakan?"
Nenek itu mengambil sebuah benda yang terlihat kusam dari dalam tas mewah tersebut. Kemudian, nenek itu meminta foto istrinya.
"Apa kau tidak penasaran dengan kisah cintamu?" Ucap nenek itu sambil menarik bulu yang ada di tangan pemuda itu.
Tanpa berpikir panjang, nenek itu langsung saja menutup mata dan meletakan bulu itu pada tangannya.
"Berhati-hatilah! Kelak kau akan kehilangan dia saat kau dikuasai amarah." Setelah mengatakan itu, nenek tersebut langsung saja menghilang seperti di telan bumi.
Ferdo tak memikirkan apa yang dikatakan oleh nenek tersebut, dia menganggapnya sebagai angin lewat saja.
******
__ADS_1
Seseorang berpakaian hitam saat ini mengendap-ngendap masuk ke Mansion milik Riri yang dijaga ketat. Pemuda tersebut sangat mudah melewati pertahanan yang ada di Mansion tersebut.
Pemuda itu memakai pakaian pengawal dan memberikan sebuah kotak kepada Xavir untuk diberikan kepada Riri.
"Maaf tuan, ini ada hadiah dari seseorang untuk nyoya Riri." Ucapnya seraya memberikan kotak hadiah.
Kotak hadiah itu dilapisi oleh kertas emas dan berbagai berlian warna-warni yang digunakan sebagai hiasan utama. Luarnya saja sudah mewah, apalagi dalamnya. Begitulah yang ada di benak Xavir saat melihat kotak hadiah tersebut.
Pemuda itu menatap Xavir seraya tersenyum miring, "Semoga kau menyukainya nyonya."
Saat pulang pemuda tersebut tidak memakai pakaian hitam, melainkan pakaian pengawal agar tidak perlu mengendap-ngendap seperti tadi.
Pemuda itu tersenyum bahagia sambil mengeluarkan uang dari sakunya, "Kalian mau makan apa? aku disuruh membeli makanan untuk kalian."
Salah satu bodyguard menatap Pemuda itu dengan tatapan heran, dia merasa bahwa tidak ada pengawal yang setampan dirinya di Mansion ini.
Bodyguard berbadan kekar bertanya kepada pemuda itu, "Kenapa kau terlihat kesal sekarang? bukankah kau tadi senang?"
"Aku kesal karena disuruh memberikan kalian makanan. Kalian ini sudah besar, jadi kalian bisa membelinya sendiri. Kenapa juga harus menyuruhku?" Pemuda itu memanyunkan bibirnya, matanya menyipit, dan dahinya berkerut. Dia seperti sedang marah sungguhan.
Pemuda itu berjalan melewati mereka sambil mempertahankan ekspresi wajahnya, dia juga sesekali berhenti dan menghentakkan kakinya.
"Tunggu!" Rupanya Ruby tak bisa mengelabui salah satu bodyguard di sini.
"Ada apa lagi kawan? biarkan dia pergi membelikan kita makanan."Ucap bodyguard yang tubuhnya agak besar.
Dengan berat hati bodyguard tadi mengizinkan Ruby pergi dari Mansion ini. Bodyguard yang terlihat agak kurus itu seperti dejavu dengan suasana tadi. Namun dia segera menepis perasaan itu.
Ruby akhirnya bisa bernafas lega, dia pikir akan lebih mudah keluar jika sudah menyamar. Namun, nyatanya tidak. Ruby lebih baik mengendap-ngendap seperti tadi dari pada melakukan penyamaran.
Baru melihat hiasan hadiah saja dia sudah memastikan bahwa isi dari hadiah pastilah sesuatu yang tidak bagus. Kenapa? Karena sesuatu yang indah dari luar belum tentu dalamnya juga indah.
Riri menarik nafas panjang, hatinya tidak tenang membuka kotak tersebut. Setelah mempertimbangkannya, Riri akhirnya membuka kota tersebut. Isi dari kotak hadiah itu adalah sebuah kamera dan dompet kecil.
__ADS_1
"Kamera? untuk apa?" Riri menyalahkan kamera dan mulai melihat berbagai foto dan video penyiksaan seorang wanita tua.
Riri terjatuh, matanya membulat, tangannya bergetar, dan dadanya berpacu lebih cepat. Riri sangat terkejut sekaligus sedih melihat foto dan Vidio yang ada di kamera tersebut. Bahkan kini air matanya keluar.
"Apa lagi ini?" Karena penasaran Riri membuka dompet.
Riri seketika pingsan saat melihat isi dari dompet. Dia sangat syok karena hadiah buruk yang di dapatnya.
Xavir yang dari tadi berada di balik pintu merasa heran dengan Bundanya yang dari tadi tidak bersuara sama sekali. Xavir tahu kebiasaan Riri saat menerima hadiah seperti apa, jadi dia ingin mendengar apakah bundanya akan sangat bahagia menerima hadiah tadi.
"Kenapa nggak ada suara?" Ucap Xavir seraya menempelkan daun telinga di pintu kamar.
Karena merasa ada yang janggal, Xavir membuka pintu kamar. Dia mendapati Riri yang sedang terbaring dengan memegangi sebuah jari kelingking yang masih berlumuran darah.
"Bunda kenapa?" Xavir sangat panik melihat bundanya yang sudah tidak sadarkan diri.
Xavir menidurkan Riri di kasur, kemudian dia menelpon dokter untuk menangani bundanya. Xavir melihat kotak hadiah tadi. Terdapat surat di kotak tersebut.
"Surat apa ini?" Xavir mengambil surat itu dan membaca isinya.
"Permulaan? Apa maksudnya?" Xavir tidak mengerti dengan isi surat.
Clek!
Pria tua berpakaian jas putih itu memasuki kamar dengan menenteng tas yang berisi berbagai peralatan medis. Dokter itu segera memeriksa keadaan Riri.
"Dia pingsan karena terlalu syok. Saya menyarankan agar anda menjaga mental Bu Riri agar dia tidak syok lagi." Ucap dokter seraya merapikan tas dan mengeluarkan obat. "Berikan kepada Bu Riri untuk menjaga kesehatan jantungnya." Lanjutnya
Xavir tertunduk melihat kondisi bundanya, dia sangat benci dengan orang yang memberikan hadiah tersebut kepada Riri.
Xavir mengepal tangannya keras, sehingga melukai tangannya sendiri. "Aku akan mencari mu sampai ke liang lahat kalau bunda sampai kenapa-kenapa."
Xavir membuang kamera tersebut dan membakarnya. Sedangkan jari yang ada dalam dompet di simpan dalam sebuah kotak perhiasan.
__ADS_1
Setelah itu, Xavir mengecek CCTV di Mansion untuk mencari tahu wajah dari pemuda yang memberikan hadiah itu kepadanya. Xavir tadi tidak memperhatikan wajah pemuda tersebut karena kagum dengan kotak hadiah. Dari sini Xavir belajar bahwa yang terlihat indah dari luar itu kadang bisa berbahaya.