Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 11, selingkuh?


__ADS_3

"mana sih Ra nggak keluar-keluar tuh pacar mu?. terlalu overthinking sih kamu." pria di dalam mobil yang tampak mengawasi kawasan restoran mewah di pusat ibu kota itu mulai menggerutu saat target penyelidikan dadakan tak kunjung muncul.


"aku yakin banget ka, aku nggak sengaja baca chat mereka berdua mau ketemuan di restoran ini. cih, aku aja nggak pernah di ajak ke restoran mewah seperti ini selama pacaran." dara mendengus kesal.


"yakin? tau-tau bukan selingkuhan nya malah klien nya." menyeruput gelas ketiga es kopi, Dika masih mencoba menenangkan sahabat nya sejak kecil itu.


"chat nya aja mesra banget ka seperti bukan antara rekan kerja atau klien. lagian beberapa Minggu ini dia selalu cuek dan jarang ada waktu buat aku. pasti dia lagi sama cewek ini." mengepalkan tangan erat, mata dara membelalak saat melihat mobil yang tidak asing berhenti di pelataran restoran.


"itu dia!" dara yang mau turun dari mobil lantas di cekal oleh Dika.


"sabar Ra, tunggu dia masuk dulu. kalau jarak kita terlalu dekat bisa-bisa ketahuan!" Dika menggelengkan kepala.


dara menurut, mengawasi gerak gerik pacarnya dari dalam mobil tak jauh dari tempat Rendi memarkir mobil nya.


mulai berjalan cepat mengikuti Rendi yang sudah masuk kedalam restoran, mengendap-endap agar tidak ketahuan.


Dika dan dara segera sembunyi saat Rendi merasa ada yang aneh dan menengok ke belakang. celingak-celinguk dan tidak mendapati apapun akhirnya Rendi mengabaikan. dara bernafas lega saat Rendi tak melihat nya.


"jangan gegabah Ra, ingat kalian pacaran sudah 3 tahun. sayangkan kalau rusak cuma karena rasa cemburu mu yang tidak beralasan." Dika masih mencoba menghentikan hal gila yang akan di sahabatnya itu. sangat mengetahui sifat dara yang tidak bisa mengontrol emosi, Dika khawatir sahabatnya itu akan membuat keributan.


"bukan masalah 3 tahun nya, yang namanya selingkuh tetap saja selingkuh. awas saja, kalau mereka beneran selingkuh ku semprot air cabe iblis!"


"cabe iblis?" Dika mengekerutkan kening.


"iya Dika! kalau biasanya cabe setan, ini jadi cabe iblis biar lebih panas membara!"


"terserah kamu saja lah. lihat itu Rendy datang." Dika menunjuk meja disalah satu sudut ruangan, duduk perempuan cantik sedang menunggu kedatangan Rendy.


"beraninya mereka berciuman di belakang ku!" sungut dara, dia mendengus saat tangan nya di tarik Dika.

__ADS_1


"apasih ka!" protes dara.


"itu bukan ciuman, hanya cipika cipiki. masih normal Ra." jelas Dika, meminta dara untuk bersabar.


"cipika cipiki apa'an! nggak ada." dara yang diliputi cemburu bercampur emosi berjalan cepat ke arah Rendy dengan mengepalkan kedua tangan siap meninju lawan.


"dara!" panggil Dika pada sahabat nya yang tak mau mendengarkan.


memilih mengawasi dari tempat nya sembunyi, Dika menepuk jidat melihat tingkah dara yang seperti monster sedang marah.


"nggak tahu malu! dari nol aku nemenin kamu dan sekarang kamu selingkuh. kerjaan aku yang nyariin, bensin dan segala nya aku yang biayain. berani berani nya! dasar brengsek! sialan!"


dara meraih gelas berisi jus dan mau menyiramkan nya pada Rendy tapi tidak berhasil karena Rendy menahan nya.


"kamu kenapa dar? jangan seperti ini. malu dilihat orang!" seru Rendy dengan suara tertahan, menaruh gelas di atas meja.


"dia bukan selingkuhan aku, kita disini mau meeting dar. kamu ingat kan beberapa hari yang lalu aku bilang ke kamu kalau akan ada investor. nah itu hari ini." Rendy menjelaskan dengan sangat lembut, melawan dara dengan emosi hanya percuma. gadis itu akan semakin menjadi-jadi amarah nya.


"bohong! kenyataan nya tadi aku lihat kalian ciuman pipi." sungut dara, menghapus kasar air mata yang jatuh tanpa permisi.


"dengerin aku, dengerin aku dulu." Rendy memegang tangan dara saat gadis itu memukul dada nya.


Dengan nafas sesenggukan, dara terdiam mendengarkan ucapan Rendy.


"ini Bu Widya, dia yang akan berinvestasi di kantor aku. kita nggak cuma berdua, ada yang lain juga tapi mereka belum datang." dengan sangat lembut, Rendy menjelaskan. "nah itu mereka datang." Rendy menunjuk 3 orang yang baru saja masuk ke dalam restoran.


dengan menunduk, dara menatap Widya. "saya minta maaf Bu Widya, telah membuat keributan disini dan membuat malu ibu. ini murni kesalahan saya karena cemburu. tolong jangan batalkan Investasi untuk kantor Rendy." dara membungkukan badan nya.


"sudah, tidak apa-apa. saya paham diposisi kamu. mungkin kalian kurang komunikasi karena Rendy terlalu sibuk. saya juga bukan orang yang mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. jadi kamu tidak perlu khawatir, saya tetap akan berinvestasi. tenang saja, saya akan mengawasi Rendy jika dia berani macam-macam." ucap Widya tulus, tersenyum hangat pada dara. widya seperti melihat dirinya yang dulu di diri dara.

__ADS_1


"terimakasih, terimakasih." dara kembali membungkukan badan.


3 orang yang baru datang tadi hanya menyimak tanpa tahu apa yang terjadi.


"baiklah, saya izin permisi dulu mau mengantar dara sebentar Bu." ucap Rendy.


"silahkan, selesaikan dengan kepala dingin." ucap Widya menasehati.


***


"maaf" dara menunduk sedih, jemarinya saling mengait. "karena aku, semua nya jadi malu."


"sstt, nggak apa-apa. aku ngerti kok, maaf ya kalau akhir-akhir ini aku jarang ada waktu. aku janji setelah masalah investasi selesai, kita jalan-jalan. traveling ke Bandung. gimana?" Rendy meraih rambut dara yang bergelombang terkena angin dan menyembunyikan nya dibelakang telinga.


mata dara memanas, air mata yang sejak tadi sudah berhenti kini mengalir lagi. menghambur kedalam pelukan Rendy, gadis itu menumpahkan tangisnya.


bagaimana bisa ia yang sudah menghancurkan meeting dan menuduh Rendy selingkuh itu masih mau memaafkan dan tidak memarahinya. cara menenangkan Rendy meluluhkan hati dara yang sekeras batu.


"maafin aku, aku salah." ucapnya disela isakan.


"i'ts okay sayang." Rendy mencium kepala dara, menenangkan sang kekasih yang masih terisak.


Dika yang berada tak jauh dari tempat dara dan Rendy hanya bisa mengamati dengan tatapan sendu. memalingkan wajah dan berjalan memasuki mobil nya, Dika mengusap wajahnya kasar.


menelungkup kan kepala nya pada kemudi berusaha tidak melihat ke arah yang membuat nya sakit, tapi hatinya tergelitik dan tetap memandang ke arah dara yang sedang dipeluk Rendy.


"ahh sialan! apa aku salah kalau bahagia diatas tangisan mu Ra?. apa aku salah jika perasaan ini harus melebihi rasa sayang pada sahabat?." gumam Dika, segera menutup matanya saat melihat Rendy mencium dara.


"gila kamu ka, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa memiliki dara." ucap Dika tersenyum getir, teringat dengan janjinya pada dara saat mereka SMA dulu.

__ADS_1


__ADS_2