Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 18. berakhir.


__ADS_3

di dalam ruangan manager kini ditempati 3 orang yang saling pandang. 2 orang menatap satu orang itu dengan tatapan tajam.


"pak Edi kemarin nggak masuk kerja kenapa?" tanya Reyhan, raut wajahnya berubah santai.


"maaf pa Rey saya sedang nggak enak badan, badan saya menggigil." jawab pak Edi takut-takut.


"mau mas yang tanya atau Adek saja?" Reyhan menatap istrinya yang diam dengan kedua tangan terlipat di dada.


"waduh, nanya apa ya pak, mbak?" pak Edi meneliti dua orang di depan nya, rasanya seperti di interogasi.


"pak Edi nggak usah gugup gitu, pertanyaan ini nggak bakal membahayakan pekerjaan pak Edi kok. tapi janji sama saya jawab dengan sejujur jujurnya ya."ucap Risha tersenyum.


pak Edi bernafas lega setidaknya ia tidak akan menjadi pengangguran. "pertanyaan apa ya mba Risha?"


"jadi gini pak, waktu kemarin mas Rey mengantar Safira ke rumah sakit apa pak Edi ikut juga?" tanya Risha, memulai interogasinya.


"benar mba, kata pak Reyhan biar nggak jadi fitnah dan omongan negatif orang."jawab pak Edi jujur.


Risha mengangguk, melirik Reyhan yang tersenyum hangat padanya.


"ini pertanyaan terakhir pak, dan ini adalah pertanyaan yang paling penting. menyangkut keharmonisan rumah tangga saya dan mas Rey."jelas Risha serius.


pak Edi mengernyit apa hubungan nya dengan keharmonisan rumah tangga atasan nya.


"apa saat menunggu di depan UGD Safira duluan yang memeluk mas Rey atau sebaliknya mas Rey yang berinisiatif menenangkan Safira dengan memeluknya?"


deg


deg


deg


ruangan manager pemasaran berubah mencekam, Risha yang serius menunggu jawaban pak Edi sesekali melirik ke arah Reyhan yang harap-harap cemas.


"kalau soal itu..." pak Edi menjeda sebentar, meneliti wajah dua orang yang tampak serius sekali.


"Safira duluan yang memeluk pak Reyhan, lalu pak Reyhan terkejut dan mendorong Safira ke arah saya. saya sudah pasti sigap menangkap Safira agar tidak jatuh ke lantai. karena hal itu saya tidak masuk kerja kemarin, entah kenapa setelah adegan romantis saya dengan Safira badan saya jadi menggigil dan susah untuk tidur. saya teringat terus dengan tatapan Safira pada saya." jelas duda 2 anak itu. pak Edi senyum-senyum sendiri memikirkan kejadian yang menurutnya sangat membahagiakan itu.


sedangkan Reyhan dan Risha ternganga tak percaya mendengar penuturan pak Edi yang notabenenya adalah pria yang sudah berumur kepala 4 tapi ternyata menyukai Safira yang umurnya jauh di bawah nya.

__ADS_1


"pak Edi jatuh cinta sama Safira?" tanya bintang pada pria di depan nya.


pak Edi mengangguk malu-malu.


"syukurlah." Risha bernafas lega, sedang kan Reyhan tersenyum senang.


"yes" gumam nya sangat pelan sambil mengepalkan tangan.


"terimakasih atas waktunya pak Edi, pak Edi boleh keluar sekarang."ucap Reyhan.


pak Edi dengan wajah bingung pun keluar ruangan. sedangkan Risha dan Reyhan yang kini tinggal berdua saling menatap.


"Adek minta maaf ya mas kalau sudah menuduh mas macam-macam." ucap Risha menunduk.


"nggak apa-apa dek, mas sudah memaafkan." Reyhan tersenyum, pria itu mendekati istrinya.


"ya sudah, Adek kembali ke kerja dulu."


"tunggu!"


Reyhan mencegah Risha yang sudah mau membuka pintu, kini Reyhan mengunci Risha di antara tangan nya.


"cukup mas, ini dikantor." Risha menahan tangan Reyhan yang hendak membuka kancing bajunya.


bahu Reyhan melemah, menyandarkan kepala nya di bahu sang istri dengan lemas.


"sabar ya mas." Risha menenangkan sang suami yang sempat hilang kendali.


***


menikmati semilir angin kota dimalam hari memang tak ada duanya, di manapun tempat nya semua terasa menenangkan jiwa. menyusuri setiap jalanan menuju cafe nya, mata Soni tak sengaja menangkap sosok bidadari cantik yang sedang gelisah dengan hp di tangan. senyum manis menghiasi bibir duda anak satu itu saat menyadari siapa gerangan wanita cantik yang sedang celingak celinguk di pinggir jalan.


"Sinta?"


Sinta yang tengah berusaha memesan ojek online lewat hp menoleh saat namanya dipanggil.


"Soni"


"kamu baru pulang?" tanya Soni, hati nya tengah berbunga sekarang.

__ADS_1


"iya."jawab Sinta singkat, ia kembali menggerutu kesal saat tak kunjung mendapat driver yang dekat dengan lokasinya.


"mau aku antar?" tanya Soni, menatap Sinta yang mengernyit. "kalau nggak mau juga nggak apa-apa, aku nggak maksa."


"sudah malam seperti ini sendirian pula, janda cantik seperti kamu banyak yang mau tahu." ujar Soni melirik ke sekeliling jalanan.


"ini kan bukan Jakarta, lebih aman disini tahu!" balas Sinta tak mau kalah.


"ya sudah kalau begitu, aku sih nggak masalah ya. niatku kan cuma baik mau menawarkan ka..."


"aku mau!,ayo antar aku pulang." potong Sinta, dengan cepat memasukan ponsel nya ke dalam tas.


Soni tersenyum penuh kemenangan, pria itu mengusap jok belakang nya sebelum dinaiki Sinta.


angin berhembus meniup kulit, memberi kesejukan dan ketenangan pada sepasang mantan suami istri. menikmati malam kota Semarang yang penuh dengan kenangan saat pacaran dulu.


"10 tahun yang lalu daerah sini masih sepi, sekarang sudah berubah ya sin." Soni membuka pembicaraan setelah sekian menit tidak ada suara diantara mereka.


"dulu banyak yang balapan motor disini ya, kita yang hanya sekedar lewat malah ketakutan. alhasil masuk diperumahan orang lain." Soni tergelak pelan, melirik wanita cantik dikursi penumpang.


"dulu kenapa kita takut ya, padahal kan kita nggak salah." imbuh Soni.


"kamu sih pakai meneriaki mereka segala, berakhir kita dikejar." Sinta menghela nafas pelan, ingatan nya kembali ke masa 10 tahun yang lalu saat mereka masih pacaran.


Soni tergelak keras."memang benar kan, mereka itu nggak ada kerjaan. menguasai jalan sesuka hati mereka."


"sudahlah." ujar Sinta. "masa lalu biarkan saja ditempat nya, dengan begitu .." Sinta tak melanjutkan ucapan nya saat matanya menangkap tempat yang sering ia kunjungi dulu bersama Soni.


"kenapa, teringat masa lalu?" sindir Soni, ia mengikuti arah mata Sinta memandang.


jalanan menanjak dan menampilkan pemandangan perumahan yang berjejer dihiasi lampu di setiap bangunan nya.


"ng-nggak." jawab Sinta gugup, tidak mau ketahuan kalau saat ini pikiran nya sedang berwisata ke masa lalu.


Soni tersenyum, meraih tangan Sinta dan memasukkan nya ke saku jaket nya.


Sinta tersentak menatap tangan nya yang sudah masuk ke dalam saku jaket Soni. ada perasaan yang berbeda, rasa yang dulu hilang entah kenapa muncul kembali.


Soni menahan tangan Sinta yang mau ditarik. "biarkan saja seperti ini, dingin."

__ADS_1


__ADS_2