Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 29.


__ADS_3

"aku langsung pulang dan naik mobil dengan kecepatan tinggi karena khawatir sama kamu. saat pulang kerumah aku nemuin kamu dengan kondisi yang baik-baik saja dan kamu dengan santai nya nyalahin aku karena aku ngga baca pesan mu lagi?"


habis sudah kesabaran Reyhan, dari pagi selalu terganggu dengan pesan spam istrinya dan sekarang dia merasa di prank.


"mas aku niat nya hanya becanda, aku ngga tau kalau respon mas bakal kaya gini." jawab Risha takut-takut.


"memang nya kamu mengharapkan responku yang seperti apa hah?" bentak Reyhan kesal.


"maaf." Risha menunduk, menyesali perbuatannya.


Reyhan menghela nafas kasar, melempar hp nya dengan kasar diatas kasur lalu duduk di tempat tidur.


"kak Rahma kemana?" tanya Reyhan.


"beli makanan, sebentar lagi juga pulang." jawab Risha, masih dengan posisi yang sama berdiri menunduk membelakangi kasur yang otomatis membelakangi suaminya juga.


Risha menoleh melihat suaminya yang sedang melepas jas dan mengendurkan dasi nya.


"marah nya di tahan dulu ya mas, ngga enak dilihat kak Rahma." pinta Risha, melihat jendela kamar nya. terdengar suara motor di depan rumah nya. itu pasti Rahma.


benar saja tak lama Rahma memanggil adik nya, Risha buru-buru keluar menemui kakak nya.


"sudah dapat kak ketoprak nya?" tanya Risha, berusaha bersikap biasa saja agar rahma tak curiga.


"ada nih, aku beliin cilok juga." jawab Rahma, mengeluarkan sebungkus ketoprak dari dalam plastik.


Risha menatap penuh damba melihat semua makanan yang di bawa Rahma, tidak hanya ketoprak dan cilok bahkan ada kue pukis dan onde-onde juga.


"itu mobil Reyhan diluar, dia pulang?" tanya Rahma menunjuk mobil Reyhan yang berada di luar pagar.


"iya kak, katanya khawatir dan ngga fokus kerja. jadi pulang saja, rapat nya juga sudah selesai." jawab Risha tersenyum.


"oh kebetulan sekali, tiba-tiba suamiku nih ngajak kerumah orang tua nya. jadi ngga apa-apa kan kalau kakak tinggal?" tanya Rahma.


Risha menggeleng.


"ya Allah dek, kamu sudah ngga sabar makan ini semua?" Rahma tertawa geli melihat tatapan Risha pada makanan yang ia beli diatas meja.

__ADS_1


"iya kak hehe."


"yasudah nanti dimakan semua ya, kakak pulang dulu. nyiapin bocil-bocil membutuhkan waktu dan tenaga extra." Rahma berapi-api.


"iya kak hati-hati ya."


setelah mengantar Rahma pulang sampai depan pagar, Risha kembali masuk kedalam rumah. membawa semua makanan itu ke meja makan. menyiapkan sebungkus ketoprak yang menghantui nya sejak pagi.


Risha menoleh ke arah kamar nya. "mas Rey tawarin ngga ya, tapi dia sedang marah. daripada buat dia tambah marah mending ngga usah deh."


Risha menikmati ketoprak dengan tenang, makanan yang sejak pagi menari-nari di pikiran nya kini berada di depan mata. ia tak mau memikirkan apapun saat menikmati makanan ini.


Risha menoleh saat pintu kamar terdengar terbuka, takut-takut ia makan dengan menunduk.


Reyhan yang melihat Risha sedang makan lantas menghampirinya.


"lagi makan apa dek?" tanya Reyhan lembut, ia merasa bersalah sudah memarahi istrinya tadi apalagi ia sempat membentak Risha.


duduk di samping istrinya, Reyhan bisa melihat dengan jelas wajah ketakutan istrinya. hatinya terasa sakit melihat itu.


"mas ngga di tawarin?" Reyhan mencoba mencairkan suasana.


"mas mau?" tawar Risha, mengangkat pandangan menatap suaminya.


Reyhan menggeleng, ia menarik pelan piring berisi ketoprak itu ke hadapan nya.


"mas suapin ya." Reyhan menyendokan makanan itu lalu menyuapi istrinya.


"maafin mas dek, tadi mas terlampau panik sama kalian berdua." ucap Reyhan tulus.


"ngga apa-apa mas, kan Adek juga yang salah becanda nya ngga tahu waktu. mas pasti keganggu sama pesan Adek ya."


"ngga kok, mas tadi hanya khawatir takut terjadi apa-apa sama kalian." Reyhan mengusap lembut pipi istrinya, kemudian tangan nya beralih mengusap lembut perut rata istrinya.


"kenapa nangis?" Reyhan mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipi istrinya.


"mas jangan marah-marah kayak tadi ya. Adek takut." pinta Risha.

__ADS_1


"iya." Reyhan memeluk istrinya, mencium beberapa kali pucuk kepala istrinya.


...****************...


Sinta sedang bersama Soni dan Ciko jalan-jalan di taman, kedua pasangan yang sudah berpisah itu selalu berusaha membahagiakan sang anak.


"mama aku main kesitu ya." Ciko, bocah kecil itu izin pada mama nya.


"ya sayang, jangan jauh-jauh ya. dia itu saja. mama dan papa duduk disini." ujar Sinta.


Ciko dengan senyum merekah mengangguk, berlari ke arah prosotan yang di khususkan untuk anak-anak.


Soni menatap Sinta, pria itu tersenyum melihat mantan istrinya yang bertambah cantik saja.


"aku perhatikan, sejak kita berpisah kamu makin cantik aja sin." puji Soni, ia bisa melihat wajah memerah Sinta yang menahan malu.


"apa memang hukum alam nya seperti itu, wanita akan terlihat lebih cantik jika berpisah dengan pasangan nya." imbuh Soni.


"apasih son, perasaan mu saja. aku kan harus menjaga penampilan agar.."


"agar Ciko cepat mendapat ayah baru?" potong Soni.


"bukan, ini hanya bentuk mencintai diri sendiri saja." jawab Sinta, merasa tidak enak.


"benarkah?, waktu masih bersama ku, kamu tidak secantik sekarang. apa kamu tidak bahagia bersama ku dulu?" tanya Soni penasaran.


kata orang jika istrimu setelah menikah terlihat cantik, berarti kamu berhasil menjadi suami yang baik untuk nya. begitupun sebaliknya, jika istrimu terlihat jelek padahal sebelum menikah dia cantik berarti kamu gagal menjadi suami yang baik.


"jangan membahas yang sudah berlalu, dulu dan sekarang itu sangat berbeda. tidak ada gunanya membandingkan, lebih baik fokus pada masa depan. jalani hari dengan penuh syukur." Sinta menatap putra nya yang masih asik bermain.


baginya dulu dan sekarang sangat lah berbeda, dia tidak mau menatap masa kelam itu lagi. semenjak pengakuan melodi tempo hari, Sinta mencoba berdamai dengan diri sendiri. lebih terbuka dan menerima Soni yang kadang bertamu ke rumah nya untuk bertemu atau sekedar mengajak jalan-jalan Ciko. jika senggang seperti sekarang, Sinta biasanya juga ikut.


Soni terdiam, menatap ke arah yang sama. tak terasa putra semata wayangnya sudah beranjak besar. tumbuh menjadi anak yang pintar dan penurut walau tanpa figur sosok ayah karena dulu Soni masih bekerja di ibukota.


menetap dan memilih membuka usaha di kota S yang sama dengan sang mantan istri, Soni masih berusaha memperbaiki keadaan. berusaha merebut hati Sinta kembali.


Beberapa tahun ini Soni tidak pernah sekalipun mendekati wanita lain. hatinya masih bertaut pada Sinta sang mantan istri. apalagi Ciko ada ditengah-tengah antara dia dan Sinta. itu membuat Soni tidak ingin menikah lagi jika bukan dengan Sinta.

__ADS_1


__ADS_2