
sesuai kesepakatan yang sudah dirancang sebelumnya untuk melakukan pendekatan dahulu antara Dika dan Widya. kini kedua anak muda itu yang sudah dijodohkan itu sedang berada di dalam mobil. cahaya rembulan yang berbentuk sabit dengan indahnya mengiringi kencan pertama dua insan anak manusia itu.
Widya berulang kali mencuri pandang pada Dika disamping nya, sebanyak itu pula gadis itu terpesona dan jatuh berkali-kali melihat wajah tampan Dika.
Dika yang selalu peka tentu saja menyadari sikap Widya yang mencuri pandang terhadapnya.
"kalau mau nanya sesuatu, nanya saja kali Wid." suara Dika memecah keheningan sekaligus mengejutkan Widya yang menjadi salah tingkah.
ketahuan sudah mencuri pandang membuat gadis itu tidak bisa tenang dan berulang kali memainkan sabuk pengaman.
Dika menyunggingkan senyuman. "mau nanya apa?" tanya nya, melirik Widya sekilas.
"beneran nih aku boleh nanya?" Widya balik bertanya.
"boleh, kalau aku bisa jawab akan aku jawab begitupun sebaliknya." jawab dika.
"aku boleh manggil kamu Abang?" tanya gadis itu, berharap.
Dika tampak berfikir sebentar dan akhirnya mengiyakan. "boleh, senyaman mu saja."
Widya tersenyum senang, dia mau berusaha membuat hubungan mereka semakin dekat dengan hal-hal kecil.
"hobi bang Dika apasih?" Widya meluncurkan pertanyaan yang kedua.
"masak."
sontak jawaban Dika membuat Widya ternganga tak percaya, dia terkejut pria seperti Dika ternyata mempunyai hobi memasak. disaat para lelaki mempunyai hobi mengoleksi moge atau mobil, pria disampingnya ini malah mempunyai hobi memasak.
'kenapa kaget gitu? kamu berharap aku mempunyai hobi yang keren seperti anak muda lain nya?" ucap Dika, memberhentikan mobilnya saat lampu lalulintas berubah warna menjadi merah.
"ng-nggak, bukan berharap sih tapi menerka saja. pria tampan seperti Abang ini nggak heran kalau hobinya seperti anak muda jaman sekarang."
"sudah nggak muda kali Wid, aku saja sudah 28 tahun. kamu tuh yang masih muda, jadi nikmati dulu masa muda mu." tukas Dika, menatap Widya sekilas.
"cuma beda 4 tahun doang, aku sudah puas sama masa muda ku. sekarang maunya nikah saja, punya keluarga yang harmonis dan anak-anak yang lucu." Widya tersenyum, membayangkan ucapan nya menjadi kenyataan. apalagi kalau punya anak yang sama ganteng nya dengan Dika.
"kamu hobinya apa?" tanya Dika, mengalihkan pembicaraan.
"menulis." jawab Widya, menatap sendu pada Dika yang masih fokus pada jalanan di depan yang mulai berjalan kembali. Widya tahu Dika sengaja mengalihkan pembicaraan.
"nulis apa?" tanya Dika lagi tanpa memandang kearah Widya.
__ADS_1
"novel." jawab Widya singkat, tatapan nya tak lepas dari Dika.
kali ini Dika bereaksi dan menatap Widya. "novel?"
Widya mengangguk.
"sudah menulis berapa novel?" tanya Dika, ia juga tidak percaya gadis manis di samping nya mempunyai hobi menulis. kepalanya tiba-tiba teringat dengan dara yang hobinya makan. karena setiap Dika selesai memasak, gadis itulah yang pertama kali memakan masakannya.
disaat gadis lain mempunyai hobi yang anggun seperti menyanyi atau lainnya, dara dengan senyum ceria nya menjawab hobi makan, terutama masakan Dika.
"bang Dika lagi mikirin apa?"tanya Widya, memotong lamunan Dika yang senyum-senyum sendiri mengingat kekonyolan sahabatnya.
"ah nggak apa-apa."
sepanjang perjalanan mereka saling bercerita banyak hal terutama Widya, Dika lebih kebanyakan hanya mendengarkan dan bercerita saat mendapat pertanyaan dari Widya. selebihnya pria itu akan berubah menjadi pendengar yang baik.
mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah cafe yang terletak dipinggiran kota, cafe yang selalu ramai di datangi pengunjung terutama anak muda.
**"
Soni yang saat ini sedang sibuk dengan laptop di depan nya menoleh saat ada orang memesan, pria matang itu terkejut saat melihat pria yang tempo hari ia lihat datang ke rumah mantan istrinya. pria yang dia kira mempunyai hubungan dekat dengan Sinta. mata Soni mengikuti setiap gerak gerik pria itu. ia terbelalak, rahang nya mengeras saat melihat pria itu kembali ke tempat duduknya yang disana sudah ada seorang wanita.
sedangkan pria yang di maksud Soni adalah Dika yang sekarang duduk bersama Widya.
"aku juga baru tahu disini ada cafe, seperti nya cafe ini baru Dibuka." jawab Dika, mengamati sekeliling.
Widya manggut-manggut.
"sudah menulis berapa novel Wid?" tanya Dika, memecah keheningan yang mendera mereka beberapa menit.
"sejauh ini aku nulis 4 judul novel. yang dua sudah tamat dan sisanya belum. masih berlanjut. tapi ada satu judul yang benar-benar belum ku lanjutkan karena masih pusing mikir jalan ceritanya." cerita widya.
"kenapa?" tanya Dika penasaran.
Widya menggeleng lemah.
"banyak viewer nya?" tanya Dika.
"ada satu judul yang paling banyak viewer nya diantara judul novel yang lain." jawab Widya, ia senang Dika mau bertanya padanya.
"kisaran berapa?"
__ADS_1
"sekitar 29 ribu viewer." jawab Widya.
"wahhh keren, hebat kamu Wid." seru Dika berdecak kagum.
"apasih bang, itu masih rendah diantara novel lain tau!" didalam hati Widya bahagia atas reaksi Dika. baru kali ini ada yang memujinya langsung di depan mata.
"pembaca segitu sudah keren Wid, satu pencapaian yang harus kamu banggakan." ucap Dika tersenyum hangat, menyemangati.
"terimakasih, baru kali ini ada orang yang memuji langsung padaku." ucap Widya malu-malu.
"kalau seperti itu ada bayaran nya?" tanya Dika lagi.
"ada, tapi aku belum dapat. karena novelku tidak aku kontrak. awalnya hanya hobi bang, dibaca banyak orang saja aku sudah senang banget. kalau kemudian hari ada penghasilan dari hobiku itu, aku pasti akan senang juga."
"pasti! nanti suatu saat pasti ada hasilnya. semangat dong, jangan lesu gitu." ucap Dika menyemangati, mengusap tangan Widya yang berada diatas meja. menepuknya pelan.
Widya melihat tangan nya tanpa berkedip. "terimakasih bang."
Dika menarik tangan nya, pria itu berdehem pelan. Widya pun salah tingkah, menyedot minuman di depan nya dengan cepat sampai tersedak.
"uhuk..uhuk.."
Dika yang melihat itu langsung bangkit dan mengusap punggung Widya lembut.
"pelan pelan saja Wid." Dika membantu Widya untuk tenang.
"tarik nafas, buang perlahan." ucap Dika.
Widya mengernyit heran "memang nya aku mau lahiran bang." gerutu Widya.
Dika tergelak menyadari kebodohannya sendiri, meraih air mineral dan membantu Widya minum.
melihat ada bekas minuman disudut bibir Widya, jemari Dika bergerak mengusap nya.
"berantakan, seperti anak kecil." ucap Dika membuat Widya malu.
semua pemandangan itu tak luput dari mata Soni yang sudah melotot dan memerah menunjukan amarah nya yang sebentar lagi meledak. apalagi ditambah tangan itu terkepal erat menunjukan otot-ototnya.
berjalan dengan cepat ke arah Dika dan Widya, Soni menarik paksa tangan Dika dan langsung memukul nya tepat di rahang Dika. Dika yang tanpa persiapan apa-apa tidak bisa menghindari pukulan dadakan Soni.
"dasar brengsek!" umpat Soni. pria itu mengumpat dengan nafas memburu.
__ADS_1
"bang Dika!" pekik Widya dan langsung menghampiri Dika.
"lepasin bang Dika!" teriak Widya pada Soni yang mencengkram kerah kemeja Dika.