Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 21. dara


__ADS_3

"Widya, maaf apa kamu bisa pulang sendiri. aku ada urusan mendadak." ucap Dika, meraih kunci mobil nya dan berjalan cepat menuju kasir.


Widya awalnya terkejut tapi gadis itu merasa belum punya hak untuk menanyakan urusan apa yang sampai membuat Dika panik seperti itu.


"maaf ya, aku sudah memesan ojek online. kamu tinggal menunggu saja disini." Dika tampak merogoh kantong nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.


"ini untuk ongkos mu." Dika menyodorkan Uang itu dihadapan Widya.


"tidak usah bang, aku akan membayarnya sendiri. bang Dika pergi saja." ucap Widya, walaupun hatinya merasa sedih ia masih berusaha untuk tetap tersenyum.


Widya semakin kecewa saat Dika pergi begitu saja meninggalkan nya. menatap nanar punggung pria yang dicintai nya, dua tetes air mata luruh membasahi pipi.


disepanjang perjalanan pulang, pikiran Widya mengembara kemana-mana. memikirkan sosok wanita yang sanggup mengalihkan semua dunia seorang Dika. pria yang tidak terlalu ramah dengan orang lain itu bisa bersikap semanis itu untuk satu wanita.


"sebenarnya wanita seperti apa dara itu?. kenapa bang Dika sampai segitunya khawatir, bahkan tega meminta aku pulang sendiri." gumam Widya.


ramai nya malam hari ini tak membuat gadis itu terkecoh, hatinya terlalu merasakan sepi. pikiran nya terlalu penuh dengan semua pertanyaan yang entah ia harus tanyakan pada siapa.


***


sampai di depan rumah dara, Dika buru-buru mengetuk pintu. tak menunggu waktu lama, pintu dibuka dengan cepat. gadis cantik Yang sejak tadi membuat nya panik kini sudah menghambur kedalam pelukan. isakan tertahan keluar dari bibir mungil bak buah ceri yang basah.


"hei kenapa Ra?" tanya Dika, tangan nya entah sejak kapan sudah mengusap lembut punggung gadis itu.


tapi itu adalah tindakan refleks Dika saat menghadapi dara yang sedang menangis, sejak dulu. bahkan sejak mereka berdua masih duduk di bangku SMP.


dara yang terlihat sekuat karang dilautan dihadapan orang lain akan berubah selemah kapas saat dihadapan Dika. baginya Dika lah satu-satunya orang yang tidak pernah menyakitinya.


sampai akhirnya ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan memiliki perasaan apapun pada Dika, mencegah hal-hal buruk yang mungkin saja akan terjadi jika dia menyimpan perasaan cinta pada sahabatnya itu.


setelah membawa dara masuk kedalam rumah dan duduk di sofa, Dika menyelipkan rambut dara ke belakang telinga. wajah sembab dengan sisa air mata yang berjejak itu terlihat merah.


"kenapa Ra?" tanya Dika lagi, tapi yang ditanya malah diam saja dan terus menunduk.

__ADS_1


"ya sudah di puasin dulu nangis nya, aku tunggu sampai kamu mau cerita." ucap Dika, memilih menyalakan televisi di depan nya.


televisi baru menyala beriringan dengan suara pelan Dari dara. bahkan ucapan yang terdengar gumaman itu tidak terlalu jelas.


"ngomong yang jelas Ra, jangan bisik-bisik gitu." ucap Dika.


melihat dara yang masih sesenggukan membuat Dika bingung harus melakukan apa. tangan kekar nya refleks bergerak dan merengkuh pundak gadis itu, membawa kepalanya bersandar di bahu nya.


tidak ada penolakan dari gadis cantik yang masih saja menangis, Dika meraih tissue saat melihat gelagat dara yang aneh.


telat!. bukan tissue yang di buat menyapu ingus tapi baju nya. Dika menghembuskan nafas berat, basah sudah baju nya. seperti biasa pasti saat sahabat nya itu menangis ada saja baju nya yang menjadi korban.


tapi tak apa, selama dara bisa berhenti menangis. berapapun baju tidak ia pedulikan.


jam dinding sudah menunjukan setengah jam berlalu, suara rengekan sudah menghilang. Dika menoleh pada gadis cantik yang masih saja nyaman bersandar padanya.


"sudah nangis nya?" tanya Dika, senyum hangat nya menghiasi wajah tampan yang terkena cahaya dari tv di depan nya.


dara mengangguk, menegakan badan nya lalu memutar tubuh menghadap Dika.


"tadi sore sepulang dari kantor, aku ngga sengaja lihat notifikasi yang masuk di hp Rendy. kamu tahu nggak?" dara menatap intens Dika.


"nggak." jawab Dika Santai.


"ihhh!" gerutu dara.


"ya emang aku nggak tahu Ra, kan kamu belum cerita." jawab Dika dengan senyum jenaka nya.


"terus notifikasi itu dari nama singkatan. tapi isi chat nya ambigu banget. aku curiga ada sesuatu yang disembunyikan Rendy dari aku."


ungkap nya menggebu-gebu.


"jangan seudzon, kalau salah kamu sendiri nanti yang nyesel." ucap Dika memperingati.

__ADS_1


"iyha juga, tapi kali ini rasanya sedikit berbeda ka, entah kenapa feeling ku berkata kalau Rendi menyembunyikan sesuatu besar dari aku." ungkap nya dengan lesu.


berbagai hal yang ia temukan belakangan ini memang terasa aneh, nama kontak dengan singkatan, perlengkapan bayi, sikap Rendi yang lebih romantis dan tidak pernah membuat masalah. tapi tak jarang juga mengangkat telepon dengan menjauh dari nya.


mengandalkan feeling, dara yakin ini semua pasti ada ujung nya. tidak mungkin semua ini hanya hal biasa saja.


beberapa kali mengode untuk Rendi agar segera menikahi nya, tapi dara malah menelan kekecewaan karena Rendi selalu mengalihkan pembicaraan.


"gini aja deh, daripada menebak-nebak gimana kalau weekend ini kita mata-matai Rendi lagi. kamu coba pancing dia ajak jalan, kalau dia mau ya kita mata-matai setelah kalian pulang. kalau dia menolak, kita ikuti dia dari rumah nya. gimana?" tawar Dika.


"boleh kalau gitu." jawab dara manggut-manggut.


***


akhirnya weekend tiba, ternyata Rendi mengiyakan ajakan dara. seharian pasangan sejoli itu menghabiskan waktu bersama. entah kenapa dara menjadi ragu akan memata-matai Rendi jika sikap nya seperti ini.


sikap laki-laki yang ia inginkan ada pada Rendi. tanpa sadar dara hanya menusuk-nusuk mie di depan nya.


"Ra .. kamu nggak suka mie nya?" tanya Rendi, melihat dara yang melamun.


"eh suka kok, ini enak. nggak kalah sama yang di bunderan Deket rumah." jawab dara gugup.


"kalau enak kenapa ngga di habisin? kasian loh kamu tusuk-tusuk gitu. dia punya perasaan Kali.." ujar Rendi diselingi candaan yang garing.


"apasih kan cuma mie, gimana kalau sate yang ditusuk tiap hari. ngga mungkin kan sate nya komplen dan ngga mau di tusuk lagi." dara terkekeh pelan, menanggapi candaan Rendi.


"bisa aja jawab nya ya ." mengusap-usap kepala dara gemas.


"jangan , nanti berantakan rambut ku."


"aku perhatiin rambut mu udah panjang banget Ra, habis ini mau ke salon ngga? potong rambut model baru. biar ngga monoton gini terus?" tawar Rendi, memainkan rambut panjang dara.


benar juga, selama ini dara tidak pernah potong rambut dengan model lain. selaku hanya dirapikan dan dibiarkan panjang tergerai.

__ADS_1


"okedeh kita habis ini kesalon" jawab dara.


rencana memata-matai Rendi menguap entah kemana.


__ADS_2