
"kamu tahu dia ini laki-laki breng*sek!. dia tidak hanya mendekatimu tapi juga mendekati wanita lain!" geram Soni, menoleh ke arah Widya yang masih berusaha melepaskan tangan nya dari kerah kemeja Dika.
"tu-tunggu! apa maksudnya mas? wanita lain mana lagi yang mas maksud?" tanya Dika, ia kebingungan saat ini.
"Sinta! siapa lagi hah!' bentak Soni, rahang pria itu sudah mengeras dan tangan nya sudah siap kembali memukul Dika.
'jangan pukul bang Dika lagi!" pekik Widya.
semua orang yang ada di cafe memusatkan perhatian ke arah yang sama, walaupun merasa bingung dan tidak tahu akar masalahnya tapi mereka cukup dibuat penasaran.
tampak dua orang pria berlari ke arah Soni dan mencoba menenangkan.
"pak sudah pak. kita selesaikan secara baik-baik dan kepala dingin. semua pengunjung mengarah kesini pak." ucap salah satu pegawai Soni.
"tapi laki-laki ini harus diberi pelajaran ndre!" bantah Soni.
Dika tampak berfikir sebentar, sudut bibirnya melengkung ke atas saat menyadari siapa wanita lain yang dimaksud Soni.
"astaghfirullah mas, wanita yang kamu maksud itu mba Sinta?" tanya Dika dengan santai nya. pria itu sempat tergelak pelan dan sedetik kemudian meringis saat merasakan perih di sudut bibirnya.
"ayo kita bicara baik-baik mas Soni." Dika menekankan kata Soni di ujung ucapan nya membuat Soni mengerutkan kening heran.
Soni lantas melepaskan cengkraman nya dan meminta Dika untuk duduk.
Soni sebagai pemilik cafe merasa tidak enak dengan para pengunjung. dengan menundukan kepala Soni meminta maaf atas kekacauan yang terjadi.
"saya minta maaf sudah membuat ketidaknyamanan untuk bapak, ibu, mas dan mba semua. silahkan menikmati hidangan kalian kembali." ucap Soni.
***
"darimana tahu namaku?" tanya Soni, suaranya masih tidak bersahabat.
"dari mba Sinta. Sshh" Soni meringis saat Widya mulai membersihkan luka sobek disudut bibirnya.
"pelan-pelan saja Wid" pinta Dika.
"maaf bang." Widya kembali melakukan tugasnya.
"sebenarnya apa hubungan antara kau dan Sinta?" tanya Soni lagi.
"rekan kerja biasa, tidak ada yang spesial dengan hubungan kami. saat kita berpas-pasan pertama kali itu saya sedang mengantar hp mba Sinta yang ketinggalan di kantor." jawab Soni, ia sengaja menjelaskan dengan rinci karena ia tahu Soni sedang cemburu saat melihatnya dirumah Sinta.
"kalau tidak ada yang spesial kenapa kamu dekat sekali dengan Ciko?" pertanyaan bernada cemburu itu terlontar dari bibir duda anak satu itu.
"saya dekat dengan Ciko sudah dari lama, saya sudah menganggap mba Sinta seperti kakak saya sendiri. bukan hanya saya saja yang dekat dengan Ciko, rekan kami bernama pak Edi duda anak tiga bahkan teman kerja pria yang lain juga yang satu ruangan juga dekat dengan Ciko. mba Sinta selalu mengajak Ciko jika ada rapat santai diluar kantor." terang Dika panjang lebar.
__ADS_1
"jadi tidak ada hubungan spesial antara kalian?"
"tidak ada." jawab Dika tegas.
Soni melirik Widya yang dengan telaten merawat Dika. ia berfikir mungkin Widya adalah kekasih Dika.
"maaf atas sikap saya, kalau masih sakit, saya akan membiayai pengobatan mu sampai sembuh." ucap Soni tulus.
"santai saja mas, ini nggak sakit kok. argh!" pekik Dika saat Widya menekan kapas dengan cairan alkohol pembersih luka.
"libatkan? ini sakit mas, besok-besok jangan cemburu buta lagi! cari tahu dulu kebenaranya!" sungut Widya, ia tidak terima wajah tampan Dika terluka.
"aku yang dipukul kenapa kamu yang marah Wid?" tanya Dika terkekeh.
"biarkan saja, aku tidak rela siapapun menyakiti bang Dika."
Dika tertegun mendengar jawaban spontan Widya, pria itu mengamati wajah Widya lebih dalam.
Soni yang melihat kejadian itu langsung bangkit dan undur diri.
"kalau begitu saya permisi dulu, sekali lagi saya minta maaf. kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi nomor saya." ucap Soni, menyerahkan kartu nama di hadapan Dika.
"khawatir banget kayaknya Wid?" tanya Dika, setelah Soni pergi menjauh dari mejanya.
Widya menatap tajam Dika, "jangan menggodaku!"
Widya hanya senyum-senyum dan kembali melanjutkan tugasnya.
*"*
sementara itu di rumah Reyhan, ia sedang menunggu Risha yang sedang dikamar mandi. pria itu harap-harap cemas karena Risha didalam kamar mandi sedang mengecek kehamilan.
berulang kali mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup, Reyhan tidak bisa tenang.
"sayang biarkan aku masuk ya?" tanya nya.
"tunggu sebentar mas, sabar." teriak Risha dari dalam kamar mandi.
wanita itu juga sedang harap-harap cemas. menghadapkan tespek membelakanginya, Risha takut kecewa jika hasil tidak sesuai yang diharapkan.
"sayang sudah belum?" Reyhan kembali menggedor pintu.
Risha tidak menjawab, pelan-pelan ia membalik tespek ditangan nya dengan tangan gemetar dan dada bergemuruh hebat.
"kalau kayak gini artinya apa?" gumam Risha, meneliti tespek yang menampilkan dua garis tapi yang satu samar.
__ADS_1
Membolak balikan tespek dengan perasaan bingung, akhirnya Risa keluar dari kamar mandi saat suara Reyhan terdengar kembali.
"gimana dek?" tanya nya. wajah Reyhan tidak bisa tenang sejak tadi.
kalau hasilnya positif dia akan sangat bersyukur, tapi jika hasilnya negatif Reyhan takut Risha akan kecewa.
"ini yang satu garisnya samar mas, artinya apa?" tanya Risa bingung.
"mas juga nggak tahu dek. coba tanya kak Rahma." saran reyhan.
**"
"halo kak Rahma." Risha berbicara saat panggilan telepon sudah tersambung.
"ya sha bagaimana? kakak sedang belanja bulanan." jawab Rahma, menunjukan kameranya ke arah anak nya yang sedang bermain di wahana.
"sebentar, kakak menjauh dulu." setelah Rahma memberitahu sang suami untuk mengawasi anaknya, Rahma bergegas menjauh ketempat sepi.
"bagaimana sha?"
"ini tadi aku tespek, tapi hasilnya Yang satu garis warnanya samar. ini hamil atau tidak?"
"kemungkinan hamil sha, coba di tes seminggu lagi..jangan terlalu berharap dulu biar nggak kecewa. tapi kamu juga harus menjaga tubuh mu agar tidak kelelahan." jelas Rahma.
"baiklah kalau begitu."
Risha menoleh pada Reyhan, menghambur memeluk sang suami.
"kata kak Risha disuruh tespek seminggu lagi. katanya sih kemungkinan hamil, tapi aku takut kalau nanti hasilnya negatif mas." adu Risha di dekapan sang suami.
"nggak apa-apa kalau negatif kita kan bisa coba lagi." Reyhan sengaja melayangkan candaan.
"ihh kalau soal bikin aja grecep!" sungut Risha.
"apa itu grecep?" tanya Reyhan tidak mengerti, ia tidak tahu bahasa gaul jaman sekarang.
"gerak cepat mas!"
****
sedangkan Dika yang masih bersama Widya dikejutkan dengan dering ponsel yang berbunyi. segera mengangkatnya saat layar hp menampilkan nama dara disana.
"ya Ra ada apa?"
"hiks hiks hiks, ka aku .. aku ..." dara tidak melanjutkan ucapannya karena Dika sudah memotongnya.
__ADS_1
"tunggu saja disitu, aku kesana sekarang!"