
Beberapa kali Dika mengecek hp nya tapi tidak ada notifikasi pesan dari dara. pria itu mendesah pelan, melemparkan hp nya di sisi tempat tidur. sedetik kemudian bunyi notifikasi muncul. tapi melihat layar hp nya membuat nya melempar hp nya kembali.
ternyata pesan itu dari Widya.
"ini dara jadi nggak sih mata-matai Rendi, dasar dara pasti luluh lagi sama sikap manis pacar nya." gerutu Dika, berjalan ke arah dapur dan mengambil air dingin di kulkas. menegak nya hingga habis separo botol, dika terkejut saat ibu nya tiba-tiba muncul.
"ya Allah ibu... ngagetin saja!" pekik Dika sambil mengelus-elus dadanya. "untung ngga keselek"
"waduh, maaf bang. ini lho Widya tadi telfon ibu tanya kamu dimana. katanya pesan nya ngga kamu bales dari pagi. kamu seharian kan dirumah bang masa ngga sempet bales pesan Widya?" tanya Bu Rani heran melihat tingkah putra nya.
"iya nanti Dika bales." jawab Dika singkat berjalan ke arah kamar nya.
***
besokan nya pagi-pagi sekali, rumah Dika sudah kedatangan tamu. gadis cantik dengan rambut sebahu duduk manis di ruang tamu rumah nya.
"ngapain pagi-pagi buta datang kesini?" penghuni rumah yang terganggu tidur nya bertanya dengan malas.
"ihh gitu aja ngambek." balas gadis itu memanyunkan bibir.
"jogging yuk ka. mumpung cerah nih, sudah lama kan kita ngga jogging bareng." tawar dara dengan senyum mengembang berharap Dika mau.
"ngga ah males" tolak Dika santai.
"jangan gitu lah ka, sorry deh kemarin ngga ngabarin kamu." ucap dara memelas.
"nunggu seharian tuh ngga enak tau Ra, mending kalau tahu kayak gitu aku terima saja tawaran Widya yang ngajak jalan." sungut Dika.
"Widya? siapa Widya?. kamu punya gebetan baru ka?" tanya dara penasaran.
"nanti aku ceritain, tak siap-siap dulu." jawab Dika langsung meluncur ke kamar nya. meninggalkan dara yang bertanya-tanya saking penasarannya.
sepanjang perjalanan kuping Dika sampai panas mendengar rentetan pertanyaan dara yang tak ada hentinya.
"siapa Widya ka, jawab dong!"
"calon tunangan ku. puas?" jawab Dika dan langsung di tanggapi kaget oleh sahabat nya itu.
"what!" pekik dara tak percaya. "kapan pacaran nya kok sudah mau tunangan?"
__ADS_1
yang dara tahu selama ini Dika tidak dekat dengan siapapun. tapi tiba-tiba pria itu mengatakan kalau dia punya calon tunangan. apa selama ini dia terlalu over menyelidiki Rendi sampai-sampai tidak tahu kalau Dika punya pacar.
"kami tidak pacaran, tapi di jodohkan." ungkap Dika meberengut saat dara menertawai nya.
"dijodohin? sama Tante Rani? astaga aku kira Tante Rani itu ibu-ibu yang gaul." ledek dara.
"bukan ibu ku tapi bapak ku. dulu bapak ku sama sahabat nya sudah berjanji untuk menjodohkan kami. dari kami kecil."
memang sangat tidak masuk akal di jaman sekarang perjodohan terjadi. tapi Dika tak bisa mengelak saat dirinya yang berada di posisi itu.
"terus kamu mau di jodohin gitu saja?. pernikahan itu bukan hal yang sepele lho ka. kalau kamu tidak mencintai nya gimana mau bangun rumah tangga?. dipikirin dulu matang-matang jangan gegabah hanya karena nurutin kemauan orang tua." saran dara panjang lebar.
"ya gimana lagi? habis nya dia cantik, bodi nya bagus semlehoyy." jawab Dika terkekeh.
"ih serius ka!" dara yang kesal memukul lengan Dika berulang kali.
"stop stop Ra." cegah Dika, menangkap tangan dara agar berhenti memukul nya.
tapi apa ini? tiba-tiba pandangan mereka terkunci beberapa detik. nafas keduanya memburu, detak jantung nya bertambah cepat. apa karena jogging hingga nafas mereka seperti itu?.
***
"negatif ya dek?" tanya Reyhan dengan hati-hati takut membuat Risha sedih. "gapapa dek, memang belum rezeki kita. anak kan titipan dek. kita coba lagi ya?"
dengan senyum mengembang, Risha menatap Reyhan. ia menunjukan tespek garis 2 merah di depan wajah suaminya.
"adek hamil mas!" pekik Risha dengan riang.
"wah beneran dek?, Alhamdulillah. dijaga baik-baik ya dek. nanti sore langsung ke dokter ya."
respon Reyhan benar-benar membuat Risha sangat bahagia, tanpa sadar menghambur ke pelukan suami nya.
"eh pelan-pelan dek, aduh bar bar sekali istriku ini." pekik Reyhan khawatir, di usapnya kepala sang istri lalu mencium nya.
Reyhan dan Risha menatap kagum layar monitor di dalam ruangan dokter kandungan. apalagi saat mendengar detak jantung nya, Risha terharu sampai mengeluarkan air mata. wanita itu tak henti-hentinya berterimakasih kepada Tuhan didalam hati.
"usia kandungan nya sudah 7 Minggu ya Bu, semua bagus dan normal." ucap dokter yang mengusap-usap alat USG diperut Risha.
"selama ini ada keluhan?" tanya dokter pria tersebut.
__ADS_1
"pusing dan mual dok apalagi saat nyium aroma masakan, langsung muntah-muntah dok." jawab Risha.
"baik, ini vitamin nya diminum 1x sehari dan ini untuk obat mual muntah nya. ada lagi yang ditanyakan?"
Reyhan dan Risha saling berpandangan, Risha mencolek paha Reyhan yang diam saja.
"ah itu dok, apa masih boleh berhubungan badan dok?" tanya Reyhan gagap. ia baru pertama kali menanyakan hal seintim ini pada orang lain.
"boleh asalkan tidak ada keluhan yang berat, selama ibu nyaman dan janin baik-baik saja. tapi jangan terlalu keseringan dan kasar ya." jawab dokter tersebut.
Reyhan dan Risha mengangguk bersamaan.
setelah keluar dari ruangan dokter, Risha tak henti-hentinya menatap kertas hasil USG nya.
di tatap nya makhluk kecil penghuni rahim yang masih sebesar kacang hijau.
"Adek pengen makan sesuatu ngga?" tawar Reyhan saat sudah di dalam mobil.
"emm Ade pengen yang seger-seger deh mas. cari eskrim sama rujak yuk." jawab Risha antusias.
"baiklah bumil, kita nyari pesanan adik bayi ya.." ujar Reyhan segera melajukan mobil nya. Risha di samping nya tersenyum hangat.
**
Sinta sedang bersama anak dan ibu nya di salah satu mall kota ini. mengajak jalan-jalan Ciko di hari Minggu adalah rutinitas nya.
Sinta tersenyum melihat Ciko yang sednag bermain di wahana permainan ditemani sang nenek.
sampai akhirnya di depan nya ada anak kecil yang jatuh dan es krim nya tumpah berceceran di lantai.
"astaghfirullah, kamu gapapa nak?" tanya Sinta, membantu gadis kecil itu berdiri.
Sinta mengelap baju gadis kecil itu yang terkena tumpahan es krim.
"ITS okay, gapapa nak. mama mu dimana?" tanya Sinta.
tak lama ada seorang wanita yang berlari kearah nya.
"jelita kan sudah mama bilang jangan lari-lari, tumpah kan es krim nya." wanita itu berjongkok mensejajari sang putri.
__ADS_1
Sinta hanya terdiam membeku saat mengenali sosok wanita itu, wanita yang sangat di kenal nya dulu.