
waktu cepat sekali berlalu, tak terasa detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. kandungan Risha kini sudah menginjak 3 bulan. setelah kejadian pendarahan bulan lalu, Risha lebih berhati-hati tapi dia juga sudah kembali bekerja. selama ini tidak ada keluhan hanya kram ringan yang kata dokter itu normal selagi tidak di barengi flek darah.
seperti biasa, Risha pulang bersama Reyhan. tapi jika suaminya lembur dia akan pulang bareng Dika sang Abang sepupu.
"pengen sesuatu dek?" tanya Reyhan, melihat sang istri menatap ke arah luar jendela mobil.
"ngga, Adek cuma lihat suasana jalanan saja." jawab Risha, dia merasa perut nya sedikit kram.
tidak ada perbincangan lain karena setelah itu Risha tertidur. Reyhan fokus mengemudi memastikan mereka selamat sampai rumah.
sedangkan di lain tempat, dara yang baru pulang kerja di hampiri oleh wanita paruh baya yang sangat ia kenali. wanita dengan setelan santai batik itu memegang lengan dara.
"nak dara, bisa bicara sebentar?" tanya Bu Romlah, ternyata dia ibu nya Rendi.
"maaf Tante, saya masih ada urusan setelah ini." jawab dara, berusaha menghindar dengan sopan.
"tunggu nak, Tante mau bicara. luangkan sedikit waktu lima belas menit saja." Bu Romlah memohon.
"maaf Tante, saya benar-benar tidak bisa. mungkin lain waktu." lain di mulut lain di hati. sebenarnya dara malah ingin agar tidak pernah bertemu orang yang masih bersangkutan dengan sang mantan pacar.
sakit hati nya masih membekas, dia masih berada dalam proses move on. jika selalu bertemu orang yang masih bersangkutan dengan Rendi, dia takut jika semua nya berantakan. dara sudah bertekad akan move On dan melupakan Rendi. membuang semua kenangan selama beberapa tahun ini ke lautan.
jika dara bisa kembali ke masa lalu, dia akan merubah takdir cinta nya agar tidak jatuh pada Rendi. dia lebih memilih tidak pernah merasakan jatuh cinta daripada harus merasakan sakit hati sebesar ini. orang yang di cintai sudah selingkuh, tak tanggung-tanggung sang selingkuhan pun sampai hamil dan melahirkan anak. bagaimana dia bisa melupakan penghianatan sebesar itu?.
__ADS_1
dara terus saja berusaha menghindari Bu Romlah karena Bu Romlah terus-menerus memohon dengan wajah memelas.
hingga akhirnya dara mau mengobrol saat Bu Romlah bertingkah nekat. dia memohon dengan suara keras di depan kerjaan dara. hingga semua orang di sekitar menatap kearah nya dengan penasaran apa yang tengah terjadi.
daripada membuat keributan yang bisa menimbulkan masalah, dara memilih mengalah. sekarang mereka berdua duduk berhadapan di salah satu cafe tak jauh dari kerjaan dara.
"nak dara, Tante tahu kesalahan Rendi sangat fatal. tapi Tante mohon sama kamu, maafkan Rendi. maklumi kesalahan nya. dia melakukan itu tanpa sadar karena mabuk. dia tidak berniat menghianati kamu." ujar Bu Romlah dengan memegang tangan dara.
"Tante sudah tahu kalau kesalahan Rendi besar dan dengan gampang nya meminta saya memaklumi?" sungut dara, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita paruh baya di depan nya.
"Rendi melakukan itu tanpa sadar, tentu nya tanpa rasa cinta. cinta nya hanya padamu nak dara. Tante mohon, kembali pada Rendi ya. ingat hubungan kalian tidak sebentar, sudah melangkah sejauh ini apa tidak menyesal jika di akhiri?. kalau kamu mau kembali pada Rendi, kami akan langsung datang ke rumah nak dara untuk melamar." Bu Romlah masih berusaha membujuk.
dia tidak mungkin membiarkan Rendi menikahi regina. regina tak pantas untuk Rendi. wanita tidak berpendidikan dan pekerjaan yang tidak baik membuat Bu Romlah sama sekali tidak akan menyetujui hubungan kedua nya. mau di taruh dimana muka nya kalau mempunyai menantu pemandu karaoke yang sampingan nya menjajakan diri. bisa-bisa dia malu jika harus keluar rumah. para tetangga bahkan teman dan kerabat pasti akan mencibir nya. Bu Romlah tidak siap, selama ini selalu menjaga nama baik keluarga dan sang putra malah merusak nya.
"bukan saya!" imbuh dara.
"Tante akan meminta wanita itu pergi sejauh-jauhnya dari hidup Rendi, bagaimana?. supaya dia tidak bisa lagi mengganggu kalian berdua?" tawar Bu Romlah.
"dan Tante mengorbankan masa kecil cucu Tante yang tidak bersalah?" tanya dara dengan senyum kecut.
"Tante tidak yakin itu anak Rendi, atau jangan-jangan dia menjebak Rendi agar Rendi menikahi nya. dia tahu Rendi bekerja dan sudah mapan. pasti begitu, perempuan murahan tidak tahu malu!" Bu Romlah mengutarakan kecurigaan nya. dia sudah melihat sendiri bayi itu, sama sekali tidak ada mirip-mirip nya dengan sang putra.
"Tante bisa yakin darimana?" dara semakin muak dengan obrolan ini.
__ADS_1
"wajah nya sama sekali tidak mirip Rendi, dia pasti menjebak Rendi nak. atau kita tes DNA saja, kalau hasil nya bayi itu bukan anak Rendi. kamu mau kan menikah dengan Rendi?" Bu Romlah tidak gentar-gentar nya membujuk.
"astaga, sudahlah Tante. walaupun dengan segala cara Tante membujuk dan meyakinkan saya. saya tidak akan berubah pikiran. ibarat lukisan, Rendi sudah menumpahkan tinta hitam di atas nya. walau lukisan itu awal nya indah tapi tidak akan kembali seperti semula kan?. begitupun hubungan kami, semua sudah selesai. tidak ada yang bisa di perbaiki lagi." ujar dara, dia pamit pada Bu Romlah dan keluar dari cafe.
***
Bu Romlah masuk ke dalam rumah dengan wajah kecewa, dia tidak berhasil membujuk dara. dia merutuki kebodohan anak nya yang ceroboh hingga menghamili seseorang. sebagai ibu, dia kecewa dan juga marah. sekuat tenaga dia membesarka anak nya hingga sarjana dan dapat kerjaan yang mapan dan bagus. tapi anak nya tidak bisa menjaga semua nama baik nya dan melakukan hal yang sangat memalukan.
"bagaimana ma?" tanya Rendi yang langsung menghampiri Bu Romlah.
"apa dara mau menerima Rendi lagi?" imbuh nya, pria yang biasa nya tampil rapi dan wangi itu sekarang seperti orag lain saja. rambut nya dibiarkan berantakan, wajah nya sayu dan sangat menyedihkan.
"gagal! semua nya gagal. dara tidak mau menerima kamu Rendi!" bentak Bu Romlah, habis sudah kesabaran nya.
"mama sudah selalu menasehati kamu agar hati-hati dalam melakukan sesuatu. kenapa kamu tidak mendengarkan nya?" Bu Romlah membanting tas nya di atas meja.
"Rendi tidak sengaja ma." ucap Rendi menyesal.
"bagaimana kalau tetangga tahu?, bisa malu mama. apalagi jika kerabat kita tahu, mau di taruh dimana muka mama ren.." Bu Romlah memukul mukul dada anak nya. melampiaskan amarah dan kecewa nya terhadap sang putra.
"sana, datangi dara dan minta maaf dengan tulus. bujuk dia sampai mau, kalau kamu gagal terpaksa mama harus bilang pada papamu." ujar Bu Romlah.
sampai sekarang dia memang belum memberitahu sang suami yang masih di luar kota. dia masih begitu takut, takut suaminya akan marah dan menghajar sang putra.
__ADS_1
menghamili wanita lain apalagi wanita itu wanita rendahan. astaga itu memalukan sekali. kalau saja regina berpendidikan seperti dara, Bu Romlah tidak akan pusing dan langsung menikahkan mereka berdua. tapi regina hanya lulusan SMP dan bekerja di tempat karaoke. Bu Romlah tidak rela putranya menikah dengan wanita seperti itu. dia tidak akan membiarkan nya.