Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 14. bekas lipstik


__ADS_3

"benarkah?" tanya Risa Dengan wajah datar. menatap tajam pada kemeja Reyhan.


Risha memalingkan wajah saat Reyhan menoleh padanya.


"beneran dek sumpah! mas nggak bohong." jawab Reyhan tegas.


"pasti dia nangis kan, apa tadi mas meluk Safira untuk menenangkan dia?" tanya Risa menatap Reyhan dengan wajah yang sulit di artikan.


"apa?"


"apa mas tadi nenangin Safira dengan cara memeluk nya?" tanya Risha lagi.


"nggak dek." jawab Reyhan.


"oh ya? lalu ini apa? bekas lipstik siapa yang ada di kemeja mu mas?" Risha menunjuk bekas lipstik itu dengan keras. seperti memberi tanda kemarahan nya.


degh..


Reyhan menunduk, melihat tempat yang ditunjuk Risha.


"mas awas!" pekik Risha saat melihat orang yang mau menyebrang tak jauh dari mobilnya.


Reyhan yang terkejut membanting setir ke kiri, menghindari tabrakan.


Dengan nafas memburu, Risha mengusap dadanya. menghembuskan nafas lega saat mobil Reyhan berhasil menepi tanpa menabrak apapun.


"maaf dek." ucap Reyhan, memeriksa semua tubuh istrinya. " kamu nggak apa-apa kan?"


"aku nggak apa-apa!" jawab Risha menepis kasar tangan Reyhan.


"sudah jalan lagi. kita bahas dirumah saja!" imbuh Risha, menatap lurus jalanan yang masih tampak ramai.


wanita dengan blazer biru muda itu memilih bungkam disepanjang perjalanan. bunyi rem yang di injak Reyhan secara mendadak masih teringat jelas di kepala.


ia berterimakasih pada Tuhan karena masih memberi nya keselamatan, tidak bisa membayangkan jika sesuatu yang lebih buruk menimpa nya.


mendorong pintu rumah dengan kasar, Risha menaruh belanjaan nya di meja dapur. menghindar saat berpas-pasan dengan Reyhan, wanita itu tetap meneruskan langkah nya saat Reyhan memanggil nya berulang.

__ADS_1


"dek!" sentak Reyhan berdiri di depan Risha menghentikan laju langkah istrinya.


Risha mendongak dengan mulut yang masih tertutup rapat, hanya ada tatapan kekecewaan yang menghiasi wajah lelah nya.


"tadi mas memang mengantar Safira, karena keadaan darurat jadi mas menawarkan diri untuk mengantar. kalau menunggu taxi atau ojek online kelamaan." jelas Reyhan lembut.


"terus kenapa nggak bilang sama aku? kenapa harus nunggu Adek tanya dulu?. kenapa mas nggak inisiatif untuk cerita lebih dulu?. mas seakan-akan sengaja menyembunyikan nya!" geram Risha.


"Mas fikir itu hal yang nggak penting jadi Adek nggak perlu tahu."


"nggak penting? Adek nunggu satu jam di depan swalayan sampai swalayan itu mau tutup. mas nggak mikirin aku? mas nggak khawatir sama aku?" Risha menatap tajam Reyhan. "huh untuk apa aku khawatir sama orang yang nggak khawatirin aku. untuk apa aku menunggu orang yang sedang berbuat baik dengan wanita cantik yang suka padanya." Risha tersenyum sinis, hendak pergi tapi Reyhan menahan nya.


"dek, niat mas cuma baik. lagian ada pak Edi juga kok. mas nggak berdua saja."


"terus Adek harus percaya gitu? dengan bekas lipstik di kemeja mas, Adek nggak yakin kalau pak Edi disana mas berani melakukan itu dengan Safira. pasti kalian hanya berdua kan. mencari kesempatan berkedok kasihan. bilang saja mau menjadi pahlawan kemalaman!" sentak Risha, berlalu pergi masuk ke dalam kamar tapi bukan kamarnya melainkan kamar yang dipakai untuk ruang kerja.


menutup pintu dengan kencang dan menguncinya, tubuh Risha luruh ke lantai. air mata yang sejak tadi di tahan kini menyeruak keluar dengan isakan pilu.


Reyhan menyandarkan kening nya pada pintu yang tertutup rapat itu. dadanya merasa sesak mendengar tangisan sang istri dibalik pintu. menyesal sudah melakukan hal yang membuat istrinya Semarah ini.


"aku nggak rela ada wanita lain menyentuh mas, aku nggak rela mas memeluk wanita lain. aku nggak bisa membayangkan jika setelah ini hubungan kalian bertambah jauh." ucap Risha dengan suara yang serak bercampur isakan memilukan.


"malam ini aku mau tidur sendiri. maaf." imbuhnya.


"mas minta maaf, iya mas salah. maaf sudah terlambat jemput Adek. tapi please, percaya sama mas. tadi mas bareng pak Edi mengantar Safira. kalau Adek mengira mas nggak mikirin Adek itu salah besar!. mas kepikiran Adek terus, bahkan mas ngebut naik mobil nya." Reyhan yakin istrinya masih ada dibalik pintu. ia berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"soal noda lipstik di kemeja mas, maaf. tadi Safira sempat memeluk mas tapi mas langsung sadar dan dorong dia kok. karena yang di pikiran mas hanya Adek. Adek bisa tanya pak Edi besok."


"Dek.."panggil Reyhan saat sudah tidak mendengar suara Risha.


"Adek harus tahu, kamu itu cinta pertama mas. ingat perjuangan kita. mas nggak mungkin mencintai wanita lain. yang mas cinta hanya Adek."


***


dari bangun subuh sampai sekarang, kedua orang itu masih saja betah berdiam-diaman. Reyhan menghela nafas pelan, menatap sang istri yang sedang mengunci pintu rumah.


ini pertama kali nya mereka berdua bertengkar hebat seperti ini. jika pertengkaran adalah bumbu-bumbu pelengkap rumah tangga tapi Reyhan sama sekali tidak menginginkan. saling diam dalam satu rumah dengan pasangan adalah rasa yang paling tidak nyaman. terlebih lagi jika harus tidur sendiri tanpa pelukan seperti tadi malam rasanya tidak enak sama sekali. sudah terbiasa tidur ada yang menemani membuat Reyhan susah tidur tadi malam.

__ADS_1


"Dek, nanti mas lembur lagi. kamu pulang duluan minta di antar Dika ya." suara Reyhan memecah keheningan pagi hari ini.


"iya" jawab Risha singkat, tanpa senyum dan ekspresi sama sekali.


"ayo berangkat, nanti telat." ucap pria itu.


***


Risha yang sejak tadi berkutat pada laptop di depan nya mendengus kesal saat Otak nya sama sekali tidak bisa fokus pada huruf-huruf di layar laptop. wanita yang baru menikah selama dua bulan itu menggerutu kesal.


Sinta yang sejak tadi merasa terganggu dengan gerutuan wanita di sebelah nya lantas meremas kertas hingga menjadi bulatan dan melemparkan nya tepat pada pundak Risha.


"apasih dek, dari tadi ngomel terus. aku nggak fokus nih!" protes janda 1 anak itu.


"mba Sinta!" pekik Risha menghambur pada Sinta dan menggoyangkan pundak nya.


"woy woy jangan digoyang trus dek bisa pusing aku!"


"gimana ini mba?" keluh Risha memelas.


"apanya yang gimana?" Sinta yang masih bingung lantas menonyor kepala Risha.


"mas Rey tadi malam nganter Safira ke rumah sakit mba, sampai telat jemput aku di swalayan." jelas nya dengan wajah yang sedih.


"serius?" tanya Sinta tidak percaya.


Risha mengangguk dan menceritakan semua pada Sinta, "jadi gitu mba, katanya sih pak Edi juga ikut. tapi karena aku nggak percaya, hari ini aku mau tanya pak Edi eh malah dia nggak berangkat."


"waduh sha! tadi pas ke toilet aku nggak sengaja lihat Safira masuk ke dalam ruangan Reyhan membawa kotak bekal! apa mereka berdua sarapan bersama? kamu nggak masakin Reyhan?"


Sinta terdiam saat melihat raut wajah Risha yang sudah memerah menahan amarah, bergidik ngeri dengan wanita di depan nya. Sinta merutuki kebodohan nya sendiri karena sembarangan bicara.


"eh nggak mungkin dong ya, kata Dika, Reyhan itu bukan laki-laki seperti itu dek. kamu harus percaya sama suami mu. siapa tahu Reyhan sudah menghindar tapi Safira yang gaspol kan."


Sinta menutup bibir nya rapat-rapat saat mendapat tatapan maut dari Risha. memilih kembali pada pekerjaan nya, sesekali Sinta melirik Risha yang menatap kosong pada laptop didepan nya.


"awas saja kamu ya Safira!"

__ADS_1


__ADS_2