
Soni sedang menunggu Sinta di depan cafe nya dengan tak sabar. celingak-celinguk melihat jalan raya tapi sang wanita yang tengah di tunggu tak kunjung datang. sampai akhirnya matanya berbinar melihat taxi berhenti dan turun wanita cantik yang sejak dulu masih menghuni hati.
Sinta turun dari taxi menghampiri Soni. "kenapa pakai di tunggu segala sih, nunggu di dalam kan bisa." ujar Sinta. perempuan yang masih memakai baju kerja itu tersenyum hangat.
"tidak apa-apa, sengaja mau nunggu takut kamu kesasar." ujar Soni di selingi candaan membuat Sinta tertawa.
"ada-ada saja, dimana tempat yang tidak ku ketahui?." Sinta menggeleng pelan. dia yang sudah lama menetap di kota ini tidak mungkin dia kesasar. apalagi letak cafe Soni sangat strategis.
"ayo masuk." ajak Soni mempersilahkan.
Sinta masuk ke dalam cafe Soni, dia menatap sekeliling dengan heran. banyak balon hingga bunga tertata rapi seperti habis di pakai acara pertunangan.
Sinta membalikan badan menatap Soni yang berjala di belakang nya. tapi sesaat kemudian dia terkejut saat Soni sudah berlutut di hadapan nya.
para karyawan Soni pun mendekat memutari dua orang itu.
"Sinta, maukah kamu menikah dengan ku, lagi?" ujar Soni dengan senyum yang menyimpan kegugupan.
dia sudah berfikir berulang kali sebelum melakukan ini. meyakinkan diri dan mengusir rasa takut jika di tolak Sinta nanti nya. yang penting maju dulu, urusan di tolak belakangan. begitu pikirnya.
Sinta saking terkejutnya sampai tidak bisa menjawab, dia masih diam menatap Soni dengan cincin yang di sodorkan di depan nya.
tiba-tiba bayangan masa lalu seakan berputar kembali, kenangan saat Soni melamar nya dulu hingga menikah. Sinta sama sekali tak menyangka jika Soni melamar nya dengan gaya yang sama persis seperti beberapa tahun lalu. membuat nya tersipu.
menghembuskan nafas pelan, Sinta menyiapkan diri.
"ya aku mau." ujar nya.
seketika membuat semua orang disana bersorak Sorai, memberi selamat pada mereka berdua.
Soni bernafas lega, penantian selama bertahun-tahun kini membuahkan hasil yang sesuai keinginan nya.
Sinta menatap jari manis nya yang sudah terpasang cincin. dia terharu hingga tak sadar meneteskan air mata.
__ADS_1
Soni langsung memeluk erat Sinta, menyalurkan rasa cinta yang selama ini masih tersimpan di hati.
Sinta menatap sekeliling, tidak ada pengunjung sama sekali. dia juga baru sadar saat para karyawan Soni memakai pakaian biasa. bukan pakaian kerja.
"cafe lagi sepi?" tanya Sinta heran.
"nggak, ini sengaja di tutup buat ngasih kejutan kamu. kamu nggak lihat tulisan tutup di pintu?" Soni balik bertanya.
Sinta menggeleng, dia tidak memperhatikan sekitar.
"masih sama seperti dulu, nggak pernah memperhatikan hal di sekitar kamu." Soni menggeleng kepala pelan saat Sinta hanya meringis.
"setelah ini, mau acara lamaran dulu atau langsung nikah saja sin?" tanya Soni setelah mereka duduk di kursi yang sudah di hias meja nya.
"langsung menikah saja, kita sudah tidak muda lagi son. kayak ABG saja pakai lamaran dulu." Sinta tertawa pelan.
"kalau aku nurut saja, mau di kamar dulu oke. mau langsung nikah juga oke. asalkan sama kamu." goda Soni.
"kita masih muda kali sin." Soni tertawa geli.
keduanya menghabiskan makan malam berdua dengan bercerita. bernostalgia dengan kisah mereka dulu.
......................
Rendi memutuskan untuk menemui dara di kantor nya, dia sudah menunggu di dalam mobil sejak setengah jam lalu. pria itu menatap kantor dara tanpa mengalihkan pandangannya. dia harus bisa membujuk dara bagaimanapun caranya. kalau gagal, dia tidak bisa membayangkan semarah apa sang ayah kalau mengetahui dia menghamili wanita lain yang tidak berpendidikan dan punya pekerjaan rendahan.
akhirnya yang ditunggu muncul juga, tampak dara keluar dari kantor dengan kedua teman kerja nya. Rendi buru-buru keluar dari mobil. mengejar dara sebelum gadis itu menghindarinya.
"dara aku mau bicara." ucap Rendi saat tepat di depan dara.
kedua teman dara saling pandang, mereka sudah tahu cerita hubungan dara dan Rendi yang sudah berakhir sejak bulan lalu. mereka berdua menatap tidak suka pada Rendi yang masih mencoba mendekati dara.
"nggak ada yang bisa di bicarakan lagi!." jawab dara, menatap tajam pria yang sangat ia benci.
__ADS_1
"ada, masih banyak yang harus kita bicarakan. kita belum resmi putus kalau aku belum menyetujui!" tegas Rendi.
"haha egois sekali. hubungan itu yang ngejalani dua orang. kalau salah satu nya sudah tidak mau ya sudah jangan maksa." Tiwi, teman kerja Sinta mencibir.
"diam Lo!. ini bukan urusan Lo!" bentak Rendi.
"ren, hubungan kita sudah selesai saat aku mengetahui kamu berselingkuh. jangan temui aku lagi, aku sudah lelah dengan semua drama ini." ujar dara dengan nada suara yang biasa saja bahkan terdengar pasrah.
"nggak, aku nggak bakal biarin kamu ninggalin aku. kamu sudah janji nggak akan ninggalin aku kan Ra. kamu lupa?" tagih Rendi.
"terus kalau Lo sakitin dara, selingkuhin dia sampe bikin bunting orang lain. dara nggak boleh ninggalin Lo gitu?. gila kayak nya Lo!" cibir Desi, dia sudah geregetan sejak tadi. ingin sekali menyumpel mulut Rendi dengan kaus kaki agar tidak bicara lagi.
Desi merasa Rendi sangat tidak tahu diri, sudah berbuat salah tapi masih juga mengemis pada dara untuk kembali padanya. muka tembok sekali, sudah menyakiti pacar nya sampai drop dan harus di rawat di rumah sakit tapi sama sekali Rendi tak memikirkan perasaan dara. Mariah saja muncul dan membuat dara kembali bersedih karena teringat dengan penghianatan nya.
"eh Lo diem ya! ini nggak ada hubungan nya sama Lo!" bentak Rendi.
"Lo nya aja yang nggak tahu diri! dasar gila!" Desi nggak mau kalah.
hingga kedua orang itu adu mulut.
"sudah, sudah cukup!." teriak dara, membuat kedua orang itu berhenti ribut.
"Tiwi, Desi, kalian bisa pulang duluan. aku pulang nanti saja." ujar dara pada kedua teman nya.
"hah, kamu yakin Ra?" tanya Tiwi khawatir.
"iya nggak papa kok. tenang saja." ujar dara.
Tiwi dan Desi tidak bisa berbuat apa-apa jika dara sendiri yang minta. mereka berdua akhirnya pulang duluan. walaupun mereka berdua sebenarnya khawatir kalau kalau Rendi nekat dan memaksa dara.
setelah mencari tempat untuk mengobrol, dara memutuskan untuk duduk di kursi taman dekat kantor nya. tempat yang yang tidak terlalu ramai tapi masih banyak orang yang berkunjung. dara merasa tempat ini aman jika Rendi berbuat sesuatu yang mengancam nya.
"aku beri waktu lima belas menit untuk kamu bicara."
__ADS_1