
"sudah dong Ra nangis nya" tegur Dika, sejak 30 menit yang lalu wanita disamping nya masih saja menangis tak kunjung reda.
alih-alih berhenti, dara malah semakin mengeraskan tangisan nya. Dika mendengus sebal, meminggirkan mobil nya dipinggir jalan saat melihat Abang-abang penjual permen kapas di pinggir jalan.
"nih kesukaan mu, jangan nangis lagi. suara nangis mu itu nggak enak banget. bikin panas telinga ku." pria itu memberikan permen kapas pada dara yang diterima dengan senyum sumringah.
"Dika memang yang terbaik, makasih." ucap dara tersenyum lebar. membuka plastik yang membungkus jajanan manis berwarna pink itu.
"baru sadar?"
"nggak sih, udah lama sadar nya. sejak.. sejak SD saat kamu mau manjat buah mangga di rumah pakde kumis." jawab dara dengan mulut yang penuh permen kapas.
Dika menyunggingkan senyuman, menatap dara yang sedang asik memakan permen kapas. pemandangan ini adalah hal yang paling disukai Dika. melihat mulut kecil itu mengunyah permen kapas, sudah bisa dipastikan kalau dara sedang memakan permen kapas berarti dia sedang sedih atau menangis. karena permen kapas kesukaan nya bisa mengurangi kesedihan nya.
"tapi ka, aku masih terharu tau! Rendy nggak marahin aku. cara bicara nya juga masih lembut banget. aku jadi merasa bersalah banget." ucap dara dengan wajah yang kembali sedih dan hendak menangis kembali.
"jangan nangis lagi!" sentak Dika "kalau nangis lagi, ku ambil permen kapas mu." ancam Dika.
"iya iya." sungut dara menjauhkan permen kapas nya dari jangkauan Dika.
"makanya besok-besok kalau cemburu itu jangan berlebihan. kalau ada yang mencurigakan, diteliti benar-benar. agar tidak terjadi hal seperti ini. bukan hanya kamu yang malu, pasti Rendy lebih malu lagi. terlebih, itu meeting penting Ra." Dika mengingatkan.
"ihh jangan ngomong gitu, bikin aku tambah merasa bersalah tahu nggak!"
"biarin, biar kamu sadar. punya otak di pakai Ra! kalau mau bertindak tuh mikir dulu, biar nggak malu-maluin dan merugikan dirimu sendiri." Dika menyentil kening dara.
"aww! rese' banget sih. kok jadi kamu yang sewot. kan aku yang bertindak bukan kamu." sungut dara, mengusap kening nya yang terasa panas.
"iya yang bertindak kamu, tapi pasti selalu ngelibatin aku kan. cih." cibir Dika, matanya fokus pada jalanan yang tampak macet.
"jadi selama ini kamu merasa terbebani ka?" tanya dara dengan kesal.
"emm mungkin iya." Jawa Dika asal.
"oke, berhentikan mobil nya!" sentak dara.
"mau apa Ra?"
"aku mau turun, biar nggak ngrepotin kamu terus. aku bisa naik angkot kok."
"yakin? macet loh ini. mau panas-panasan di angkot dijalan yang kayak gini? semut aja pasti susah lewat Ra, apalagi kamu." sengaja melebih-lebihkan situasi.
dara yang hendak membuka pintu mobil menghentikan tindakan nya dan kembali memasang sabuk pengaman dengan cemberut.
"nggak jadi turun mba?" goda Dika, membuat dara semakin kesal.
dengan perasaan dongkol, dara menggigit lengan Dika dengan sekuat tenaga membuat Dika terkejut dan menjerit.
"Awww sakit Ra!" pekik Dika.
"salah sendiri ngeledek terus!" jawab dara tak kalah kesal nya.
"ini lama-lama kamu berubah jadi ratu semut beneran deh Ra, kalau kesal suka nya gigit orang!" sungut Dika mengusap lengan nya yang memerah dan berbekas membentuk gigi dara.
__ADS_1
"biarin, kalau aku ratunya. ku suruh semua pasukan ku datangin kamar kamu dan gigit kamu."
"nggak deh Ra, aku yakin kalau kamu jadi ratunya istana mu bakal kayak kapal pecah, hancur berserakan karena dengkuran mu." ledek Dika.
"ihh rese'!"
dara menggelitik pinggang Dika, membuat pria itu tergelak karena tidak tahan. tapi sedetik kemudian keadaan berbalik. berganti Dika yang menggelitik dara.
"udah ka udah." dara tergelak keras, bukan nya berhenti. Dika malah semakin bersemangat menggelitiki dara.
dara mepet pada pintu mobil saat Dika mencondongkan tubuhnya guna lebih leluasa menggelitik dara.
sampai akhirnya tiba-tiba suasana menjadi hening saat mata mereka bertemu. beberapa detik pada posisi seperti ini membuat kedua nya hanyut dengan debaran hati yang cepat seperti hendak keluar dari tubuh.
suara klakson mobil di belakang membuyarkan suasana hangat itu. Dika menarik tubuhnya, kembali memasangkan sabuk pengaman. begitupula dengan dara.
hening, tiba-tiba suasana menjadi canggung. tidak ada suara gelak tawa, ledekan bahkan satu kapan pun. mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.
Dika berdehem pelan, memecah kecanggungan.
"mau pulang atau kemana dulu Ra?" tanya Dika, menghela nafas saat debaran hatinya tak kunjung reda.
"ke mall sekalian ka. barang ku sudah pada habis. lagian mama tadi juga nitip barang." jawab dara, merogoh saku celana nya dan mengeluarkan secarik kertas yang terlipat.
***
memasuki mall yang ramai pengunjung karena weekend, dara berjalan di depan Dika yang mendorong troli. pria itu tampak ikut mengamati sekeliling dan sesekali membaca ingredient pada produk yang terlihat menarik.
"persabunan sudah, sekarang kebutuhan dapur." gumam dara, membaca tulisan yang tergantung di antara berjejer rak yang menjulang tinggi.
"banyak banget ternyata ka, aduh.. mama nih nitip apa nyuruh sih!" gerutu dara, membaca list belanjaan yang tertulis rapi.
"sudah jangan ngomel terus, hitung-hitung sambil belajar kalau nanti kamu jadi istri." saran Dika asal.
"tapi ini banyak banget, ada segala Sotel juga. astaga... ini belanja apa mau jualan sih. Sotel itu yang mana?" tanya dara bingung.
"kamu aja yang perempuan nggak tahu, apalagi aku Ra?" Dika menggelengkan kepala.
"itu terakhir saja deh. cari yang lain nya dulu yang aku tahu."
setengah jam memutari area persembakoan, akhirnya Dika bernafas lega saat dara sudah berhenti. pria yang sejak tadi mendengus karena acara belanja belum selesai juga itu memilih membuka ponsel yang sejak tadi bergetar.
"ka.. Dika!" panggil dara. pria yang terlalu asik bermain ponsel itu tak memperhatikan dara yang sejak tadi memanggil nya.
"Dika Irawan!" sentak dara kesal.
"apasih Ra pakai teriak-teriak segala. malu tahu!"
degh!
Dika segera mendekat saat melihat dara tampak berebut minyak goreng dengan ibu-ibu yang juga tak mau kalah. dua orang wanita beda status itu saling tarik menarik memperebutkan minyak goreng yang sekarang tampak susah dicari.
"pokoknya ini milik saya ya mba!" ucap ibu berbadan agak gempal.
__ADS_1
"lhoh saya duluan yang ambil Bu, ini punya saya." balas dara tak mau kalah.
"ini punya saya, tangan saya duluan yang menyentuh minyak ini."
"tangan saya duluan Bu, nggak percaya? saya lihatin cctv nya!"
"pokoknya saya duluan!"
"saya duluan Bu!"
"aduh mba kamu masih muda mbok ya mengalah pada yang sudah ibu-ibu!" sentak ibu itu kesal.
"nggak bisa gitu dong Bu, masalah nya saya belum dapat satupun. sedangkan ibu sudah dapat 5 tuh! Maruk amat!" balas dara tak kalah kesal nya. menunjuk tumpukan minyak goreng di dalam troli ibu itu.
beberapa pengunjung yang di sana tampak heran menatap kedua perempuan yang masih memperebutkan minyak goreng. pegawai wanita pun ikut memisah keduanya.
"Ra sudah, kasihin saja. nanti kita cari di tempat lain. malu Ra dilihat orang banyak." bisik Dika, matanya tampak melirik beberapa pengunjung yang memperhatikan pertikaian antara dua wanita ini.
"nggak bisa gitu ka, aku duluan yang ambil kok. lihat ibu itu sudah dapat banyak!"
Dika menghela nafas pelan, melirik pegawai wanita yang masih bingung.
"maaf kak apa ada stok lain?" tanya Dika pada gadis muda memakai seragam biru.
"maaf pak, stok sedang kosong. ini stok terakhir. sejak pagi sudah ramai pengunjung yang mengambil." jawab gadis itu malu-malu. menatap Dika tanpa berkedip.
"maaf Bu, apa bisa mengalah saja. lagian ibu sudah dapat banyak minyak goreng sedangkan dara belum sama sekali." ucap Dika pada ibu itu.
entah sihir apa, ibu-ibu itu berhenti mengomel dan menatap Dika.
"ya sudah deh, nih buat mba saja!" ucap ibu itu, mendorong minyak goreng kearah dara.
"mas, kok mau sih punya istri nyebelin kayak gini?" tanya ibu itu lalu melangkah pergi.
"apa! nyebelin?" dara mengepalkan tangan siap mengejar ibu itu tapi ditahan Dika.
"sabar Ra, sudah biarin saja. yang penting dapat minyak goreng nya kan." ucap Dika lembut, menenangkan gadis yang masih bersungut-sungut.
tatapan dara beralih pada pegawai wanita yang masih betah memandangi Dika.
"ngapain masih disini? ngelihatin suami saya?" sentak dara berapi-api.
"eh ah nggak mba, ya sudah saya permisi dulu." ucap pegawai itu berlalu pergi.
"dih galak amat! cuma lihat sebentar suaminya nggak boleh! cih."
Dika memandang lekat dara yang mengatur nafas nya.
"suami?" tanya Dika tersenyum jahil.
"apa sih ka, cuma ucapan saja biar cewe itu pergi. kamu lihat tadi, bola matanya hampir keluar saat lihat kamu terus."
"tapi ucapan bisa jadi doa lho Ra." imbuh Dika tergelak pelan.
__ADS_1
"mau aku gigit lagi?" sungut dara, menatap tajam Dika yang tergelak keras.
suami? astaga.. pokoknya nggak bisa! aku nggak mau kehilangan Dika dan berakhir seperti mama dan papa. berakhir di sidang perceraian.