
"Dara bisakah kamu menjaga jarak dari bang Dika untuk sementara waktu?"
"ya?" dara meletakan kembali segelas jus yang baru saja hendak di minum. menatap dalam Widya dan mendengarkan apa maksud ucapan tersebut.
"kamu tahu kan, aku dan bang Dika dijodohkan. aku ingin mengenal lebih dekat seperti apa bang Dika. tapi kamu selalu mengacaukan nya, maaf ya. bang Dika selalu pergi tiba-tiba setiap dapat telepon darimu. tidak bisakah kamu menyelesaikan masalah mu sendiri?. apa harus selalu bang Dika yang menyelesaikan masalah mu?," dunia bang Dika tidak hanya berporos padamu saja kan".
Widya terpaksa berbicara seperti ini, kalau tidak diberitahu dara tidak akan mengerti. ia ingin lebih dekat dengan calon suami nya, tahu kebiasaan nya, cara dia marah bahkan film favorit nya. Widya ingin tahu hal sekecil apapun tentang Dika. tapi dengan adanya dara yang terus saja mencari Dika jika membutuhkan sesuatu, ia menjadi tidak bisa leluasa dan merasa terganggu. terdengar sedikit jahat tapi Widya tidak peduli.
dara terdiam, jemarinya saling mengait di pangkuan. ucapan Widya seakan menampar telak dirinya. apa selama ini dia terlalu menempel pada Dika seperti benalu?. sedikit-sedikit Dika bahkan hal kecil seperti ada tikus di kamar nya pun dara mencari Dika. hidup nya lebih banyak bersama Dika di banding yang lain bahkan kekasih nya sendiri.
"aku mohon."
dara semakin merasa tidak enak saat melihat Widya mengatupkan tangan memohon padanya.
beberapa saat setelah nya dara tergelak, membuat Widya bingung. ada apa dengan gadis dihadapan nya ini?.
"ah begitu ya ampun santai saja Widya. mulai besok aku akan menjaga jarak dengan Dika. kamu tidak usah takut ya. aku tidak akan merebut Dika darimu, Dika bukan level ku maaf ya aku sudah punya pacar hehe." dara menjawab dengan senyum lebar seindah bunga matahari.
"ah kamu sudah pacar ternyata. pasti dia laki-laki beruntung bisa dapetin gadis secantik kamu." ujar Widya.
"ya ampun itu terlalu berlebihan, aku tidak secantik itu. malah Dika yang beruntung bisa dapetin gadis semanis kamu." puji dara tulus.
keduanya menghentikan pembicaraan saat Dika datang, pria itu menatap dua wanita di depan nya bergantian.
"ada apa dengan mereka?"
**
dari arah pintu restoran, suara maskulin terdengar memanggil.
"sayang"
Sinta dan melodi serentak menoleh ke asal suara. melodi tersenyum lebar, melambaikan tangan pada pemilik suara.
__ADS_1
"sayang kemari." jawab melodi.
"Sinta, perkenalkan dia suamiku." ucap melodi memperkenalkan suaminya.
pria itu memicingkan mata, mengingat-ingat seperti nya dia mengenal wanita di depan nya.
"kamu Sinta ya, istri nya Soni?" tanya suami melodi.
"tepatnya mantan istri." jawab Sinta singkat.
"ah maaf ya. aku Doni teman kerja nya Soni dulu waktu masih di Jakarta. dia banyak cerita soal kamu dulu. aku tidak menyangka kalian berpisah, padahal Soni selalu membanggakan kamu pada kami. aku turut sedih ya." Doni tidak menyangka pasangan yang selalu jadi inspirasi nya untuk berani menikah dulu malah kini sudah bercerai.
menoleh pada istri nya, Doni heran sejak kapan melodi berteman dengan Sinta. dia amat hafal dengan semua teman melodi.
"sayang dimana jelita? kenapa dia tidak bersama mu?" tanya Doni melihat sekeliling tapi tak juga menemukan keberadaan putri nya.
"ada di Playground sayang bersama Ciko dan ibu nya Sinta. kami mengobrol dan makan sebentar disini." jawab melodi dengan lembut.
"baik, kamu pergilah dulu aku menyusul." jawab melodi.
"oke jangan lama-lama." Doni bangkit dan beranjak dari restoran, menyusul putrinya yang tengah keasikan bermain dengan teman baru nya.
"Sinta aku harus pergi, lain kali kita mengobrol lagi ya. jangan membenciku Sinta." melodi melambaikan tangan keluar dari restoran.
Sinta yang kini sendirian meremas rambutnya. kenapa menjadi seperti ini, kenapa dia harus bertemu melodi dan mengobrol dengan nya. kalau tidak bertemu dia pasti tetap tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. menerima kenyataan kalau keputusan nya salah adalah hal yang paling tidak ia inginkan.
**
dara melajukan pelan motor matic nya, menatap sekeliling jalan yang di penuhi lampu temaran. ucapan Widya masih terngiang-ngiang di kepala nya. tidak mau pergi, malah semakin mengusik hingga ke hati.
"dunia bang Dika tidak hanya berporos padamu"
apa selama ini dara terlalu dekat dengan Dika?
__ADS_1
apa terlalu merepotkan?
dara akui bersama Dika membuat dia tenang tapi dia tidak sadar ternyata selama ini Dika pun memenuhi dunia nya.
saat sedih dia akan berlari dan menghambur ke pelukan nya. jika ia bahagia dara akan menarik tangan Dika dan mengajak nya menari merasakan juga kebahagiaan yang tengah ia rasakan. disaat kebingungan Dika selalu berhasil membantunya menyelesaikan masalah.
tiada hari tanpa berbalas pesan pada sahabat nya itu. tapi apakah semua itu berlebihan?. apakah ia memang harus menjaga jarak karena Dika sebentar lagi akan bertunangan?.
bukankah masih bisa bersahabat walaupun keduanya mempunyai pasangan masing-masing?.
dara menepikan motornya, duduk di samping trotoar. gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut.
dara berdecak saat suara telpon berdering, melihat nama Dika di layar hp nya membuatnya urung menjawab panggilan itu.
ada beberapa pesan masuk juga dari Dika, seperti biasa bertanya apakah dara sudah sampai rumah. tapi pesan itu hanya di baca, di acuhkan begitu saja lalu mematikan hp nya dan memasukan ke dalam tas. dara ingin sendiri, ia ingin merenungi semuanya sendiri dengan angin malam yang terasa lebih dingin malam ini.
Dika yang sudah sampai rumah heran melihat pesan nya di abaikan tanpa balasan. panggilan nya berhenti tanpa jawaban.
"bang, ibu mau bicara." Bu Rani yang melihat anak nya baru pulang segera memanggil.
"ada apa Bu?" Dika memasukan hp nya kedalam saku celana, menatap wajah perempuan yang sudah melahirkan nya.
"duduk bang."
kini ibu dan anak itu duduk diruang tamu, pemandangan yang jarang sekali terjadi.
"kamu akan bertunangan dan menikah, ibu harap kamu bisa menjadi suami yang bertanggung jawab, sayang sama istri. hindari teman wanita mu karena itu bisa melukai hati istrimu nanti." Bu Rani mencoba berbicara sehalus mungkin agar anaknya tidak tersinggung.
"maksud ibu apa?" Dika bertanya, mencoba menerka arah pembicaraan ibunya.
"dara, kamu seharusnya tidak terlalu dekat dengan nya. tidak ada persahabatan antara laki-laki dan wanita bang. pasti salah satunya memendam perasaan yang berbeda. apa ibu benar?" tanya Bu Rani, ia selama ini sudah sering memperhatikan kedekatan putra nya dengan dara.
Dika terdiam, ia tidak tahu mau menjawab apa.
__ADS_1