Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 6, gagal nikah?


__ADS_3

"jangan sentuh calon istri saya!" sentak Reyhan, menghempaskan dengan kasar tangan Nando.


"mas, ini nggak seperti yang mas lihat. Adek bisa jelasin. tadi Adek hampir ..."


"ayo pulang!" sentak Reyhan, menarik tangan Risha dengan paksa.


"ta..tapi mas mba Sinta bagaimana?. mba Sinta masih disana mas." pekik Risha, ia sedikit berlari untuk mengimbangi langkah panjang Reyhan.


"biar pulang sama mantan kamu itu, tadi berangkat bareng kan?" jawab Reyhan tanpa menoleh ke arah Risha.


"iya tapi kan harus bilang dulu mas, nanti kalau mba Sinta nyariin aku gimana?"


Reyhan mendadak menghentikan langkah, ia memutar tubuhnya.


"heiii mantan! bilang sama mba Sinta kalau Adek pulang bareng saya!" titah yang diselipi tatapan tajam itu mengarah ke Nando.


Nando menelan Saliva dengan susah, sikap Reyhan yang garang baru pernah di lihat nya. saat hendak membantu Risha menjelaskan pada Reyhan, tapi Reyhan sudah menarik kembali risha. akhirnya Nando hanya menatap keduanya di tempat nya berdiri.


di dalam mobil Reyhan, kedua nya tampak diam. Risha menatap Reyhan yang masih tampak tak bersahabat.


"mas ..." panggil Risha ragu ragu.


"bukan nya mas sudah nggak izinin? kenapa nekat pergi?" tanya Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya yang berfokus pada jalan raya.


"maaf, Aku cuma cape' mas. kita apa-apa melakukan segala persiapan nya sendiri. aku butuh istirahat." Jawab. Risha, menunduk. tidak berani beradu pandang dengan Reyhan.


"lagian mas juga apa nggak cape' ngelakuin apa-apa sendiri? pasti mas juga cape' kan. tapi mas selalu nolak saat Adek tawarin pakai WO."


"kenapa di bahas lagi? bukan nya kita sudah sepakat sebelum nya untuk tidak pakai WO?" Reyhan memijit pelipis nya, pusing tanpa sebab membuat nya susah mengontrol emosi.


"maaf"


untung nya Risha bersikap kooperatif, tidak membahas dan mengajak berdebat lagi.


"mau makan apa?" tanya Reyhan dengan suara berat nya saat mereka sudah setengah perjalanan.


"aku tidak lapar, nanti makan dirumah saja." jawab Risha, sengaja menolak tawaran Reyhan karena menurutnya makan berdua dalam kondisi seperti ini pasti membuat canggung.


"ya sudah." jawab Reyhan singkat.


Risha membiarkan begitu saja, tak mau berdebat. selalu berusaha menjelaskan tapi Reyhan tak juga mau mengerti.


***


pernikahan kurang dua Minggu lagi, tapi sudah dua hari ini kedua calon pengantin itu terlibat perang dingin. sama-sama tidak mau memulai untuk menyelesaikan masalah dan malah membuat nya berbuntut panjang.


Risha yang pulang kerja mampir ke rumah Dika, gadis itu menghempaskan tubuh di sofa dengan kasar.


"kenapa dek?" tanya Dika, mendengar Risha menghela nafas berkali-kali sudah ia pastikan pasti sedang ada masalah.


"bang Dika, kalau aku dan mas Rey batal nikah gimana?"

__ADS_1


"ASTAGHFIRULLAH, ada apa dek? apa Reyhan selingkuh? eh! tapi tidak mungkin aku sangat mengenal Reyhan. dia itu pria setia dek! atau jangan-jangan kamu yang selingkuh?" pekik Dika menutup mulut nya tak percaya.


"huss, sembarangan kalau ngomong!" dengan kesal Risha memukul Dika dengan bantal.


"ya terus apa dong?"


"salah paham bang, mas Rey salah paham sama aku. dia mengira aku ada hubungan sama Nando." keluh Risha.


"oh pantas dia tiba-tiba tanya aku soal Nando. ya aku jawab aja dia mantan kamu saat SMA." jawab Dika dengan polos nya.


"ihh Abang sih!" Risha kembali memukul Dika dengan bantal.


"sini sini, dek! kalau mau menikah itu memang ada saja ujian nya. ada saja yang bikin ragu. tapi justru itu yang bikin hubungan semakin kuat, asal kalian tahu cara menghadapi nya. pakai kepala dingin kalau mau menyelesaikan masalah. jangan saling merasa benar!" Dika menasehati dengan fasih, melupakan status nya yang masih jomblo.


"gimana mau menyelesaikan masalah kalau mas Rey menghindar terus, sudah dua hari bang. dia nggak hubungin aku sama sekali. aku hampir mengira kalau dia mau ninggalin aku gitu aja!" jelas Risa sedih.


"kenapa harus nunggu dia yang hubungi duluan? kenapa kamu nggak mencoba menghubungi?" tanya Dika tersenyum hangat.


degh..


"tuh kan, ya sudah begini saja. biarkan Reyhan menenangkan diri dulu. Abang tau mungkin sikap Reyhan terlalu berlebihan karena kamu itu cinta pertama nya dia. dia walaupun populer tapi nggak pernah pacaran lho dek. kamu adalah cinta pertama nya."


"serius bang Adek cinta pertama nya mas?" tanya Risha antusias.


"iya, Abang jamin deh. anak rajin dan ambisius seperti Reyhan yang kamu kira pacar nya banyak nggak seperti itu dek." terang Dika, ia saja kagum dengan sifat Reyhan yang teguh pendirian. makanya ia sangat mendukung hubungan Reyhan dengan adik sepupu nya.


"terus gimana dong bang? aku sudah terlanjur cinta sama mas Rey. nggak lucu kan kalau aku gagal nikah!'


***


Risha akhirnya menuruti perkataan Dika, ia memberi waktu pada Reyhan untuk menenangkan diri. sama hal nya dengan dirinya yang juga introspeksi diri sendiri.


setiap tidak sengaja berpas-pasan kedua nya hanya saling pandang, tidak berani bertegur sapa.


sedangkan Reyhan, ia sengaja menghindari Risha untuk menenangkan diri dan instrospeksi diri. bertanya-tanya pada dirinya sendiri. apa dia pantas untuk Risha?. apa Risha mau memaafkan nya saat ia minta maaf?.


ingin sekali mengakhiri pertengkaran ini tapi setiap berpas-pasan, entah kenapa Reyhan menjadi rendah diri.


sudah satu hari sejak kunjungan nya kerumah Dika, sudah sehari pula Risha menunggu chat atau telfon dari Reyhan. tapi nyatanya ia harus menelan kecewa, Reyhan selalu menghindari nya. bahkan tidak menghubungi nya sama sekali.


Sinta yang hendak meminta tanda tangan pada Reyhan, menghentikan langkah saat suara ponsel nya terdengar nyaring.


"hallo ya Bu, ada apa?" Sinta menjawab panggilan yang datang dari ibunya.


"ini sebentar lagi mau pulang, tinggal minta tanda tangan saja."


"apa!'


"iya Sinta kerumah sakit sekarang!"


"ada apa mba Sinta?" tanya Risha, ia ikut panik saat Sinta panik.

__ADS_1


"dek bisa tolongin aku nggak?, tolong minta tanda tangan pak Reyhan ya. aku harus kerumah sakit sekarang. Ciko demam tinggi dan di bawa ibu ku kerumah sakit." pinta Sinta, single mom itu masih di Landa khawatir.


"tapi mba Sinta, mba kan tahu sendiri aku dan mas ..."


"mungkin ini kesempatan kamu untuk memulai pembicaraan dengan dia. ya dek.. please ."


"baiklah."


"makasih dek. semangat!" ujar Sinta menyemangati. " nanti kalau sudah di tanda tangani taruh saja di meja ku ya."


***


berulang kali mengatur nafas dan rasa gugup nya, akhirnya Risha mengetuk pintu ruangan Reyhan.


memasuki ruangan calon suaminya seharus nya membuat ia senang, tapi kali ini tidak. rasanya ia sangat gugup.


"ada apa?" tanya Reyhan dengan suara berat nya.


"saya di minta mba Sinta meminta tanda tangan bapak karena mba Sinta harus pulang dulu. anak nya masuk rumah sakit." jawab Risha, gadis itu menghela nafas saat Reyhan sama sekali tak mau menatap nya.


saat Reyhan sedang memeriksa berkas di yang di bawa Risha. sedangkan Risha menyiapkan diri untuk memulai pembicaraan.


"mas, soal yang di kota K itu..."


"maaf, saya tidak mau membahas masalah pribadi di kantor." potong Reyhan, pria itu menatap sekilas Risha dan kembali fokus pada lembaran kertas di depan nya.


"ah baiklah. kalau sepulang nanti apa bisa .."


"maaf saya tidak bisa, ada acara arisan keluarga nanti." lagi lagi perkataan Risha di potong oleh Reyhan.


Risha merasa ada yang tercubit di hatinya, akhirnya ia memilih diam menunggu Reyhan menyelesaikan pekerjaan nya.


"ini.." Reyhan memberikan berkas yang sudah di tanda tangani pada Risha.


Risa menganggukkan kepala menerima berkas itu dan berlalu keluar ruangan.


saat sampai di pintu, gadis itu menoleh ke arah pria yang menjadi calon suaminya.


"Mas, kamu selalu menghindari ku setelah pulang dari kota K. setiap aku mau membuka pembicaraan, mas selalu memotong perkataan ku. selama 3 hari juga mas sama sekali tidak menghubungi ku. kalau kamu tidak mau menyelesaikan masalah kita." Risha memberi jeda sebentar, menyiapkan hati nya yang terasa hancur saat Reyhan lagi-lagi tak mau menatap nya.


"kamu boleh membatalkan pernikahan kita."


Degh


degh


degh


kali ini Reyhan terhenyak dan menatap Risha yang sudah terisak. ia tidak menyangka diam nya membuat Risha bisa berbicara seperti ini.


"aku permisi." ucap Risha dan keluar dari ruangan Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2