
Hari yang membahagiakan sekaligus mendebarkan sudah di depan mata, Reyhan tengah mengatur nafas nya sebelum ijab kabul dimulai. ruangan ber AC tak mampu mendinginkan kegugupan nya. pria tampan memakai jas hitam itu sesekali melirik ke arah tangga, berharap sang calon istri mau menunjukan wajah cantik nya sebentar guna mengurangi kegugupan nya.
Pak Roshan di belakang sang putra tersenyum simpul, dia melihat dengan jelas kegugupan yang sedang melanda sang putra tertua. mencolek bahu Reyhan, pak Roshan menyemangati.
"Semangat kak, sebentar lagi dia akan sepenuh nya menjadi milikmu. ini akhir perjuangan kalian, jangan gugup. kamu seperti habis selesai mandi. keringat dimana-mana." pak Roshan terkekeh pelan.
"Ayah! itu semangat atau ledekan?" balas Reyhan, pria yang sebentar lagi menjadi suami itu sedikit kesal dengan semangat berbungkus ledekan yang diberikan sang ayah.
"Bisa kita mulai sekarang?" pak penghulu bersuara setelah membereskan beberapa berkas di atas meja.
"pengantin wanita diperbolehkan masuk."
degh
degh
degh
debaran di hati Reyhan seakan hendak meledak saat melihat Risha turun dari tangga di dampingi sang kakak, wanita berkebaya putih dengan rambut di sanggul rapi itu tampak cantik dan uhuk!
manglingi.
menatap kagum pada sang calon istri, Reyhan tersihir dengan tampilan berbeda dari Risha. wajah yang biasanya hanya di balut polesan make up tipis itu kini tampak sangat cantik dengan polesan makeup yang lebih glamor.
"akan dinikahkan langsung dengan ayah mempelai wanita dengan bimbingan dari saya. silahkan pak." penghulu mempersilahkan pak Rudi untuk memulai menikahkan putri nya.
tapi tatapan semua orang tertuju pada Reyhan yang tampak bengong dan diam saja. pak Roshan menggelengkan kepala menatap anaknya.
"kak.. kak Rey ayo mulai." bisik pak Roshan.
"eh ... ah maaf." Reyhan tergagap menjawab, wajahnya bersemu merah ketahuan melamun di hari pernikahan nya.
"kenapa mas? gugup ya." tanya Risha terkekeh pelan.
"kok melamun? ayo kita mulai ijab kabul nya." ucap pak penghulu menggelengkan kepala melihat sikap Reyhan. "yang nanti malam nggak usah dipikirin mas, yang penting ijab dulu."
blush...
__ADS_1
wajah Reyhan dan Risha seketika merah seperti udang rebus mendengar candaan pak penghulu. semua orang ikut terkekeh melihat kedua pengantin.
ruangan menjadi senyap kembali saat pak Rudi mulai memegang mik.
ini adalah kedua kalinya pak Rudi menikahkan putri nya, yang pertama pernikahan Rahma Putri sulung nya. dan sekarang adalah putri bungsunya Risha. Entah kenapa hatinya menjadi sedikit berbeda saat menikahkan Rahma dulu. pria tua berbaju batik itu menjadi sedih, masih tidak menyangka putri bungsunya yang manja sebentar lagi akan menjadi istri orang lain. mengatur nafas berulang kali, pak Rudi mencoba menahan segala perasaan haru di hatinya.
" bismillahirrahmanirrahim... saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Reyhan Pratama bin Roshan wiranto dengan anak saya yang bernama Risha permata dengan mas kawin cincin 5 gram beserta uang tunai sebesar 12.820 rupiah di bayar tunai!"
"Saya terima nikahnya Risha permata binti Rudi salim dengan mas kawin cincin 5 gram beserta uang 12.820 rupiah dibayar tunai!"
SAH.
Akhirnya bersatu, debaran yang dirasakan keduanya terasa sangat berbeda dan begitu nyaman. rasa haru bercampur lega akhirnya bisa menikah setelah sekian lama diam-diam mempunyai rasa suka.
***
setelah acara akad selesai di pagi harinya, kini siang nya berlangsung dengan acara resepsi. Reyhan dan Risha sudah duduk di kursi pelaminan yang berhias berbagai warna bunga yang sangat cantik.
tampak satu persatu tamu menyalami mereka berdua.
"Dek, mau minum?" pria itu menyerahkan segelas air mineral pada Risha yang tampak kelelahan.
"wah selamat ya Rey, akhirnya kalian nikah juga. setelah sekian lama memendam rasa sendirian sekarang sudah bersatu." ucap Dika menyalami teman sekaligus sahabatnya sejak SMA.
"nanti malam hati-hati kalau mau unboxing, masih baru dan tersegel rapat. jangan langsung di gas pol takut nya lecet." bisik Dika yang langsung mendapat cubitan dari Dara di belakang nya.
"apa'an sih Ra, sakit tahu!" protes Dika pada sahabat sejak kecil nya itu.
"makanya jangan ngawur kalau ngomong ka." sungut dara yang sudah tahu sifat Dika yang jahil.
berjalan mendahului Dika, dara memeluk Risha dengan perasaan bahagia. dara sudah menganggap Risha seperti adik sendiri. kedekatan dua wanita itu tidak bisa diragukan lagi.
"selamat ya dek, sekarang kamu sudah menjadi istri. yang nurut sama suami. tak doakan supaya cepat dapat momongan. biar aku jadi aunty."
"aamiin. makasih kak." jawab Risha tersenyum.
"habis ini kita ya Ra?" ucap Dika dengan santai nya.
__ADS_1
"mau tak cubit lagi perut mu ka?" sungut dara, turun dari pelaminan dan meninggalkan Dika.
"waduh di tinggal, tunggu Ra!" pekik Dika berjalan cepat menyusul sahabat nya yang merajuk.
Dika menghentikan langkah dan menoleh pada Reyhan dan Risha. "jangan lupa doa dulu ya Rey, jangan lupa pakai ****** kalau mau bunda!"
pria tak tahu malu itu langsung kabur sesaat setelah ucapan nya mengundang banyak tatapan dari banyak orang.
semua orang menggelengkan kepala melihat tingkah Dika. tatapan nya beralih pada kedua mempelai yang menepuk jidat karena kelakuan Abang sepupu.
"kenapa nggak pacaran aja sih mereka berdua?. cocok kayak nya." ucap Reyhan menatap Dika yang sedang merayu dara.
"Adek juga heran. tapi kak dara itu nggak mau pacaran sama bang Dika." jawab Risha mendudukan bokong nya di kursi.
"kenapa?" pria itu ikut duduk disamping sang istri.
"katanya nggak mau kehilangan bang Dika, karena kalau pacaran kan bisa putus. kalau putus pasti mereka berdua akan menjauh." Risha membuka hils, kakinya terasa pegal dan nyeri.
"kan bisa langsung nikah?" Reyhan berjongkok, memeriksa kaki Risha.
"iya juga." Risha bergumam sendiri, menatap Dika dan dara yang kini sudah bersendau gurau.
"waduh, lecet nih dek. sakit nggak?" tanya Reyhan, melihat kaki Risha yang lecet karena terlalu lama berdiri dengan menggunakan hils.
"iya perih dan nyeri sedikit mas." jawab Risa, wanita itu meringis saat Reyhan menyentuh luka nya.
tanpa banyak bertanya, Reyhan mengangkat kaki Risha ke atas pahanya. memijit nya pelan dan meminta plester pada Rahma.
"nah sudah, setidak nya nggak bakal tertekan lagi luka nya dek." ucap Reyhan setelah memasang plester pada kaki istrinya.
"selamat ya Reyhan " suara mendayu dari seorang gadis cantik membuat kedua pengantin menoleh ke arah nya.
Safira, sekertaris Reyhan datang dengan membawa kado di tangan. menyalami Reyhan dan Risha bergantian.
"wah nggak nyangka kamu yang nikah duluan ya Rey. padahal kamu jarang sekali terlihat sedang punya kekasih." ucap Safira terkekeh pelan. tapi membuat kecantikan gadis itu bertambah.
Risha mengerutkan kening saat Safira memanggil Reyhan dengan namanya saja, padahal karyawan lain memanggilnya dengan pak.
__ADS_1
"terimakasih, setelah ini giliran kamu fir." ucap Reyhan.
Risha hanya memperhatikan kedua orang itu, ia tidak tau sudah sejauh apa hubungan manager dan sekertaris dihadapan nya ini.