
di restoran dalam mall yang dikunjungi Sinta, dua wanita yang terlibat di masa lalu saling berhadapan. saling diam dan tidak ada yang mau memulai duluan. masa lalu yang buruk hingga menghancurkan rumah tangga nya adalah alasan. wanita dihadapan Sinta kali ini sangat berbeda penampilan nya, hanya mengenakan kaos polos putih dengan celana jins pensil. sangat sederhana berbanding terbalik dengan beberapa tahun kebelakang.
walaupun hanya melihat nya dua kali. tetapi ingatan itu tak bisa lepas dari ingatan Sinta. karena dia rumah tangga nya hancur, ada anak menjadi korban perceraian. ada cinta yang dengan terpaksa harus di kubur. hingga lembaran surat perceraian melayang.
tatapan Sinta seakan menguliti wanita itu, dulu wajah yang ditatap itu seakan tak pernah takut, mengangkat dagu dengan angkuh nya dengan senyuman tipis dibalik bibir berlapis lipstik berwarna buah plum. Tapi sekarang, riasan wajahnya sangat sederhana, gelar selingkuhan seperti nya sudah tak cocok dengan tampilan nya sekarang.
"Sinta apa kabar mu?" wanita itu membuka pembicaraan, merasa tak nyaman dengan tatapan Sinta yang seakan mengulitinya.
"memang nya setelah semua perbuatan yang kamu lakukan padaku, kamu ingin jawaban apa?" Sinta balik bertanya.
wanita itu merasa tidak enak. "Sinta dulu sebenarnya hanya salah paham. ini yang kedua kali nya aku katakan padamu, kami tidak melakukan apapun, percayalah padaku." memang benar yang pertama wanita itu pernah mendatangi rumah Sinta untuk menjelaskan tapi belum sepenuhnya menjelaskan, Sinta sudah menutup pintu rapat-rapat dan mengusirnya.
"saat aku datang kerumah mu setahun setelah kejadian itu, aku sebenarnya mau menikah. aku merasa aku harus minta maaf pada semua orang yang ku sakiti. terutama kamu, tapi kamu selalu menutup diri dariku." jelas wanita itu.
"memang nya untuk apa semua penjelasan itu kalau rumah tangga ku sudah hancur, aku dan soni sudah bercerai. semua penjelasan mu tidak ada gunanya, MELODI!" Sinta sengaja menekan kan. agar wanita di depan nya ini mengerti, gelas yang sudah pecah tak akan kembali seperti semula walaupun diperbaiki oleh yang memecahkannya.
"walaupun tidak berguna, tapi setidak nya kamu perlu tahu yang sebenarnya." melodi membuka tas nya mengambil hp di dalam tas nya.
entah kenapa perasaan Sinta menjadi tidak nyaman, ini hal yang dia takuti. dia takut keputusan nya untuk menceraikan Soni dulu adalah keputusan yang salah. dia yang paling ingin bercerai dengan Soni dulu hingga tanpa sadar dia melukai hati putra nya sendiri.
walaupun sini memohon dan menjelaskan ribuan kali tapi Sinta dengan keras kepala nya tetap dengan keputusan yang sudah ia ucapkan.
"ini bukti saat Irawan dulu meminta ku untuk berpura-pura menjadi selingkuhan Soni, agar perselingkuhan ku dengan Irawan tidak ketahuan rosalia. yang paling penting jangan sampai Rosalia menceraikan Irawan. kamu tahu kan Irawan tanpa Rosalia bukan apa-apa, dia hanya beruntung dicintai oleh anak pengusaha kaya. Soni menjadi kambing hitam nya, entah kenapa saat itu waktunya pas sekali. saat kamu merasa Soni terlalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang ada waktu untuk kalian. jadi emosi mu menjadi tidak setabil, semua yang terjadi dalam rumah tangga mu tiba-tiba kamu kaitkan dengan kejadian ini. padahal suami mu memang sedang banyak pekerjaan. tapi mungkin hari itu hari yang apes bagi Soni, karena target nya sebenarnya bukan dia tapi karyawan lain. hanya saja karyawan itu mengingkari janji nya." jelas melodi, ia dengan teliti mencoba menjelaskan. berharap setitik saja Sinta mau percaya padanya.
Sinta menunduk, bibirnya kelu. semua penjelasan melodi membuat hatinya berdebar hebat. rasa bersalah kini memenuhi pikiran nya. rasa bersalah pada soni dan Ciko. saat itu pikiran Sinta kalut, dia tidak bisa berpikir jernih.
Sinta terkejut saat tangan melodi meraih tangan nya, menggenggam dengan lembut.
"maafkan semua kesalahanku dimasa lalu Sinta. kamu bisa bertemu Soni dan memperbaiki hubungan kalian lagi. kalau kalian bersama kembali, aku adalah orang pertama yang paling bahagia di dunia ini." ucap melodi, cara bicara wanita lembut menenangkan.
__ADS_1
Sinta tetap diam tak tahu harus menjawab apa. dia masih syok dan belum bisa menguasai diri.
setelah itu suara pria memanggil dari pintu restoran.
"sayang"
***
kali ini dara merasa ini adalah situasi yang membuat nya merasa tidak nyaman sama sekali. bertemu Dika dengan calon tunangan nya membuat nya bingung mau berbicara apa.
sejak tadi dia berdiri di depan kafe, memaju mundurkan kaki nya.
"apa aku pulang saja ya, alasan saja kalau aku tidak enak badan."
dara tampak terus berfikir tapi ide nya tidak terlalu baik. "jangan lah nanti Dika malah Dateng kerumah."
"aduh gimana ini.." dara merasa gusar, gadis itu menggigit kuku jari nya.
"dara!" panggilnya.
"matilah aku, kenapa Dika malah sudah lihat aku disini." dara menggerutu, memukul dahinya dengan telapak tangan nya sendiri.
"ngapain masih disini, ayo masuk. Widya sudah nungguin." ucap Dika saat sudah di hadapan dara.
"aku baru sampai kok." dara memberi alasan.
"ya udah ayok." ajak Dika.
"iya iya ngga sabaran banget sih." dara berjalan di belakang Dika.
__ADS_1
"Widya, ini dara. dia sahabat ku dari kecil. dia suka makan." Dika memperkenalkan dara pada Widya.
Widya berdiri mengulurkan tangan pada dara.
"hai, aku Widya. calon tunangan nya bang dika".
"aku dara."
Widya memperhatikan dara di depan nya, dia sungguh kagum. "jadi ini yang namanya dara, cewe yang sanggup merebut dunia bang Dika. cantik sekali, padahal cuma pakai kaos polos. rambut dikuncir. berbeda sekali dengan ku yang harus tancap ini itu untuk terlihat lebih cantik."
kini mereka bertiga duduk, menikmati makanan yang sudah di pesan.
"sepi amat kaya lagi makan sendiri, ngga ada yang mau ngobrol nih." Dika memecah keheningan, melihat dua gadis di samping nya saling diam.
"kalau makan kan ngga boleh ngomong ka. nanti keselen!." dara menyahuti sambil menyuapkan sesendok penuh kwetiaw goreng kesukaan nya. lalu tiba-tiba.
uhuk uhuk
Widya yang memberikan minum pada dara merasa sedih saat Dika lebih duluan memberikan minum pada dara, tidak hanya itu Dika juga membantu nya minum. mengusap usap punggung dara dengan lembut.
"hahh pemandangan macam apa ini, melihat calon tunangan ku sangat peduli pada sahabat nya. bahkan di depan ku." Widya mengepalkan tangan di bawah meja, mengusir rasa cemburu dan tidak nyaman nya melihat semua pemandangan ini.
kini dara dan Widya hanya berdua saja saat Dika pamit ke toilet.
"dara.." panggil Widya.
dara menoleh menatap Widya. "ya.."
"bisakah kamu menjaga jarak dengan bang Dika?"
__ADS_1
degh