
Reyhan yang mendengar penuturan Risha lantas menghentikan jemarinya yang tengah membuka tutup botol. menaruh botol mineral yang belum terjamah itu di dekat kursi, tangan nya berganti meraih tangan gadis yang sekarang menatap nya dengan sendu.
"dek, saat mas memutuskan melamarmu di depan semua orang. sejak saat itu, mas sudah sangat yakin untuk menikahi mu. memang mas akui kemarin sikap mas kekanak-kanakan. maaf jika membuatmu malah mengira kalau mas belum yakin sama kamu." suara berat nya terdengar hangat, Reyhan menatap dalam manik mata gadis di depan nya.
"jadi, jangan pernah tanyakan itu lagi. karena mas sudah sangat yakin, Adek lah yang mas cari selama ini. cinta pertama mas. aku mencintai mu Risha."
blush, bunga tidak! taman bunga seperti menghinggapi hati Risha sekarang. wajah gadis itu bersemu seiring ungkapan cinta pria yang sekarang tampak juga salah tingkah.
lega pasti nya, semua kesalahpahaman kini sudah selesai. berganti dengan rindu 3 hari tak bertegur sapa, senang dan bahagia akhirnya berakhir baik-baik saja.
"oh ya, Adek kan pengen banget liburan. bagaimana kalau hari Sabtu kita ke Bandung, kita jalan-jalan. belum pernah jalan berdua sama mas kan. sebenarnya waktu pulang dari Ancol, aku mau bilang ini tapi lupa." ucap Reyhan, tersenyum canggung.
"lupa atau ketutup cemburu?" ledek Risha.
"mas kalau cemburu gitu diam ya,?" tanya Risha, baru mengetahui sisi lain Reyhan.
"ya begitulah dek, selama masih bisa menyimpan nya mas akan simpan saja." jawab Reyhan.
"tapi kalau sudah menikah, mas nggak boleh ya mendem perasaan kayak gini. kalau marah bilang, kalau cemburu bilang. biar adek tahu."
"iya, mas akan usahakan."
***
di sisi lain Sinta yang tengah menjaga putra semata wayang nya dikejutkan oleh kedatangan pria yang selama ini di benci nya. tapi melihat sorot mata bahagia dari Chiko, wanita itu tidak bisa bersikap egois hanya karena sakit hatinya menghancurkan kebahagiaan di wajah sang putra.
"Ayah .." bocah 7 tahun itu memanggil penuh antusias sang ayah yang selama ini di rindukan.
__ADS_1
"hai Chiko, ayah disini sayang." Soni memeluk erat sang putra, sorot mata kerinduan terpampang jelas di wajah nya.
melihat interaksi antara ayah dan anak membuat Sinta merasa bersalah. ia yang memutuskan untuk pindah rumah jauh dari jangkauan Soni. semata-mata dilakukan nya karena sengaja menjauh dari pria itu. berfikir jika terus berdekatan akan membuat sakit hatinya semakin menganga. perselingkuhan yang dilakukan Soni tidak bisa ia maafkan, dengan mempertahankan harga diri Sinta melayangkan gugatan cerai di pengadilan.
bersyukur karena hak asuh anak jatuh padanya, ia bisa leluasa membawa putra nya kemanapun ia pergi tanpa harus takut apa-apa. memutuskan untuk menjadi single parents, wanita 33 tahun itu bekerja dengan keras menghidupi sang putra.
mereka berdua duduk di depan ruang rawat inap Chiko setelah memastikan putra mereka terlelap. duduk dengan jarak 2 kursi keduanya masih enggan membuka suara.
"Bagaimana kabarmu?" suara Soni memecah kecanggungan yang mendera. di perhatikan nya sang mantan istri yang sekarang menjadi lebih cantik.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. jadi jangan berfikir kalau aku tidak bahagia." entah kenapa jawaban Sinta sedikit dibumbui rasa kesal.
Soni tersenyum tipis, "aku bertanya baik-baik kenapa jawaban mu sekesal itu?."
"tidak tuh." Sinta mengalihkan pandangan saat tatapan Soni tak kunjung lepas dari nya.
"bukan urusan mu!" ketus wanita itu.
"kamu masih muda pasti butuh pria yang bisa menjaga mu dan Chiko pasti juga membutuhkan sosok ayah. karena aku tidak bisa setiap hari datang kerumah mu, aku takut di gerebek warga karena mendatangi janda cantik penghuni kontrakan paling ujung." sengaja menyelingi candaan agar suasana mencair, Soni menarik sudut bibir nya saat menangkap senyum tipis dari mantan istri yang sampai sekarang masih menghuni hati.
"aku tidak punya waktu untuk itu, lagipula aku sudah tidak percaya pada pria manapun. semua pria sama saja, merasa bosan sedikit dengan istrinya lalu mencari keindahan sesaat diluar. aku tidak mau menjalani hidup dengan Masalah seperti itu lagi. sudah cukup." Sinta menerawang jauh, mengingat penghianatan sang suami yang sampai sekarang masih membekas di hati.
"Sinta, kalau sekarang aku menjelaskan lagi masalah itu apa kamu mau mendengarkan?" meraih tangan Sinta, Soni mendesah saat tangan nya di tepis.
"tidak perlu ada penjelasan apapun. semua sudah selesai saat hakim mengetuk palu. penghianatan mu sudah tercetak jelas di otak dan hatiku. itu semua tidak akan hilang." Sinta bangkit dan berjalan menjauh.
mendesah pelan, Soni menerawang jauh. beberapa tahun lalu ia yang sedang di tugaskan bos nya menjemput seorang wanita di salah satu hotel tidak tahu kalau wanita itu adalah wanita simpanan bos nya.
__ADS_1
hari itu menjadi hari buruk nya, bos nya sengaja menjebak nya. membuat nya menjadi kambing hitam atas perbuatan yang sama sekali tidak dilakukan nya. saat wanita itu tiba-tiba membuka seluruh pakaian nya dan langsung mengunci pintu kamar. Soni yang merasa ia di jebak lantas berniat kabur, sial nya saat berhasil membuka pintu ia terkejut melihat keberadaan istri dengan istri bos nya sudah berada di depan pintu kamar.
Sinta yang saat itu sedang membantu Rosalia menemui selingkuhan suaminya sangat terkejut melihat Soni dengan tampilan berantakan keluar dari kamar wanita yang selama ini jadi target selingkuhan suami Rosalia.
Irawan datang dengan senyum puas, menggenggam mesra lengan sang istri.
" kamu lihat kan sayang, bukan aku yang selingkuh. Soni yang selingkuh dengan perempuan itu. kejadian yang kamu lihat tempo hari itu, wanita itu mendatangi ku dan bilang kalau dia hamil anak Soni. aku sebagai bos berniat membantu, tapi malah membuat istriku salah paham. maafkan aku ya. .. setelah ini aku akan memecat tukang selingkuh ini!" Irawan berdusta.
menatap tajam Soni, Irawan bersuara. "kamu kupecat mulai sekarang. besok ambil pesangon mu dan jangan kembali ke perusahaan ku lagi." ucap Irawan dengan tegas, ada seringai tipis di bibirnya.
"Tapi pak, saya tidak tahu ada apa ini. selingkuhan apa? saya tidak selingkuh. saya hanya menjalankan tugas yang bapak suruh untuk menjemput perempuan itu." Soni dengan panik mencoba menjelaskan.
"heh, sudah membuat kesalahan malah melemparkan nya pada orang lain. dasar tukang selingkuh, jangan asal bicara ya." bentak Irawan tidak terima.
Sinta yang masih syok lantas pergi dari hotel itu, Soni yang mengetahui itu mengejar Sinta yang tak mau ia dekati.
"Sinta kamu harus percaya sama aku, aku tidak kenal dengan perempuan itu. pak Irawan menjebaku. dia selingkuhan pak Irawan, bukan selingkuhan Ku. aku di jebak Sinta." Soni mencoba menjelaskan berharap istrinya percaya padanya.
"dengan tampilan mu seperti ini kamu berharap aku percaya padamu?" teriak Sinta, mencengkram baju suaminya.
"lihat, seluruh tubuhmu di penuhi oleh lipstik perempuan itu. mau mengelak apalagi son? beberapa hari ini tidak ada waktu untuk ku dan Chiko, ternyata ini yang kamu sembunyikan?" Sinta terisak di tempat nya berdiri, tidak peduli pada orang lain yang menonton mereka.
"beberapa hari ini aku lembur Sinta. kamu tahu sendiri pekerjaan ku. aku tidak pernah menyembunyikan apapun padamu. kita sudah lama bersama, tidak mungkin kamu tidak tahu sifat ku." suara Soni melembut.
"sifat bisa berubah seiring berjalan nya waktu kan?. setelah melahirkan badan ku tidak secantik dulu, dan kamu mungkin saja bosan padaku. aku memaklumi itu. tapi perselingkuhan ini tidak bisa aku maafkan. pergilah, tanggung jawab lah pada wanita itu. aku dan Chiko akan mengalah."
hanya itu kata terakhir yang Soni dengar dari mulut istrinya. setelah nya Sinta melayangkan surat gugatan padanya. dan pernikahan yang sudah terjalin 5 tahun itu kandas karena kesalahpahaman.
__ADS_1