Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 13. memendam curiga.


__ADS_3

mondar mandir di dapur sambil memegang buku kecil dan pulpen, Risha memeriksa barang apa saja yang sudah habis. seperti biasa yang di lakukan ibu rumah tangga lain nya, jika sudah akhir bulan adalah waktunya mengisi segala keperluan rumah yang sudah habis digunakan.


mencoret-coret kertas di baris terakhir, selesai sudah tugas bulanan nya. rencana sepulang kerja akan ke swalayan membeli segala yang tertulis di dalam kertas putih itu.


menghempaskan bokong nya di sofa ruang keluarga, Risha memberengut saat Reyhan masih saja asik dengan game.


"masih lama mas?" tanya nya, menatap layar tv yang menampilkan game yang sedang di mainkan suaminya.


"sebentar lagi, ini hampir finish. ada apa dek?" fokus pada layar tv, Reyhan tak menatap Risha ketika berbicara.


"besok sepulang kerja Adek mau langsung ke swalayan ya. kalau nunggu mas seperti nya kelamaan. mas nyusul saja ya?"


"oke mas nurut saja. tapi barang nya banyak nggak? yakin Adek bisa sendiri?" tanya Reyhan, sedetik kemudian ia bersorak saat memenangkan permainan.


"bisa kok, Adek kan kuat!" jawab Risha penuh percaya diri.


"iya deh... istri ku yang paling kuat sedunia." mengusap pipi istrinya dengan lembut, jemari Reyhan tak sengaja mengusap bibir mungil istrinya.


benda kenyal berwarna merah muda itu tampak mengkilap terkena polesan lipbalm.


Risha sudah menangkap gelagat tak biasa suaminya yang terus memusatkan pandangan nya pada satu titik, yaitu bibirnya. sedetik kemudian benda kenyal sudah mendarat di atas bibirnya. Risha yang ikut larut dalam suasana membuka sedikit bibirnya agar lidah sang suami leluasa masuk ke rongga mulut nya. menyesap, Melu*mat, menikmati rasa manis yang tercipta.


Risha melepaskan ciuman nya saat Reyhan membuka kancing baju tidur nya, baju tidur tipis berbahan satin itu sudah terbuka bagian atas nya.


"disini mas?" tanya Risha.


"hmmm." Reyhan hanya membalas dengan deheman.


pria yang sudah tampak bergairah menginginkan sesuatu itu menyibak gaun tidur istrinya hingga bagian depan sang istri terlihat dan hanya tertutup br*a saja.


Reyhan mengernyit, tidak biasa nya sang istri memakai bra jika habis mandi di sore harinya. wanita itu lebih memilih tidak memakai br*a setiap selesai mandi sore. kecuali kalau akan keluar malam harinya. Risha akan memakai nya.


"kok pakai br*a?" tanya Reyhan, menyingkap tali benda berwarna pink itu dari pundak istrinya.


"iya rencana nya mau ngajak mas makan diluar tapi ibu malah kirim makanan. tadi mau ku lepas tapi aku lupa mas." jawab Risha tersenyum kikuk.


Reyhan manggut-manggut dan meneruskan apa yang tadi sempat terhenti.


"disini mas?" tanya Risha lagi saat benda pembungkus buah dada nya dilempar Reyhan sampai di bawah meja tv.


"iya kita coba disini ya dek." jawab Reyhan dengan suara yang sudah tampak parau saat melihat gundukan kenyal keajaiban dunia milik istrinya terpampang di depan matanya.


Risha tidak jadi protes saat Reyhan sudah Mendaratkan bibirnya di atas bagian depan nya. yang keluar dari mulutnya sekarang hanya desa*han kenikmatan.


sampai jarum jam menunjuk pukul 11 malam, keduanya masih semangat saling bergerak mengikuti naluri masing-masing agar mencapai kepuasaan bersama.


***

__ADS_1


Reyhan yang sedang rapat dengan pak Edi dikejutkan oleh kedatangan Safira tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. nafas nya ngos-ngosan, raut wajah panik memenuhi wajah cantik nya.


"maaf pak saya izin kerumah sakit. ibu saya kecelakaan." ucap Safira dengan suara bergetar.


Reyhan yang mendengar isakan keluar dari bibir Safira merasa tidak tega.


"jam segini pasti mencari taxi susah. kalau pesan ojek online kelamaan. saya antar saja fir." ucap Reyhan menawarkan diri. dan di angguki oleh Safira.


mobil yang dikendarai Reyhan sampai dirumah sakit lebih cepat dari biasanya, mengikuti langkah cepat kaki Safira menuju UGD tempat ibunya sedang dirawat.


menangkup kedua tangan nya didepan dada, Safira berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa ibu nya. orang tua satu-satunya, Safira tidak ingin kembali merasakan kehilangan setelah 1 tahun kepergian sang ayah.


menatap pintu UGD yang di buka dari dalam, dada Safira bergemuruh hebat saat para perawat keluar masuk dengan tergesa-gesa.


"dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" Safira bertanya pada dokter perempuan dengan rambut sebahu.


"pasien sedang kritis, tapi kami akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan nya. sekarang pasien akan di pindah ke ICU." jawab dokter itu, menepuk bahu Safira pelan memberi kekuatan dan mengikuti perawat yang mendorong brangkar tempat ibu Safira terbaring lemah.


mondar mandir di depan ICU, Safira tidak bisa tenang. bibirnya tak berhenti melafalkan doa-doa memohon ibunya agar diberi keselamatan.


Reyhan dan pak Edi yang duduk dikursi panjang hanya menatap Safira dengan tatapan kasihan. tidak tahu harus berbuat apa selain hanya menemani. ya, Reyhan sengaja mengajak pak Edi agar tidak ada kesalahpahaman atau fitnah. karena Reyhan pria yang sudah beristri, niat nya hanya tulus membantu Safira.


dulu saat dia SMA ibunya juga pernah mengalami kecelakaan, walaupun ringan tapi Reyhan tahu betul rasanya. jantung seakan berhenti berdetak saat menunggu hasil dari dokter, seperti yang dirasakan Safira saat ini.


ceklek


"pasien sudah berhasil melewati masa kritis nya, tapi untuk sementara tidak bisa di jenguk. setelah keadaan lebih stabil baru bisa di pindah ke ruang perawatan." ucap nya pada Safira yang menghembuskan nafas lega.


entah saking bahagia nya, Safira tiba-tiba memeluk Reyhan. menenggelamkan wajah sembab nya di dada bidang Reyhan.


Reyhan yang terkejut lantas mendorong Safira ke arah pak Edi yang sigap menangkap nya.


"maaf, aku kaget tadi. aku pria yang sudah beristri. jadi kalau kamu butuh pelampiasan kelegaan mu, silahkan ke pak Edi saja yang jelas-jelas single." ucap Reyhan tiba-tiba, membuat Safira buru-buru melepaskan tangan pak Edi yang memegang pinggang nya.


"maaf pak Edi, saya harus segera pulang. istri saya sudah menunggu. jadi saya titip Safira pada pak Edi ya." imbuh pria itu dan berlalu pergi walaupun pak Edi terus memanggilnya.


sedangkan pak Edi dan Safira berpandangan dengan canggung. pak Edi menatap tangan nya yang tadi memegang pinggang Safira, ada senyum tersembunyi. pria yang berstatus duda 2 anak itu berbunga-bunga bisa memeluk wanita yang diam-diam ia sukai.


"aku tidak akan mencuci kemeja ini dan tangan ini. ahh tuhan, terimakasih sudah memberiku kesempatan bisa memeluk Safira. hatiku bergetar dan jantungku seakan berhenti berdetak."


di dalam mobil, Reyhan menggerutu kesal saat ternyata hp nya kehabisan batrei. buru-buru menjalankan mobil nya, Reyhan berganti khawatir dengan sang istri tanpa menyadari ada sesuatu di kemejanya.


***


Risha yang sudah selesai berbelanja tengah menunggu Reyhan di depan swalayan dengan memegang troli yang berisi beberapa kantong plastik besar.


wanita dengan rambut di kuncir rapi itu menekan nomor suaminya.

__ADS_1


"kenapa tidak aktif? apa hp mas Rey mati?" gumam Risha, mencoba menghubungi kembali suaminya tapi berakhir sama.


menghela nafas sebentar, Risha menenangkan kekhawatiran yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya.


"pasti lagi di jalan." ucapnya menenangkan diri. karena 15 menit yang lalu ia sudah mengirim pesan pada Reyhan kalau sudah selesai berbelanja dan sedang mengantri di depan kasir.


Risha menatap sekeliling yang masih tampak ramai, matanya berbinar saat melihat penjual eskrim di samping pintu masuk. membeli eskrim dengan rasa vanilla, wanita itu memilih duduk sambil menikmati makanan dingin yang menyegarkan itu.


eskrim di tangan sudah habis, waktu sudah berlalu hampir 30 menit tapi suami yang ditunggu tak kunjung tiba. Risha semakin was-was. jemari lentiknya kembali mengetik pada benda pipih menyala. memutuskan kembali menghubungi tapi masih berakhir sama seperti setengah jam yang lalu.


berpindah menghubungi sang Abang sepupu, tapi berakhir jawaban tidak tahu karena Dika tidak ikut rapat. tapi jawaban terakhir Dika membuat hati Risha berdesir.


"Reyhan sedang rapat dengan pak Edi dan Safira"


Tidak mau berprasangka buruk, Risha segera menepis rasa curiga di dada. memilih tetap menunggu, karena suaminya itu tidak pernah ingkar janji.


harapan tinggal harapan, sampai swalayan terlihat sepi. hanya terlihat pegawai yang membereskan barang, Risha terkejut saat wanita muda memanggil.


"maaf kak, trolinya mau di masukan. sudah mau tutup." ucap gadis muda dengan senyum ramah walaupun wajahnya tampak jelas gurat kelelahan.


"ah iya," Risha menurunkan barang nya sambil dibantu gadis itu.


"belum di jemput kak?" tanya gadis itu.


"belum, mungkin sebentar lagi." jawab Risha.


gadis itu mengangguk, memilih meneruskan menurunkan belanjaan Risha. saat itu juga mobil yang sejak tadi ia tunggu kini datang dan berhenti di depan nya.


"terimakasih" ucap Risha pada gadis itu saat semua belanjaan nya berhasil diturunkan.


gadis muda itu mengangguk dan mendorong troli masuk, meninggalkan Risha.


"maaf dek, tadi ada keperluan mendadak sebentar." ujar Reyhan pada Risha, gurat kelelahan tampak jelas di wajah suaminya.


"iya gapapa mas." jawab Risha, tidak mau memperpanjang masalah. ia akan bertanya pada Reyhan nanti saat sudah dirumah.


Reyhan yang tidak terlihat mau menjelaskan sesuatu membuat Risha hanya diam dengan perasaan penasaran.


di dalam mobil, keduanya saling diam. Reyhan fokus pada jalanan dan Risha pun hanya terdiam dengan fikiran yang ramai di kepala.


"ada banyak yang perlu di bahas ya mas? kok tumben sampai selarut ini?" tanya Risha, mencoba berbasa-basi demi kelancaran mencari jawaban yang membuatnya gelisah sejak tadi.


merasa peka dengan pertanyaan sang istri yang mengandung rasa curiga, Reyhan melirik istrinya.


"sebenarnya mas tadi nganterin Safira ke rumah sakit dek. ibunya kecelakaan." terang Reyhan.


Risha menoleh pada suaminya tapi matanya menangkap sesuatu pada kemeja sang suami. bekas lipstik berwarna bata itu menempel di kemeja sang suami.

__ADS_1


deg!


__ADS_2