
hari ini kedua orang tua Reyhan datang berkunjung di rumah nya. mendengar kabar kondisi menantunya membuat kedua orang itu langsung bergegas kemari padahal baru saja dari luar kota. tak lupa membawakan oleh-oleh agar bisa di nikmati putra dan menantu nya.
"sebenarnya apa yang terjadi, bagaimana bisa sampai diharuskan bedrest?" tanya ibu Reyhan tak sabaran, dia duduk di samping menantu nya.
"kandungan Risha lemah Bu, karena kecape'an dan stress kata dokter. jadi sementara bedrest dulu selama tiga hari. jika flek masih saja keluar akan dirujuk ke rumah sakit untuk tindakan." jawab Reyhan.
"berhenti kerja saja, istri lebih baik dirumah. mengurus suami, rumah dan anak. lebih besar pahala nya." celetuk bu Sukma.
Risha melirik sang suami dengan tatapan sedih.
"bagaimana mau nya Risha saja Bu, tidak gampang lho mendapat pekerjaan yang sekarang. lagi pula itu dulu cita-cita Risha. mau menjadi wanita karir walau sudah menikah." jawab Reyhan mencoba menengahi. di tatap seperti itu oleh istrinya membuat pria itu tidak tega. walaupun sebenarnya Reyhan mengharapkan hal yang sama dengan ibunya.
"Bu, jangan mencampuri urusan anak." pak Roshan menasehati istrinya.
"tapi.." Bu Sukma tak melanjutkan ucapan nya saat mendapat tatapan tajam dari sang suami. "terserah kalian saja." ucapnya.
"ibu bawa oleh-oleh apa?" tanya Reyhan, mencairkan suasana setelah perdebatan kecil mereka.
"wah ada bakpia, Adek suka ini kan?" tanya Reyhan menatap sang istri sambil menunjukan bakpia pathok yang kelihatan enak.
mata Risha berbinar, dia memang menyukai makanan itu. apalagi khas Yogyakarta.
"ada yang lain juga, ayo di makan nak Risha. harus makan banyak soal nya tidak hanya untuk kamu tapi juga bayi yang sedang berada di perut mu." ujar Bu Sukma, mengeluarkan berbagai makanan. ada juga buah-buahan yang ia beli saat perjalanan kemari.
"ada buah juga, alpukat bagus untuk ibu hamil. ibu buatkan jus ya." Bu Sukma langsung ke dapur, membawa buah alpukat yang ia beli.
saat ibunya sedang sibuk mengerok buah alpukat, Reyhan mendekat melihat aktifitas ibunya.
"dimana blender nya?" tanya Bu Sukma.
" di bawah ibu." jawab Reyhan. Bu Sukma lagsung membuka rak itu mengambil blender yang di maksud.
"kamu yakin akan membiarkan istrimu bekerja?" tanya Bu Sukma, dengan cekatan memasukan alpukat ke dalam blender.
__ADS_1
"itu cita-cita Risha Bu. aku tidak mau menghalangi keinginan nya." jawab Reyhan, mengambilkan air dan gula.
"kamu kan suami, kamu kepala rumah tangga nya. kamu punya kekuatan untuk mengatur istrimu mas. lagian mengatur untuk kebaikan apa susah nya menurut saja." gerutu Bu Sukma, gerutuan nya mengalahkan suara blender.
Reyhan terdiam, dia sangat ingin jika istrinya dirumah saja fokus dengan kehamilan. tapi Reyhan juga tidak tega jika harus melarang sang istri bekerja.
"memang nya kalau terjadi apa-apa dengan anak kalian apa kalian tidak akan menyesal nanti? sudah di percaya Tuhan apa iya mau di sia-sia kan?" imbuh Bu Sukma, menuang jus itu ke dalam gelas kaca.
"ya jangan berkata seperti itu Bu." keluh Reyhan.
"ya habis bagaimana, kandungan lemah itu harus benar-benar di jaga mas. harus konsisten. kalau Risha bekerja dan kecape'an lalu pendarahan lagi bagaimana?" Bu Sukma menyodorkan segelas jus itu pada Reyhan.
"berikan pada istrimu." ujar Bu Sukma. dia membereskan barang yang tadi ia gunakan. tidak mau membuat sang menantu kecapean dan berimbas pada calon cucu pertama nya.
Reyhan menurut, keluar dapur dengan membawa segelas jus itu. tapi sampai di ruang tamu dia tidak melihat keberadaan istrinya.
"Risha dimana yah?" tanya Reyhan.
"di kamar. ayah suruh istirahat saja." jawab pak Roshan.
"di minum dulu jus nya dek." ucap Reyhan, Risha menurut menegak habis segelas jus alpukat itu.
"astaga, pelan-pelan saja. kamu haus?" Reyhan menggelengkan kepalanya.
"tidak, biar cepat habis saja. mas lupa ya kalau aku tidak suka alpukat tanpa susu?" sindir Risha cemberut.
"oh iya mas lupa. maaf ya, lain kali mas kasih susu dulu." ucap Reyhan lembut.
Risha kembali merebahkan diri, membaca buku yang ia baca tadi.
"dek.." panggil Reyhan lembut.
"kenapa? mas mau nyuruh aku berhenti kerja ya?" tebak Risha tepat sasaran.
__ADS_1
"kondisi nya kan seperti ini, apa tidak sebaik nya kamu berhenti saja. kalau kondisimu sehat pasti mas juga tidak akan melarang." ucap Reyhan dengan hati-hati tidak mau membuat istrinya tersinggung.
"tidak, aku baik-baik saja kok. anak kita juga baik-baik saja. pasti 3 hari lagi flek nya sudah berhenti." kekeh Risha, meyakinkan Reyhan.
"ya sudah semoga baik-baik saja ya." ucap Reyhan lemah, membujuk istrinya memang tidak mudah.
keesokan harinya Risha yang sedang berada di kamar mandi tersenyum senang saat tidak mendapatkan bercak darah di ****** ***** nya. ibu hamil itu mengusap perut rata nya. berterimakasih pada sang janin yang masih meringkuk di rahim ibunya.
kembali ke kasur, Risha menunggu Reyhan yang masih bergelung dengan wajan dan alat lain nya di dapur. rupanya calon ayah itu sedang memasak untuk sang istri tercinta. menu sayur bayam, tempe dan ayam goreng tak lupa sambal tomat menjadi pilihan nya pagi ini.
dengan hati yang senang, Reyhan menyiapkan makanan untuk istrinya di atas nampan. membawa nya seperti pramusaji di restoran yang siap mengantar pesanan untuk pelanggan.
masuk ke dalam kamar, Reyhan sudah disambut dengan senyum sumringah sang istri.
"sarapan sudah siap." ujar Reyhan, menaruh nya di meja kecil di depan istrinya.
"wahh kelihatan enak sekali. sambal nya nggak pedes kan mas?" tanya Risha.
"nggak dong, ini sambal khusus ibu hamil jadi tidak pedas." jawab Reyhan tersenyum.
menyendokan nasi lalu menyuapi sang istri dengan telaten. Reyhan membuat Risha terharu.
"mas, Adek sudah ngga flek lho." ucap Risha dengan senyum Pepsodent yang memperlihatkan deretan gigi nya yang putih.
"Alhamdulillah, semoga seterusnya begitu ya." ucap Reyhan, pria itu mengusap perut istrinya .
"sehat-sehat di dalam sana ya sayang." ucap nya pada sang janin.
"jadi Adek sudah boleh berangkat kerja kan mas?" tanya Risha antusias.
"satu hari lagi ya, kalau benar-benar tidak keluar lagi baru boleh bekerja." jawab Reyhan lembut. menyuapkan nasi ke dalam mulut istrinya.
Risha mengangguk, menuruti ucapan sang suami.
__ADS_1
di dalam hati entah kenapa Reyhan ragu-ragu mengizinkan istrinya yang ingin bekerja lagi. ini bukan soal dia tidak sanggup menghidupi istrinya, bahkan gaji nya lebih dari cukup. tapi ini soal impian istrinya, Reyhan tidak tega tapi disisi lain dia merasa tidak rela.