
terbangun saat tenggorokan nya merasa kering, Reyhan keluar kamar menuju dapur. menyiram tenggorokan nya dengan segelas air putih dingin membuat rasa haus nya hilang.
merasa ada yang aneh, Reyhan menatap sekelilingnya. keberadaan sang istri tak nampak sedikit pun. melangkahkan kaki ke arah kamar tamu, perasaan Reyhan berubah panik saat tidak mendapati keberadaan istrinya.
berlari ke dalam kamar dan mengambil hp nya, lagi-lagi Reyhan bertambah gusar saat dering hp terdengar dari meja makan. hp Risha tergeletak diatas meja.
teringat bentakan nya saat bertengkar tadi membuat Reyhan dilanda penyesalan. mobil masih ada di garasi, Reyhan menghela nafas berat memikirkan istrinya pergi dengan berjalan kaki.
menelepon Sinta teman dekat risha dikantor tapi Reyhan menelan kecewa saat istrinya tidak bersama dengan Sinta. beralih menelefon Dika hingga dara tapi harapan nya pupus saat jawaban yang sama terlontar.
mondar mandir di ruang tamu, Reyhan ragu-ragu saat hendak menghubungi Rahma sang kakak ipar. tapi tidak ada pilihan lain, rasa panik nya yang memberontak membuat nya harus berfikir cepat.
"halo assalamualaikum kak Rahma, ini Reyhan." pria dengan wajah pias itu memulai pembicaraan.
"ya ada apa Rey?" jawaban dari sebrang tampak bising, terdengar suara anak-anak yang sedang bertengkar. itu adalah anak kembar Rahma.
"kak maaf, apa Risha ada di rumah kakak?"
"nggak ada tuh, dirumah bapa juga nggak ada. ini aku lagi dirumah bapak. memang nya ada apa? Risha nggak pamit saat mau pergi?" Rahma bertanya dengan tenang.
"emm iya kak, tadi kami sedikit terlibat pertengkaran. karena mau nenangin diri, aku malah ketiduran dan saat bangun Risha tidak ada dirumah. hp nya juga tidak di bawa."
Rahma bisa mendengar suara panik Reyhan. "tenang dulu Rey, maaf ya Adek memang seperti itu kalau sedang ada masalah. biasanya dia keluar sendirian buat nenangin diri. nanti kalau sudah tenang pasti pulang lagi kok. di tunggu saja, kalau sampai lama nanti hubungin kakak biar tak bantu nyari."
walaupun sudah mendapat omongan seperti itu dari Rahma tak juga membuat Reyhan tenang. dia takut terjadi apa-apa dengan istrinya, apalagi sudah pukul setengah 9. memutuskan untuk mencari, Reyhan megambil kunci mobil nya. dia tidak bisa hanya menunggu dirumah disaat istrinya tidak ada.
buru-buru memakai jaket kulit nya Reyhan tersentak saat ia membuka pintu berbarengan dengan Risha yang juga membuka pintu.
"mas mau pergi?" dengan tatapan polosnya, wanita itu menatap suaminya yang juga tengah menatap nya.
"darimana kamu?" Reyhan sedikit membentak, mungkin karena sejak tadi panik dan sekarang Risha muncul dengan wajah tanpa merasa bersalah.
menundukkan kepala nya, Risha tidak berani bersitatap dengan sang suami yang tampak marah.
__ADS_1
"maaf, Adek tadi pergi arisan dirumah Bu Marni. arisan nya dimajukan hari ini karena lusa Bu Marni mau keluar kota." jemari Risha saling bertaut, meremas bungkusan plastik hitam yang diberikan Bu Marni tadi.
"kamu tahu kan kalau istri keluar rumah tanpa izin suami itu nggak boleh?" suara Reyhan sedikit melembut tapi juga menegaskan.
"maaf, tadi Adek mau izin tapi mas nutup pintu kencang banget. tapi Adek ganti dengan izin lewat kertas di atas meja." Risha melirik meja tamu, kertas yang ia tulis tadi masih tergeletak disana tanpa berubah posisi sedikitpun saat ia tinggal tadi.
Reyhan mengikuti arah mata Risha, pria itu menghembuskan nafas kasar saat tidak menyadari kertas itu disana. rasa panik dan khawatir membuat nya tidak bisa tenang.
"Adek ke kamar dulu." pamit nya berlalu meninggalkan Reyhan yang masih diam mematung.
***
tengah malam, Reyhan tidak bisa tidur. berganti posisi ke sembarang arah tapi matanya tak juga mau terpejam.
"kalau begini terus malah makin kacau, Rey kau itu laki-laki. mengalah lah." Reyhan bergumam sendiri.
melompat dari tempat tidur, pria dengan rambut berantakan itu memutuskan untuk menyusul sang istri di kamar sebelah.
merebahkan diri disamping istrinya, tangan kekar nya terulur memeluk sang istri dari belakang.
Risha yang sudah terbangun sejak pintu kamar nya di buka hanya terdiam. dia bingung, disatu sisi hatinya masih ragu tapi disatu sisi ia berusaha percaya dengan suaminya.
Reyhan mengangkat kepala nya melihat sang istri saat tangan nya terasa mendapat sentuhan. tapi Reyhan kembali merebahkan kepalanya saat melihat Risha masih terpejam.
"Dek, mas benar-benar minta maaf. mas menawarkan diri untuk menolong Safira karena tulus dari rasa kasihan. dulu ibu pernah jatuh dari motor saat mas SMA. mas tahu rasanya seperti apa saat mendengar kabar ibu kita kecelakaan." Reyhan memulai penjelasan, walaupun berulang-ulang ia tidak peduli. dia hanya butuh istrinya memaafkan nya.
"soal bekas lipstik, kita sama-sama tanya sama pak Edi besok."
Risha bisa merasakan hembusan nafas Reyhan di belakang lehernya. berbalik dan memeluk erat Reyhan, tangis Risha pecah.
"kok nangis? maafin mas ya." Reyhan mencium lembut kepala sang istri yang terbenam di dadanya.
"maafin Adek juga ya mas. Adek cemburu."
__ADS_1
"bagus dong kalau cemburu tandanya Adek cinta sama mas. mas janji akan lebih hati-hati bersikap biar adem nggak cemburu. tapi tumben nangis sampai kayak gini, Adek kan biasanya kuat setegar karang. mas perhatikan akhir-akhir ini Adek gampang berubah suasana. tiba-tiba marah, tiba-tiba nangis. mau dapat tamu ya?"
Risha mendongak menatap suami nya. "mungkin sebentar lagi." jawabnya.
menghapus air mata yang berjejak di pipi istrinya, tatapan Reyhan berhenti pada bibir ranum sang istri yang dibalut lipstik peach. tampak manis dan menggiurkan.
baru saja memajukan bibir nya tapi jemari Risha Sudan menahan nya.
"kok di tutup?" protes Reyhan.
"nggak boleh cium, Adek belum dengar penjelasan dari pak Edi." ucap Risha cemberut.
"yah... mas harus nahan lagi nih?" protes Reyhan menghembuskan nafas pelan.
***
alunan lagu terdengar merdu menghiasi cafe di salah satu lokasi tak jauh dari pusat kota. biang Lala raksasa tampak berputar dengan Kerlip lampu di setiap badan nya. banyak juga anak muda yang menghabiskan waktu dengan menongkrong dengan teman-teman nya.
"sayang aku ke toilet bentar ya?" Rendy bangkit dari duduk nya menuju belakang.
mengikuti setiap langkah pacar nya, dara bergerak cepat mencari sesuatu dalam hp milik Rendy saat pria itu sudah tidak terlihat.
bak detektif Conan, jemari dara bergerak dengan lincah nya memasuki semua akun sosial media sang kekasih yang dicurigai nya.
memulai dari aplikasi berwarna hijau, mata nya membaca satu persatu deretan pesan yang ada. merasa tidak menemukan sesuatu, dara beralih pada aplikasi lain nya. mendengus kesal saat tidak juga menemukan apapun yang mencurigakan.
masih sibuk mencari-cari sampai akhir nya matanya membulat saat pesan masuk dengan nama yang terlihat aneh, hanya singkatan huruf saja.
"RGN? singkatan apa ini?"
baru saja mau membuka pesan itu tapi ujung mata dara melihat kedatangan Rendy, buru-buru menaruh benda pipih itu ketempat semula. dengan dada berkecamuk hebat, rasa penasaran dara akan nama kontak itu begitu besar.
"singkatan apa itu?"
__ADS_1