Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 17. perlengkapan bayi.


__ADS_3

nggak mau mampir dulu?" tanya dara pada Rendy yang mengangkat pergelangan tangan.


"lain kali saja ya, sudah malam nggak enak sama tetangga." jawab Rendy lembut.


Rendy mencium kening dara dengan mesra nya, mengusap lembut pipi dara yang tampak merona entah karena sikap manis Rendy atau dingin nya angin malam.


buru-buru menutup bibir Rendy dengan jari telunjuk nya, dara menyeringai lebar.


"kalau mau yang satu itu harus nikahin aku dulu." ucap dara tersenyum hangat.


Rendy mendesah pelan, sejak pertama pacaran dara tidak mudah tersentuh. gadis itu hanya memperbolehkan prianya untuk mencium kening atau pipi karena dara ingin ciuman pertama nya dilakukan pada suaminya kelak.


selama 2 tahun ini Rendy menurut dan tak banyak protes, pria itu tidak pernah melanggar aturan yang diberikan dara. walaupun ia sebenarnya sangat ingin mencium bibir tipis bak buah ceri yang selalu terlihat menggoda itu. demi rasa cinta nya pada sang wanita, Rendy tidak pernah menyentuh lebih dari yang dara perbolehkan. itupun hanya cium kening, pipi dan pelukan.


"baiklah aku pulang dulu ya, jangan begadang Ra. aku nggak mau kamu sakit." ucap Rendy tersenyum hangat dan kemudian masuk ke mobil nya.


melihat mobil Rendy yang sudah melaju, dara buru-buru masuk ke dalam rumah mengambil kontak motor nya.


"Dara mau kemana lagi nak?" teriak Pratiwi memanggil anak nya yang sudah memakai helm.


"dara ada kepentingan mendadak ma, sebentar saja kok. janji nggak pulang malam banget." jawab dara yang langsung melajukan motor nya secepat kilat.


Pratiwi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak nya kenapa bisa sama persis dengan dirinya saat muda dulu.


melajukan motor nya seperti dikejar setan, dara menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi pandangan nya dari mobil Rendy. dara memelankan laju motor nya saat mobil Rendy tiba-tiba menyalakan lampu sein ke kiri. berhenti di pinggir jalan tak jauh dari tempat Rendy berhenti, dara terperangah saat membaca tulisan yang ada di depan sebuah toko.


"toko perlengkapan bayi?" gumam dara. "untuk apa Rendy kesana?".


setelah 15 menit menunggu akhirnya Rendy keluar dengan 2 kantong plastik. dara mulai melajukan motornya kembali saat Rendy juga melajukan mobilnya.


rasa penasaran dan rasa curiga bercampur jadi satu di hati dara, ia ingin tahu kemana Rendy akan membawa perlengkapan bayi itu. setahunya Rendy tidak punya adik yang masih bayi, karena adiknya sudah kuliah.


dara beberapa kali menggerutu kesal saat motornya di salip oleh kendaraan dibelakang. hampir saja ia kehilangan jejak Rendy.


dara tersentak saat merasakan ada yang beda dengan motornya, lajunya berubah pelan dan beberapa detik berhenti.


"Ya Tuhan, kenapa bensin nya habis sih?" protes dara, menatap mobil Rendy yang sudah hilang bak ditelan bumi.


menendang motornya diselingi umpatan, terpaksa ia mendorong motornya menuju pinggir jalan. rasa penasaran nya pupus sudah, padahal ia sempat membaca pesan dari nama kontak singkatan itu.


"RGN dan Rendy beli baju bayi. apa keduanya ada kaitan nya?" gumam dara, berjongkok disamping motor nya.


"Halo Ra, ada apa?" suara Dika di seberang sana. ternyata dara menghubungi sahabat sejak ia kecil itu.


"ka motor ku kehabisan bensin di daerah Mijen. sudah nyari-nyari pom mini tapi sudah pada tutup." sahut dara dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"astaga Ra kamu ngapain sampai sana? sudah malam loh ini." Dika menatap jam dinding di ruang tamu nya. "ya Allah, sudah jam sepuluh." Dika menepuk jidat nya.

__ADS_1


"sudah jangan banyak tanya, cepat susulin aku ka. nanti aku ceritain, aku takut nih ada beberapa orang yang dari tadi merhatiin aku." ucap dara sedikit pelan, bergidik ngeri menatap beberapa pria tak jauh dari lokasinya.


"kamu tunggu situ, jangan kemana-mana kalau mereka macam-macam teriak yang kenceng atau lapor polisi oke?. aku kesana sekarang." ucap Dika langsung mematikan sambungan telfon nya.


"mau kemana mas?" tanya Rani ibu Dika.


"mau nyusul dara Bu, motornya kehabisan bensin di tengah jalan." jawab Dika, berlalu ke kamarnya mengambil kunci mobil dan jaket nya.


"lhoh lha ini gimana? acaranya belum selesai mas. jangan pergi, nggak sopan." bisik Rani, melirik 3 orang tamu yang juga menatap Dika dengan bingung.


"pokoknya Dika sudah memutuskan untuk perkenalan dulu Bu, aku nggak mau langsung nikah cuma gara-gara dijodohkan bapak saat kecil dulu." protes Dika, melirik wanita cantik yang tampak menunduk di kursi tamu.


"Dika berangkat dulu, kasihan dara nunggu sendirian tengah malam gini." setelah berpamitan Dika berlalu keluar rumah.


sedangkan Rani tersenyum canggung pada tamu nya.


"jadi gimana ran apa Dika mau menikah dengan Widya?" tanya Ihsan bapak Widya.


"Dika tadi bilang nya sih mau perkenalan dulu mas Ihsan. tolong di maklumi ya namanya anak muda, jadi biarkan mereka berdua pendekatan dulu. nggak apa-apa kan nak Widya?" tanya Rani pada Widya di samping nya.


"nggak apa-apa Tante, benar kata mas Dika kita bisa pendekatan dulu." jawab Widya lembut.


***


Dika memperhatikan kiri dan kanan jalan mencari keberadaan dara. saat ia melihat beberapa pria disamping motor dara, pria itu buru-buru menghentikan mobil nya.


"ah Alhamdulillah sudah datang pacarnya." ucap salah satu pria itu.


"pacar?" tanya Dika.


"iya mas, ini pacarnya tadi kehabisan bensin. kami perhatikan seperti nya mba nya ketakutan jadi kita samperin." jelas salah satu pria itu.


"Dika!" dara menghambur memeluk Dika. "tadi bapak-bapak itu yang sudah tolongin aku, Sampai di cariin bensin segala." adu dara pada pria yang kini tengah merona tanpa gadis itu sadari.


menyadarkan kembali fokus nya, Dika menatap dua orang yang mencoba menstater motor dara.


"wah sepertinya aki nya rusak nih mas. sudah di isi bensin tapi nggak bisa di stater." ucap pria yang memperbaiki motor dara.


"nggak apa-apa pak, nanti saya titip motornya ke rumah teman saya saja. kebetulan rumah nya di dekat sini." jawab Dika. " sebelumnya terimakasih ya pak sudah mau menolong teman saya." ucap Dika tulus.


"lhoh bukan pacar nya to?" bapak-bapak yang berbicara pertama kali tadi nyeletuk.


"hehe bukan pak, kita sahabatan dari kecil."


"wah padahal cocok lho mas." ucap bapak itu lagi membuat Dika dan dara saling lirik.


saat sudah di dalam mobil perjalanan pulang dari rumah teman Dika, kedua orang itu saling diam. Dika menatap dara yang menyandarkan kepalanya pada jendela mobil. menatap kearah luar.

__ADS_1


"ngapain sih Ra malam-malam ke daerah sini?" tanya Dika.


dara menghela nafas pelan " tadi aku ngikutin Rendy kesini."


"kenapa? ini kan bukan arah rumah Rendy. bukan nya tadi kalian jalan berdua ya?"


"iya, tapi tadi pas aku ngecek hp Rendy. aku nemuin nama kontak yang aneh. masa nama kontak nya RGN. aneh banget! dan aku nggak sengaja baca pesan masuk dari RGN itu yang butuh Rendy cepat datang bawa pesanan nya." cerita dara, wajah gadis itu berubah sendu.


"mungkin keluarga nya." Dika mencoba menenangkan dara.


"kami pikir aku ini nggak tahu keluarganya Rendy yang mana aja hah?" sentak dara kesal.


"santai dong, gitu aja ngegas."


"tadi tuh aku lihat Rendy berhenti di toko perlengkapan bayi. trus dia keluar dengan 2 kantong besar dan Pati isinya baju bayi. apa jangan-jangan Rendy sudah punya istri?" dara menatap Dika mencari jawaban.


cittt....


mobil yang dikendarai berhenti mendadak akibat Dika yang terkejut dengan ucapan dara.


"halusinasi mu itu kejauhan banget Ra!" Dika menyentil kening dara.


"awww!" pekik dara.


"ya siapa tahu aja kan itu sepupu atau saudara jauh nya. jangan negatif thinking terus deh Ra. nanti kalau jadi kenyataan baru nangis-nangis ke aku awas aja!" sungut Dika.


"oh kok kamu nggak terima sih,? jangan-jangan..."


"apa?"


"jangan-jangan kamu suka sama Rendy!" dara tergelak keras saat melihat raut wajah kesal Dika. 'jeruk makan jeruk, ya Allah ka aku nggak bisa bayangin." dara masih tertawa, memikirkan pikiran konyol nya itu menjadi kenyataan.


"sembarangan kalau ngomong!" Dika menyentil lagi kening dara.


"aww sakit tau ka!" protes dara merasa panas di jidat nya.


"makanya jangan asal ngomong!" seru Dika.


dara yang masih tertawa tiba-tiba berhenti saat melihat sesuatu di baju Dika. menajamkan penglihatan nya, tanpa sadar dara mendekatkan dirinya pada Dika hingga membuat jantung Dika berdetak tak karuan.


"apa sih Ra?"


"ini ada daun di baju mu." jawab dara, tangan nya berpegangan pada kursi mobil yang di duduki Dika.


Dika menatap dara yang jarak nya sangat dekat dengan nya, membuat dadanya berdegup kencang.wanita yang selama ini ia sukai dalam diam itu terlihat sangat cantik dilihat dari sedekat ini. sampai akhirnya dara pun melirik Dika dan terkejut saat jaraknya sedekat ini akibat nya dara buru-buru mundur tapi sayang nya pegangan tangan nya terlepas dan tubuhnya terdorong ke arah Dika hingga...


cup~

__ADS_1


kedua bibir itu saling bertabrakan, membuat keduanya membelalakan mata mereka masing-masing.


__ADS_2