
"bulshit! kamu cuma nggak mau tidur sama aku. karena kamu pasti takut kalau ketahuan sudah tidak perawan karena sudah tidur sama Dika kan?" tuduh Rendy. ia selalu benci jika dara lebih dekat dengan Dika daripada diri nya.
"TUTUP MULUT MU SIALAN!"
dan seketika Rendi tersungkur ke belakang saat seseorang berteriak dan memukul keras pipi nya. semua orang melihat ke arah yang sama, Dika dengan wajah penuh amarah hendak memukul Rendi kembali tapi di tahan dara.
"sudah ka sudah." cegah dara, memegang lengan Dika agar pria itu tidak melakukan tindakan kekerasan lebih jauh lagi.
"breng*sek! Lo yang salah kenapa malah balikin keadaan, Lo yang nge*e sama perempuan itu kenapa nyalahin dara yang ngga mau tidur sama Lo!" umpat Dika, dia semakin geram saat regina masuk ke dalam rumah dan kembali keluar seorang diri lalu membantu Rendi berdiri. seperti nya wanita itu menaruh dulu bayi nya.
"gue minta Lo jauhin dara! jangan pernah muncul di hadapan dia lagi atau gue akan bertindak lebih dari ini." ancam Dika.
Rendi tersenyum sinis "emang apa hak Lo nglarang gue ketemu dara?"
"sejak dulu, Lo selalu jadi masalah dalam hubungan gue dan dara. ngga cape' jadi badut untuk dara yang selalu menghibur dia saat bertengkar sama gue?. Lo harus nya sadar, Lo tuh cuma badut sialan!. sebesar dan sebanyak apapun dara nyari Lo saat berantem sama gue. tapi dia tetap balik lagi ke pelukan gue. dan Lo? apa yang lo dapat hah?!" cibir Rendi.
"cinta berkedok sahabat, hah pengecut!"
Dika yang tersulut emosi lantas, menarik kerah baju Rendi. "kalau gue cinta sama dara kenapa hah? jangan melewati batasan mu Rendi gunawan!"
"ka sudah!" teriakan dara berhasil menghentikan kepalan tangan Dika yang sudah hampir saja mengenai wajah Rendi.
"pukul gue pukul!" tantang Rendi, menyodorkan pipi nya lebih dekat pada tangan Dika.
"omongan gue bener kan?" cibir Rendi, tersenyum puas melihat Dika yang terdiam.
"ayo pulang!" Dika lantas menarik tangan dara, dara hanya menurut, menyeimbangi langkah panjang Dika yang menggandeng tangan nya.
Rendi yang melihat dara diajak pergi lantas mengejar Kedua orang itu.
"tunggu Ra, kita belum selesai. ingat kita belum putus kalau aku belum menyetujui!" ucap Rendi mengikuti dara dan Dika.
mendengar ucapan Rendi membuat Dika menghentikan langkah nya kembali.
"berhenti di situ atau gue bunuh Lo!" ancam Dika menatap Rendi dengan tatapan siap membunuh lalu pria itu kembali menarik lengan dara.
dara yang berjalan cepat mengikuti Dika sempat menoleh ke belakang, melihat regina menghampiri Rendi dan memegang tangan nya membuat hatinya terasa sakit.
"kamu bisa naik motor?" tanya Dika khawatir, saat ini dara sedang kalut, ia tak mau terjadi sesuatu pada sahabat nya itu.
"dari dulu kan aku sudah bisa naik motor ka." jawab dara dingin.
__ADS_1
"serius Ra!"
"iya bisa tenang saja. ayok pulang." ajak dara tanpa menatap Dika sama sekali. mengenakan helm nya dan kemudian melakukan motornya.
Dika melajukan mobil nya di belakang motor dara. pria itu sangat khawatir apalagi melihat punggung dara yang bergetar dari belakang. ia yakin dara sedang menangis sekarang.
Dika mempercepat mobil nya saat melihat dara juga mempercepat motor nya. pria itu mengumpat beberapa kali saat kehilangan jejak dara.
"pelan-pelan Ra." Dika bergumam sendiri, rasa panik dan khawatir membutakan pikiran nya.
berbelok di jalan pintas menuju kota nya, dara menghentikan motor saat di tempat sepi. di sekeliling nya hanya ada pepohonan jati dan singon.
"aaaaa sialan, brengsek, baj*Ngan!" dara berteriak dengan frustasi setelah nya ia terduduk lemas di samping motor nya.
terdengar isakan memilukan dari bibir gadis yang menyembunyikan wajahnya diantara lutut.
"Rendi sialan! kenapa dia tega lakuin ini sama aku?" hiks hiks
"bertahun-tahun kita pacaran, apa perasaan mu tulus padaku?. kenapa semua jadi seperti ini? kenapa ya tuhan.."
"Ra tenang Ra" Dika langsung menghampiri dara saat sudah menemukan keberadaan gadis itu.
"lepas!" dara menghempas kasar tangan Dika yang mengusap pundak nya.
"aku minta kamu pergi dari sini." ucap dara dingin.
"apa?"
"pergi dari sini!" bentak dara kesal.
"Ra ini tempat sepi aku ngga akan biarin kamu sendirian di tempat kaya gini." ujar Dika tak mau menuruti perkataan dara.
dia lebih memilih mendapat amukan dara daripada harus melihat dara kenapa-kenapa.
"aku bilang pergi!, jangan ikutin aku! aku mau sendiri ka!" teriak dara emosi.
melihat Dika yang hanya diam saja membuat dara muak. ia kembali memakai helm nya dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar Dika tidak bisa mengikuti nya.
***
Reyhan yang di landa kepanikan semakin khawatir saat tidak melihat motor kakak ipar nya di rumah nya.
__ADS_1
"apa mereka pergi ke rumah sakit?" Reyhan bertanya dalam hati.
"kok tidak di kunci, apa mereka lupa."
Reyhan masuk kedalam rumah, mencari keberadaan istrinya.
"Adek.. dek kamu di dalam?" Reyhan membuka pintu kamar nya dan melihat istrinya berjalan dari dalam kamar mandi dengan handuk menempel di kepala.
"kamu .." ucapan Reyhan terpotong saat meneliti tubuh istrinya dari atas sampai bawah tidak terjadi apa-apa.
"loh mas kok sudah pulang? katanya pulang sore." tanya Risha heran, apalagi melihat tampilan Reyhan yang berantakan.
"kamu ngga apa-apa?" tanya Reyhan.
"aku ngga apa-apa." jawab Risha bingung.
"bukankah kamu tadi ngirim pesan kalau jatuh?" tanya Reyhan lagi.
"oh tadi kan ada terusan nya pesan nya mas, coba di baca lagi."
Reyhan langsung merogoh hp nya, melihat pesan Risha yang tadi ia lihat dan ada 1 pesan lagi belum terbaca.
"mas aku jatuh" pesan pertama
"jatuh di hati kamu." pesan kedua dengan emot tertawa.
Risha tergelak melihat ekspresi suami nya yang sedang membaca pesan nya.
"makanya di baca dulu mas jangan langsung panik dan pulang." Risha masih tergelak, belum menyadari saat ini wajah suaminya sudah berubah ekspresi.
"memang nya ada yang lucu?" tanya Reyhan dengan suara berat dan dingin. tatapan nya seakan menusuk hingga ke jantung.
Risha berhenti tertawa saat melihat suaminya terlihat marah. ekspresi dingin dan menusuk membuat ibu hamil muda itu ketakutan.
"bisa ngga kalau ngga bersikap seperti anak kecil kayak gini?" suara Reyhan masih dingin.
"ah mas gitu saja marah." Risha terkekeh pelan, memukul lengan suaminya gemas. dia mencoba mencairkan suasana.
"kamu ngga tahu seberapa panik nya aku saat membaca pesan mu?, kamu masih bisa cengengesan kaya gini tanpa rasa bersalah?" bentak Reyhan.
Risha menatap suaminya dengan tatapan takut. jemarinya saling mengait panik.
__ADS_1
"aku langsung pulang dan naik mobil dengan kecepatan tinggi karena khawatir sama kamu. saat pulang kerumah aku nemuin kamu dengan kondisi yang baik-baik saja dan kamu dengan santai nya nyalahin aku karena aku ngga baca pesan mu lagi?"
habis sudah kesabaran Reyhan, dari pagi sellau terganggu dengan pesan beruntun istrinya dan sekarang dia merasa di prank.