
"ada hubungan apa kalian berdua?"
suara menggelegar diiringi dengan gemetaran memenuhi teras rumah tersebut. dara tak sanggup lagi bersabar, melihat keduanya sangat serasi menjadi sepasang suami istri membuat hati dara bertambah sakit.
"jawab!" teriak dara frustasi melihat dua orang di depan nya saling berpandangan.
rendy yang panik karena sudah ketahuan menghela nafas berat, tidak ada guna nya mengelak karena dara tidak akan percaya. hampir semua keluarga nya, dara sudah kenal. di dekati nya gadis yang masih berapi-api itu tapi gadis itu menjauh mundur beberapa langkah.
"jangan mendekat, jawab pertanyaan ku. ada hubungan apa kalian berdua? siapa kedua orang tua bayi ini?" nafas dara naik turun melihat bayi mungil yang tertidur lelap di gendongan wanita itu.
"aku regina, ini putri ku. dara,, aku akan menjelaskan semua nya. masuklah dulu, tidak enak dilihat orang banyak." regina menjawab lembut mencoba membujuk dara agar masuk ke dalam rumah. dia melihat sekeliling, para tetangga nya sedang menguping di teras mereka masing-masing.
baru beberapa bulan tinggal disini, regina tidak enak jika membuat keributan.
"kenapa harus repot-repot memikirkan tidak enak dengan orang lain. kalian takut hubungan kalian terbongkar disini?" bantah dara suara nya meninggi.
"sebentar,, regina?"
dara mencoba mengingat, menggabungkan puing-puing kecurigaan nya dengan nama kontak singkatan RGN.
"apa dia wanita yang kamu simpan nomer nya dengan singkatan RGN?" tanya dara, menatap penuh curiga pada Rendi.
Rendi mengangguk lemah "benar, dia RGN yang selama ini kamu curigai Ra. aku akan menjelaskan semua nya." terang Rendi.
"ya, memang kewajiban mu kan untuk menjelaskan semua ini." nada bicara dara masih tidak bersahabat.
"bayi ini anak ku Ra." Rendi tertunduk lemas.
"apa?" dara menutup mulut tak percaya.
"jadi kamu selingkuhin aku sampai punya anak?. tega kamu!" dara mendorong pundak Rendi dengan emosi meledak-ledak.
"tapi ini semua ngga seperti yang kamu pikir, aku ngelakuin nya ngga sengaja. ini kecelakaan Ra, saat itu aku mabuk dan hilang kesadaran lalu..."
"cukup!" bentak dara.
__ADS_1
rasanya dara ingin memukul pria di depan nya sampai mati, mendengar penjelasan nya membuat dara bertambah sakit dan muak.
dengan air mata yang entah sejak kapan sudah membanjiri wajah nya, dara menatap regina.
menatap penampilan wanita di depan nya dengan teliti.
"jadi kamu suka sama wanita seperti ini?" dara sudah menyimpulkan jika Rendi bosan dengan penampilan nya yang biasa saja dan memilih wanita yang berpenampilan ****.
"mulai sekarang kita putus! jangan pernah muncul di hadapan ku lagi walaupun disaat hari kematian ku!" putusan terakhir yang di ambil dara membuat Rendi bertambah panik.
Rendi mencegah dara yang hendak pergi, tiba-tiba pria itu berlutut di depan dara.
"Ra aku ngga cinta sama regina, aku hanya bertanggung jawab dengan anak ku. kami tidak menikah Ra, bahkan kami tidak pernah se kamar sejak hari itu." jelas Rendi, memegang erat tangan dara.
"aku tidak peduli mau kalian menikah atau tidak, tapi yang pasti kamu sudah hianatin aku. kamu sudah menghianati hubungan kita. walaupun kamu tidak menikahi nya bukan berarti itu bisa menghapus fakta kalau KALIAN SUDAH TIDUR BERSAMA SIALAN!" dara tanpa sadar mengumpat, bahkan ia ingin mengumpat lebih banyak kedua orang dihadapan nya ini.
"aku cinta nya cuma sama kamu Ra." ujar Rendi pasrah.
"cinta? kalau cinta kenapa nyakitin aku? kalau cinta kenapa masih bisa memandang wanita lain? kalau cinta kenapa larangan ku kamu langgar?" tanya dara dengan suara yang tercekat, menatap dalam regina yang hanya terdiam saja.
"maaf.." ucap Rendi lemah, air matanya tumpah mengenai lengan dara.
dara bisa merasakan tangan nya basah oleh air mata pria itu.
"aku salah Ra, andai aku nurutin apa kemauan kamu. andai aku nurut saat kamu larang aku mabuk. ini semua pasti tidak akan pernah terjadi. aku tidak akan melakukan kesalahan ini dan aku tidak akan punya anak." Rendi sangat menyesali perbuatan nya. setiap hari, ia selalu dikelilingi rasa bersalah setiap bertemu dara.
mendengar ucapan Rendi barusan membuat regina sakit hati, wanita itu kira Rendi sudah mulai berdamai dan mau menerima nya tapi ternyata tidak. cinta pria itu masih besar pada dara.
"aku dan regina tidak menikah jadi kita bisa menikah Ra. kita bisa rawat bayi ini sama-sama ya. kamu kan bilang kalau pengen kita nikah dan punya anak lucu. ya kamu mau kan?"
"huh apa?. di situasi kayak gini kamu baru berani mengajak aku nikah?. kalian yang berbuat salah kenapa aku harus bertanggung jawab juga?. enak sekali kalian." dara bersungut-sungut.
"kenapa tidak kamu nikahi saja dia? agar kalian bisa merawat anak kalian bersama-sama."
"tapi aku nggak cinta sama dia bagaimana bisa aku menikah sama regina?" andai waktu bisa di ulang, Rendy tidak akan pernah melakukan kesalahan fatal ini.
__ADS_1
"nyatanya kamu bisa tidur dengan dia kan? jadi pasti bisa." jawab dara dengan suara dingin.
"itu karena selama ini kamu nggak mau aku sentuh sialan!"
"apa?" dara terkejut.
"selama pacaran kamu tidak mau aku sentuh lebih dari peluk dan cium. itu pun hanya sebatas mencium kening dan pipi. menurutmu apa aku ngga punya hasrat?, makanya aku tidur dengan regina malam itu." akhirnya Rendy meluapkan hal yang mengganjal di hati nya.
"kalau mau lebih dari itu seharus nya kamu nikahin aku, bukan malah mencari pelampiasan lain!. bukankah kamu menyetujui persyaratan ku itu sebelum kamu memutuskan memacari ku?"
"Aku belum siap!" jawab Rendy meninggikan suara nya.
"aku belum siap dengan konsekuensi yang akan aku terima saat kita menikah. aku nggak yakin dengan pernikahan kita bisa jadi lebih baik dari kemarin." jelas nya.
"lalu apa semua ini?" dara menatap regina dan bayi nya. "bukankah konsekuensi dari kejadian ini malah lebih besar?. tapi kamu bisa menjalani nya di belakang ku dengan tenang."
"itu karena terpaksa Ra!" elak Rendi.
"kalau dengan terpaksa saja kamu bisa melalui nya apalagi kalau terencana?"
Rendi terdiam seribu bahasa.
"kamu bukan nggak yakin sama pernikahan kita tapi kamu nggak yakin sama aku ren. benarkan?" tanya dara.
"sudah lah Ra, kalau kamu mau tidur dengan ku pasti semua ini tidak akan terjadi. kamu harus sadar kalau kamu juga salah dalam hal ini." Rendi malah memanipulasi keadaan.
"apa? kenapa jadi menyalahkan ku?" dara tak terima.
"ya karena kamu nggak mau tidur sama aku. kalau sama aku kamu selalu jaga jarak, kamu bangun tembok tinggi agar aku tidak bisa menyentuhmu lebih dari itu. aku bertanya-tanya selama ini. kenapa kamu tidak mau ku sentuh lebih dari itu?"
"itu karena aku mau nya waktu kita nikah semua terasa istimewa. hanya suamiku saja yang boleh merasakan tubuhku pertama kali." jawab dara jujur. ia tidak pernah berfikir menjalani pacaran yang terlalu jauh seperti orang jaman sekarang.
"bulshit! kamu cuma nggak mau tidur sama aku. karena kamu pasti takut kalau ketahuan sudah tidak perawan karena sudah tidur sama Dika kan?" tuduh Rendy. ia selalu benci jika dara lebih dekat dengan Dika daripada diri nya.
"TUTUP MULUT MU SIALAN!"
__ADS_1