
saat di lobi kantor, Risha tengah menunggu ojek online yang ia pesan saat Reyhan keluar dari lift. pandangan mereka bertemu sesaat. Reyhan yang hendak menghampiri nya menghentikan langkah saat Risha tiba-tiba berdiri dan keluar menghampiri ojek berseragam hijau itu.
di atas motor, menyusuri jalanan ramai ibukota ditemani mentari yang tampak menghangatkan kulit. Risha, pandangan gadis itu tak tentu arah. beberapa kali berusaha fokus saat sang sopir ojek bertanya tapi nyatanya hati yang sedang sedih mempengaruhi fikiran nya.
"Berhenti disini saja pak." ujar Risa, langsung turun dari motor dan menyerahkan helm.
"tapi belum sampai tujuan mba." tampak pria tua itu bertanya keheranan. tapi ia memaklumi saat melihat mata sembab penumpang nya. mungkin sedang ada masalah, ia sebagai manusia hanya berusaha simpati.
"tidak apa-apa pak, di selesaikan saja. ini uang nya." menyerahkan lembaran uang dua puluh ribuan, Risha menatap pria tua itu saat bersuara.
"walaupun kehidupan pasti ada saja masalah yang mampir, tapi hidup nggak cuma berhenti di sini mba. pasrah dan ikhlas saja, biarkan tangan Tuhan bekerja untuk kita. semangat!" senyuman ramah pria tua berkacamata terasa seperti hangat nya mentari sore ini.
saat sedang di luar kantor tadi, pria tua itu sempat melihat Reyhan yang hendak menyusul Risha tapi tidak jadi..dari situ dia berfikir mungkin kedua anak muda ini sedang menghadapi masalah.
Risha mengangguk dan tersenyum, walaupun sempat bingung. bagaimana bapak ini bisa tahu kalau dia sedang dapat masalah.
sedangkan pria tua itu berlalu pergi setelah mengucapkan terimakasih.
menyusuri taman yang rindang Dengan pohon rindang yang menjulang tinggi, Risha mendesah saat bertemu pasangan muda yang sedang menghabiskan waktu bersama. bersendau gurau di atas alas kain di temani berbagai cemilan.
memilih mencari tempat yang agak sepi, Risa tersenyum saat menatap keluarga kecil yang tampak bahagia menemani anak-anak mereka bermain.
"Ck, mereka tampak bahagia sekali. hemm.. apa keinginan ku bisa terwujud seperti itu nanti nya?" Risha bermonolog saat membayangkan hubungan nya dengan Reyhan.
"terwujud apanya, punya masalah satu saja nggak selesai-selesai. dasar Reyhan pengecut!!" maki Risha, melempar kerikil ke dalam danau buatan di tengah-tengah taman.
"dasar laki-laki cemburuan!, jahat!, sukanya nyimpen gelisah sendiri. tukang tuduh! aku benci kamu!" Risha mengatur nafas nya yang tak beraturan setelah berteriak.
"huh! memang nya kamu saja yang bisa marah hah? aku juga bisa!. memang nya kamu siapa? gitu saja menghindari ku tanpa ucapan apa-apa!" hiks hiks ... tampak lelah, gadis yang perasaan nya tak menentu itu akhirnya kembali menangis.
"dasar jahat! kamu sendiri yang tiba-tiba melamarku. kamu sendiri juga yang tiba-tiba mendiamkan ku. padahal aku sudah menjelaskan semua nya." hiks hiks, mengelap air mata dengan kasar. Risa berdiri dan kembali mengambil batu lalu melemparnya ke dalam danau.
__ADS_1
tubuhnya tiba-tiba limbung dan terduduk di atas rerumputan. dengan Isak tangis yang masih menghiasi wajah cantik nya, Risha tak menyadari beberapa orang tampak heran melihat nya. ada yang merasa kasihan tapi tak berani mendekat. akhirnya hanya menatap nya dari jauh, membiarkan Risha mengeluarkan semua keluh kesah nya.
"huh, ternyata sedikit lega setelah memakimu. apa aku maki-maki lagi ya ..." dengan semangat 45, Risha kembali mengambil kerikil dan melemparkan batu seiringan dengan makian yang ditujukan pada calon suaminya.
"Reyhan jahat, pengecut, sukanya menghindar, apa lagi ya ...?"
"cemburuan?
"nah iya, cemburuan. tunggu ..." Risha memutar badan nya ke belakang dan seketika terkejut saat melihat Reyhan sudah berdiri menatap ke arah nya.
"mas?"
huwaaaa,,, entah kenapa Risha langsung lari saat melihat Reyhan.
"dek! kenapa lari ... memang nya mas setan ..." Reyhan pun refleks mengejar Risha, pria itu lari lebih cepat dan berhenti tepat di depan calon istrinya.
"mau kemana? nggak cape' apa habis teriak-teriak terus lari?" tanya Reyhan sambil ngos-ngosan karena mengejar Risha.
"mas..mas dengar semua teriakan Adek?" tanya Risha terbata.
Risha menunduk, jemarinya saling meremas seragam kantor nya. tak berani menatap pria yang sejak tadi di maki nya.
Reyhan menghela nafas kasar sebelum menangkupkan kedua tangan nya pada pipi gadis cantik yang sekarang matanya berpandangan dengan nya.
"Segitu kesal nya sama mas? sampai 3 hari nggak mau hubungi mas duluan." tanya Reyhan, menyusupkan helaian rambut Risha ke belakang telinga yang tersapu sepoi-sepoi angin senja ini.
"hah?" Risa terhenyak saat mendengar pertanyaan Reyhan.
"kenapa Hem?"
"Adek kira mas marah sama Adek karena aku kemarin nggak ngedengerin ucapan mas. Adek tetap nekat pergi ke Ancol." jawab Risha, menatap Reyhan tanpa berkedip.
__ADS_1
"kenapa walaupun sedang berantakan gini kamu tetap ganteng sih mas?"
"mas minta maaf, mas berfikir sikap mas sudah keterlaluan. menuduh Adek yang macam-macam. mas cemburu dek,"
Risha terkesiap ketika Reyhan menjatuhkan kepalanya di pundak nya.
"Adek juga minta maaf ya mas, seharusnya Adek terbuka sama mas tentang semua masa lalu Adek."
menatap sekeliling nya, Risha hendak melepaskan tubuh Reyhan. ia merasa tidak nyaman menjadi perhatian semua orang. lama tidak berpacaran membuat nya canggung saat bermesraan di tempat umum seperti ini.
tapi sayang nya, rasa canggung nya itu tak dipedulikan oleh sang calon suami yang tambah mengeratkan pelukan. tangan yang satunya terulur meletakan tangan Risa di kepala nya yang masih nyaman bertengger di pundak sang calon istri.
"Usap kepala mas." titah Reyhan manja.
entah kenapa Risha hanya menurut, bekerja satu kantor 2 bulan, kenal baru seminggu langsung di lamar dan menentukan tanggal pernikahan. Risha sudah terbiasa dengan sikap manja Reyhan yang tiba-tiba dan... dia suka. karena Reyhan hanya bersikap seperti ini padanya. di hadapan perempuan lain ia akan menjadi pria yang dingin dan sedikit bicara. sekalipun dengan Sinta, Tan dekat Risha di kantor.
beberapa menit berada di posisi seperti ini. Reyhan yang menundukkan tubuh tinggi nya di pundak Risha. seperti nya Risha mulai cape' menopang tubuh Reyhan.
"mas,"
"hemm"
"duduk yuk, Adek cape' hehe."
****
duduk satu kursi sembari menatap danau buatan. Reyhan dan Risha menyesap kopi yang di beli dari penjual di pinggir jalan.
"Mas... kok bisa tahu Adek disini?" tanya Risha, memecah keheningan yang tercipta beberapa menit.
"oh tadi nggak sengaja lihat ojek online yang mengantarmu sedang istirahat di depan minimarket." jawab Reyhan santai.
__ADS_1
Risha mengangguk, meletakan kopi di pinggir kursi lalu mengalihkan pandangan pada sang calon suami.
"mas ... kalau belum yakin menikahi Adek, kita bisa undur hari pernikahan dan mas bisa berfikir ulang."