Di Nikahi Teman Lama

Di Nikahi Teman Lama
bab 15. cemburu


__ADS_3

2 hari perang dingin dengan sang istri, Reyhan pulang kerumah dengan harapan hari ini bisa berbaikan atau setidaknya gencatan senjata terlebih dulu. mengingat besok ada acara syukuran toko baru orang tua nya. rasanya tidak enak jika saling diam dan menimbulkan banyak pertanyaan dari keluarga.


akibat pertengkaran itu, Reyhan tidak fokus saat di kantor. bahkan pria itu merasa kesal dengan dirinya sendiri. harus nya sebelum bertindak harus berfikir dahulu. minimal kalau sudah melakukan nya harus langsung memberi tahu sang istri. tapi Reyhan malah memilih diam karena merasa istrinya tidak perlu tahu. hal itu mengakibatkan kesalahpahaman menjadi tambah besar. rasa simpati ke orang lain yang malah membuat istrinya kecewa padanya. apalagi masalah bekas lipstik sialan yang menempel di kemeja nya. mengumpat pelan, Reyhan membuka pintu rumah nya dan mengucapkan salam.


"assalamualaikum, mas pulang dek." ucap pria yang menengteng tas hitam di tangan kirinya.


"walaikumsalam." jawab Risha dari ruang makan.


menarik kursi dan menduduki nya, Reyhan tersenyum lebar menatap makanan dimeja makan.


"wah, Adek masak ayam rica-rica?" ucap Reyhan.


"iya, makan dulu mas." jawab Risha tanpa ekpresi apapun.


wajah datar nya terbaca oleh Reyhan, pria itu tahu istrinya belum mau berbaikan. menerima piring berisi nasi dan lauk yang diambilkan Risha, Reyhan tersenyum hangat.


"besok kan acara syukuran cabang toko ibu, Adek mau bantu-bantu ya ?" tanya Reyhan memulai pembicaraan.


"iya." jawab Risha singkat.


"besok mas usahakan jemput Adek."


"bukan kah mas besok ada acara keluar kota dengan Safira? jangan berjanji pada orang lain dengan mudah, kalau kalau tidak bisa melakukan nya ..."


gerakan tangan Reyhan terhenti, pandangan nya redup. "kapan aku tidak melakukan hal yang sudah ku janjikan padamu? kenapa kamu harus bicara seperti itu dengan mas?"


berdiri dari duduknya, Reyhan melangkah pergi. ia berhenti saat Risha memanggil.


"hal yang aku takutkan terjadi kan?" ucap Risha dingin. mengaduk-aduk nasi didepan nya.


Reyhan menarik alis nya mencoba menerka arah pembicaraan sang istri.


"setelah hari itu, paginya Safira datang keruangan mas dengan membawa kotak makan. apa kalian makan berdua?" Risha mendongak menatap Reyhan dengan tatapan nanar.


"apa karena hari itu Adek nggak buatin mas bekal dan mas juga nggak minta, karena mas sudah meminta Safira yang membuatkan?" imbuhnya lagi, senyum sinis menghiasi wajah penuh kecewa itu.

__ADS_1


"dek, itu nggak seperti yang Adek lihat dan fikirkan. mas dengan Safira tidak..."


"buktinya ada mas, mas mau ngelak seperti apa lagi?" potong Risha, bangkit dan berdiri di depan Reyhan.


"bukti apa sih dek? semua nya itu nggak bener. mas berani bersumpah. Safira tadi memang nganter bekal buat mas sebagai tanda terimakasih. tapi mas tolak, dan dia bawa bekal itu keluar lagi. percaya sama mas!"


"kalau hari itu Safira yang meminta atau memaksa mas untuk mengantarnya mungkin Adek gak akan Semarah ini, tapi ini? mas yang menawarkan diri. Aku kecewa mas, seluruh kantor tahu kalau Safira itu dari dulu naksir sama mas. dan aku yakin mas juga pasti tahu itu. terus kenapa nggak menghindar malah sok-sokan nawarin diri?" seru Risha dengan suara yang lumayan tinggi.


"kenapa masih dibahas lagi masalah itu sih, mas kan sudah jelasin!" Reyhan terpancing saat mendengar Risha yang sedikit berteriak.


"ya karena masalah itu lah konteks nya. yang bikin semua pertengkaran itu terjadi ya hal yang mas sebut nggak penting itu." Risha mengusap kasar air matanya.


Reyhan menghirup udara dan menghembuskan nya dengan kasar, pria itu memijat pelipisnya.


"sudah ya cukup sampai situ Saja. mas nggak mau kita bertengkar terus gara-gara masalah nggak penting itu." ucap Reyhan lembut sembari memegang kedua bahu istrinya.


"tapi itu penting buat aku!" sentak Risha, menepis tangan Reyhan dengan kasar.


"astaghfirullah Risha! sekarang mau mu apa hah?" Reyhan mengusap rambutnya dengan kasar.


"besok aku akan mengundurkan diri dari perusahaan. aku harap, mas menyetujui." tiba-tiba saja Risha menyampaikan hal yang sangat tidak masuk akal.


"omongan kosong macam apa lagi ini?" dada Reyhan kembang kempis, belum bisa menyelesaikan masalah satu nya dan kini bertambah lagi ucapan konyol sang istri.


"aku tidak mau melihat hal yang membuat hatiku sakit. aku lebih baik dirumah dan tidak tahu apa-apa daripada dikantor harus melihat mas dengan Safira." jawab Risha, menunduk.


"cukup! Nggak ada pengunduran diri, mas tahu betul bekerja di perusahaan adalah impian Adek. dan kita akhiri perdebatan kita sampai disini. MAS CAPE'!"


setelah mengucapkan itu, Reyhan berlalu masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan kencang.


Risha yang mengikuti Reyhan di belakang nya sampai dibuat terkejut.


"maaf, Adek cemburu mas." gumam nya pelan.


Risha menatap jam dinding yang menunjukan pukul setengah 8 malam. Risa meraih tas nya dan keluar dari rumah.

__ADS_1


sedangkan Reyhan menghempaskan tubuhnya di kasur, pria itu mencoba meredakan emosi nya. lelah dengan pekerjaan kantor dan saat pulang di sambut perdebatan sang istri membuatnya memaksakan tidur untuk tidur.


***


berjalan kaki menyusuri gang sempit arah kontrakan nya, Sinta terkejut saat melihat sang mantan suami berada diluar kontrakan nya dengan ibu dan anak nya.


dengan cepat menghampiri mereka, Sinta menatap ibu pemilik kontrakan yang tersenyum senang sembari menghitung uang ditangan.


"Bu Prapto." panggil Sinta pada wanita gemuk yang sibuk menggerakkan jari jarinya.


"pas ya, kalau begitu saya permisi dulu. oh ya Sinta, lain kali jangan nunggak lagi ya. yang butuh uang bukan cuma kamu, tapi saya juga. biar sama-sama enak bulan depan harus tepat waktu bayar nya ya!" ucap Bu Prapto di selingi dengan penekanan.


"kamu ngapain disini son? bukan nya kamu kembali ke Bandung kemarin?" tanya Sinta pada sang mantan suami yang sekarang terlihat lebih rapi.


"aku memutuskan untuk tinggal di Semarang sin, buka usaha cafe kecil-kecilan. alasan sebenarnya sih biar kalau kangen sama Chiko nggak perlu nunggu akhir bulan." jawab Soni.


"akhir bulan pasti aku kembalikan uang mu." ucap Sinta tiba-tiba.


"santai saja, hitung-hitung itu uang bulanan tambahan untuk Chiko. nggak usah dianggap hutang kayak sama siapa saja sin." Jawa. Soni tangan nya mengusap lembut kepala Chiko.


"nggak, pokoknya aku akan ganti uang nya. kita bukan siapa-siapa lagi, hubungan yang masih terjalin hanya kamu dengan Chiko. jadi itu kewajiban ku untuk mengganti uang itu." kekeh Sinta, menolak kebaikan yang sudah Soni berikan.


"terserah kamu saja." Soni akhirnya pasrah, tidak mau berdebat dengan sang mantan istri yang masih ada di hati.


tujuan nya membuka usaha di kota ini bukan hanya agar dekat dengan Chiko tapi juga misinya untuk mendapatkan cinta Sinta kembali. pria dengan jaket kulit itu sudah bertekad.


"baiklah aku pulang dulu, kalau butuh apa-apa kamu bisa mampir di cafe ku." pamit Soni.


saat Soni sampai di depan pagar, ia melihat mobil yang berhenti di dekat nya. muncul pria muda membawa sekantong plastik hitam dan tas di kedua tangan nya.


Soni memperhatikan pemuda itu sampai di depan kontrakan Sinta.


sempat menganggukkan kepala saat berpas-pasan dengan Soni, Dika memanggil Chiko yang menyambutnya dengan wajah sumringah.


"om Dika!" pekik Chiko saat melihat kedatangan Dika.

__ADS_1


"masuk dulu dik." Sinta mempersilahkan, wanita itu sempat melirik Soni yang masih memperhatikan nya di depan pagar.


__ADS_2