Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Berita Kematian


__ADS_3

Dear Diary,


Hmmm... Indigo? Pernah bertanya-tanya gak apa sih indigo itu? Kenapa orang-orang tertentu disebut indigo? Aku tahu indigo dari Mike.


***


"Kenapa aku bisa melihatmu sedangkan yang lain tidak bisa?" Tanyaku pada Mike.


"Karena kamu INDIGO." Jawab Mike singkat.


"Hah? I n d i g o?" Aku mengulang kata-kata Mike.


"Apa itu in-di-go?" Tanyaku sembari memberikan penekanan pada kata indigo.


"Kamu tidak tahu apa itu indigo?" Tanya Mike.


Aku menggelengkan kepala. Bahkan diusiaku sembilan tahun saat itu. Aku baru pertama kali mendengar kata in-di-go. Kata yang sangat asing di telingaku. Melihat gelengan kepalaku, Mike menepuk jidatnya.


"Seriusan nggak tahu indigo?" Mike memastikan.


"Serius, hehe."


"Kamu itu anak istimewa Kalista. Kamu dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang biasa. Apa kamu tidak menyadari hal itu?"


"Maksudnya bisa melihat yang tidak dilihat orang-orang biasa gimana?" Tanyaku lagi.


"Hmmm.. jadi begini Kalista. Orang biasa tidak bisa melihat aku karena aku sudah meninggal. Sementara kamu bisa melihat bahkan berinteraksi dengan aku. Nah itulah keistimewaan anak indigo." Mike berusaha menjelaskan.


"Oh begitu ya. Jadi waktu di sekolah teman dan guruku gak bisa lihat kamu ya?"


"Ya begitulah Kalista."


Aku diam dan berpikir sejenak.


"Selain orang meninggal, apa lagi yang bisa aku lihat?"


"Tunggu aja nanti, seiring berjalannya waktu kamu akan banyak belajar tentang bagaimana anak indigo itu kok."


"Kenapa aku bisa menjadi indigo?"


"Karena kamu orang terpilih." Mike sembari tersenyum.


Seketika suasana hening, aku larut ke dalam pikiranku. Aku masih bingung dengan perkataan Mike. Masih aku coba untuk memahaminya. Dan aku menemukan sebuah titik pencerahan. Aku berpikir apakah ini bermula sejak aku tenggelam, kemudian bertemu Nyai dan Ibu Ratu.


"Kalau kamu mau jadi temanku. Kamu harus siap dikira ngomong sendiri sama orang-orang biasa ya Kalista." Mike memecahkan keheningan.


"Benarkah begitu? Ya sudah aku tidak mau berteman dengan kamu." Kata-kataku membuat raut wajah Mike berubah seketika berubah sedih.


"Bercanda, heheh." Teriakku sembari berlari.

__ADS_1


(Beberapa menit kemudian)


Mike mengajakku ke balkon rumah yang tidak jauh dari kamarku. Katanya mau lihat langit malam bersama. Setelah aku tanya, ternyata salah satu kegiatan rutinnya adalah melihat langit di malam hari.


"Sini Kalista." Ajak Mike.


Mike pun berbaring di balkon sembari menatap pemandangan langit malam itu. Aku bingung dengan apa yang dilakukan Mike. Berbaring di balkon pada malam hari, bukanlah kebiasaannya. Apalagi kalau mama tahu pasti aku bakal kena omelan.


"Ayo sini! Buruan Kalista."


Aku terdiam mematung di batas antara pintu rumah dan balkon. Udara dingin mulai menusuk ke tubuhku. Seolah mengajakku untuk mengikuti ajakan Mike.


"Ngapain kamu diam disitu? Sini ayo kita menikmati alam."


Aku melangkah pelan mendekati Mike.


"Kalau mama tahu pasti marah." Batinku.


"Udah mama nggak akan marah." Celetuk Mike.


"Kamu tahu darimana?" Tanyaku heran karena Mike bisa membaca pertanyaanku dalam hati.


"Sudahlah sini kau!" Perintahnya.


Akhirnya Aku mengikuti Mike. Berbaring di lantai balkon rumah. Mengarahkan mataku ke atas dan memandang langit malam.


Sebenarnya aku juga suka melihat pemandangan langit malam. Namun bisanya aku lakukan dari jendela kamarku saja. Dengan berdiri dan tidak berbaring seperti saat ini. Ini pertama kali aku berbaring dan memandang langit. Rasanya nyaman sekali! Dengan suguhan purnama malam itu, meski kurang lengkap tanpa hadirnya bintang. Ya, maklum saja tinggal di ibukota jarang sekali melihat bintang bersinar terang.


"Aku suka melihat pemandangan langit malam. Tapi nggak sambil berbaring seperti ini." Jawabku.


"Ternyata enak juga ya Mike memandang langit dengan cara seperti ini."


"Iya, kita bisa menyadari kalau kita ini sangat kecil. Bagian dari alam semesta yang sangat besar ini." Mike tersenyum.


"Lihat saja luasnya langit di atas itu Kalista. Sedangkan kita hanya makhluk sekecil ini. Buat apa kita sombong. Terutama manusia sih. Kenapa manusia banyak yang sombong. Nggak sadar siapa dia apa ya? Masih banyak sekali mahkluk di bumi ini yang lebih dari manusia. Huh." Kata Mike.


"Mike .... Maksudnya masih banyak sekali mahkluk yang lebih dari manusia?"


Mike tersenyum ke arah Kalista, kemudia dia kembali menatap Langit.


"Ya, memang banyak sekali mahkluk yang ada di bumi atau bahkan di jagat raya ini. Yang menghuni bumi aja banyak sekali. Apalagi kalau dihitung sejagat raya ini. tak terhingga kali ya?" Mike kembali tersenyum.


"Emang apa saja yang ada di bumi ini selain manusia Mike?"


"Sesungguhnya bumi ini juga dipenuhi oleh mereka-mereka yang tidak terlihat. Mulai dari yang baik, jahat, hingga yang ingin menguasai bumi ini. Ada semua."


"Oh begitu ya. Lalu dimana tempat tinggal mereka yang tidak terlihat Mike?"


"Dibanyak tempat, dimanapun ada Kalista. Ada yang tinggalnya di bawah tanah, ada yang di langit, juga yang berdampingan dengan manusia. Seperti kita sekarang ini." Mike menjelaskan.

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu akan mengenali mereka-mereka yang tak terlihat. Kuatkan dirimu untuk menghadapi itu semua." Tambahnya.


Pandanganku yang semula ke langit, kini beralih ke arah Mike.


"Apakah hantu itu menyeramkan?" Tanyaku.


"Tidak semua hantu menyeramkan. Coba lihat aku." Mike cengingisan menunjukkan gigi ompongnya.


"Ihhh, dasar ompong. Sudah ompong pamer lagi." Ledekku pada Mike.


"Lalu kenapa pocong yang pernah aku temui itu sangat seram Mike?"


"Kan aku bilang tidak semua hantu menyeramkan Kalista. Berati ada banyak juga hantu yang menyeramkan."


"Lalu apakah berat menjadi seorang indigo?" Tanyaku lagi.


"Tergantung pribadinya." Jawab Mike singkat.


"Maksudnya?" Tanyaku lagi.


"Ya tergantung orangnya menganggap itu anugerah atau musibah. Tergantung orangnya mau belajar atau menghindar. Semua itu pilihan. Tinggal kamu pilih yang mana."


Aku terdiam kembali untuk mencerna kata demi kata yang Mike ucapkan. Pilihan untuk hidupku kedepan menjadi seorang indigo. Ya, in-di-go yang masih asing di telingaku. Namun nyatanya aku in-di-go.


"Aku harap kamu bisa berguna bagi siapapun. Bagi manusia disekitarmu dan semua mahluk di bumi dan langit." Pesan Mike.


"Dan jangan lupa jadilah diri sendiri ya Kalista." Tambahnya.


"Baiklah Mike, aku akan selalu mengingat pesanmu." Kataku.


"Tapi apakah kamu akan selalu ada denganku Mike?" Tanyaku.


"Buat apa aku ada buat kamu?" Mike balik bertanya.


"Kan kita bukan teman." Lanjutnya lagi.


"Hah?"


"Bercanda. Wek ..." Katanya sembari menjulurkan lidah.


Kemudian Mike bangkit dari tidurnya dan berlari ke dalam rumah.


"Mike awas ya kamu!" Aku mulai kesal.


"Wek ... Wek ... Wek." Dia terus menjulurkan lidah mengejekku dan berlari.


"Mike!" Teriakku kesal yang berusaha mengejar Mike.


***

__ADS_1


Sampai disini paham gimana gambaran seorang indigo?


Lanjut bab selanjutnya yuk!👻👻👻


__ADS_2