Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Membedakan Mereka


__ADS_3

Dear Diary,


Ketika mata batinku terbuka membuatku tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang "mereka".


***


Setelah tadi pagi aku dan keluargaku mengantarkan nenek ke stasiun. Saat itu juga Bang Ganjar resmi menjadi anggota keluargaku. Kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran cepat saji di sekitar stasiun.


Usai memesan beberapa menu, kami mencari tempat duduk yang kosong. Kebetulan siang itu restoran cukup ramai akan pengunjung. Kami pun mendapatkan tempat duduk di dekat dinding kaca, pembatas antara teras dan dalam restoran. Sehingga kami bisa dengan leluasa memandangi jalanan depan restoran.


Ditengah-tengah kegiatan makan kami. Aku melihat seorang perempuan berpenampilan seperti layaknya orang jalanan dengan pakaian compang-camping, rambut keriting panjang tergerai berantakan dan muka yang kucel. Dia berjalan lunglai di depan restoran. Sesekali dia menatapku kemudian kembali berjalan dan menatap jalanan di depannya.


Aku terus memperhatikan langkahnya yang sangat pelan itu. Namun, sekejap saja aku menoleh ke makanan yang ada di mejaku. Tiba-tiba perempuan itu menghilang dari tempat terakhir aku melihatnya. Padahal sejak awal tadi dia berjalan sangat lambat. Mana mungkin dia bisa berjalan dan menghilang secepat itu.


"Lho kok ilang. Kemana dia ya?" Batinku.


Sesaat aku kembali menikmati makananku. Dan ketika aku melihat sekeliling, aku melihat wanita itu sudah berada di dalam restoran. Dia pun duduk tepat di pojok restoran yang kebetulan kosong saat itu.


"Lho kok dia bisa masuk ke restoran?" Batinku lagi.


"Bang ... Bang Ganjar..." Aku menyenggol lengan Bang Ganjar yang ada disebelahku.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Lihat tuh." Aku memainkan alisku menunjuk ke arah pojok restoran.


Bang Ganjar mengikuti pandanganku. Kemudian dia kembali memandangku dan bertanya.


"Memang ada apa?" Tanyanya lagi.


"Lihat itu deh ada perempuan berpenampilan kayak gitu bisa masuk restoran." Bisikku.


"Hah? Mana sih? Gak ada apa-apa dek." Ucap Bang Ganjar.


"Itu bang! Persis di pojokan sana."


"Gak ada siapa-siapa dek." Ucapnya lagi.


"Udah ah. Kalau makan itu diem." Tambahnya.


"Abang nggak lihat dia?"


"Lihat apa? Orang memang tidak ada siapa-siapa disana. Kursi kosong itu."


"Lanjutin makannya!" Perintah Bang Ganjar kepadaku.


Hanya beberapa menit saja aku mengobrol dengan Bang Ganjar. Dan ketika aku akan melahap makananku sembari menoleh ke kananku.

__ADS_1


"Arghhhhhhhhh ......" Aku berteriak.


"Whaaaaaaaaaa ....."


"Mama tolong!" Aku membalikkan badanku menghindari dinding kaca.


Bagaimana aku tidak terkejut kalau tiba-tiba perempuan yang sedari tadi aku amati. Kini berada tepat di sebelah kananku. Wajahnya menempel di dinding kaca dengan mata melotot. Siapapun akan terkejut dengan hal itu.


"Kalista kamu kenapa?" Tanya mama panik.


"Mama di samping Kalista ada perempuan gila ma." Jawabku dengan menyembunyikan wajahku di lengan Bang Ganjar.


"Mana? Tidak ada siapapun disebelah kamu Kalista." Sahut papa.


"Ada pa ... Dia ada di kaca."


"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."


"Itu ada orang gila di samping aku."


"Tidak ada apapun di kaca itu Kalista. Tenanglah jangan berteriak seperti itu. Lihatlah semua orang menantap ke arah kita." Ucap papa.


"Iya Kalista jangan membuat malu. Ayo lanjutkan makanmu!" Perintah mama.


Aku menurut saja dan perlahan aku membuka mataku. Perempuan itu sudah tidak ada di dekat dinding kaca. Aku pun lega dan melanjutkan makanku.


**


Aku menatap Bang Ganjar yang duduk di kursi belakang bersama dengan aku dan Aira. Rasanya ingin sekali aku menceritakan padanya tentang orang yang gila yang tadi aku lihat. Karena kejadian tadi benar-benar nyata bagiku.


"Bang ... Tadi abang beneran nggak lihat apa-apa?" Bisikku pada dia supaya kedua orang tuaku tidak mendengarkan pembicaraan kami.


Bang Ganjar pun menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu gimana Aira? Apa tadi kamu melihat orang gila?" Kini aku bertanya pada Aira.


"Nggak lihat aku kak." Jawab Kalista polos.


Aku menelan ludah karena dua orang yang telah aku tanya tidak melihat apa yang aku lihat. Kemudian dia berpikir, apa jangan-jangan....


"Beneran kalian tidak melihatnya?" Aku mencoba memastikan ulang.


Bang Ganjar dan Aira menggelengkan kepala bersamaan.


"Lalu kenapa hanya aku yang bisa melihat orang gila itu ya?" Gumamku pelan.


"Kamu habis nonton film horor kali. Jadi ngehalu gini deh." Celetuk Bang Ganjar.

__ADS_1


"Enak aja aku dibilang halu." Ucapku tidak terima.


"Habisnya orang beneran nggak ada siapa-siapa tadi. Masa orang gila bisa mendekat ke restoran. Kan ada satpam yang jaga tadi."


"Iya juga ya. Kan ada satpam."


"Tuh kan beneran halu." Ledek Bang Ganjar.


"Nggak halu bang. Orang beneran kok!" Aku mulai kesal.


"Kalau gak halu apa namanya. Orang kamu sendiri yang bilang melihat orang gila kok. Ya gak Aira?" Bang Ganjar meminta dukungan Aira.


Karena merasa kalah dalam perdebatan ini aku akhirnya terdiam. Namun, pikiranku masih kalut mengenai sosok yang baru saja aku lihat. Aku mencoba melihat sekitar jalanan yang tampak macet. Mencari sosok lain yang mungkin bisa aku lihat.


Mataku membulat sempurna, ketika aku melihat ke luar jendela mobil. Tepat di pinggir-pinggir jalan banyak sekali sosok yang mirip dengan perempuan tadi. Bahkan berseliweran di jalanan. Tidak hanya perempuan, ada sosok laki-laki, orang tua, dan anak-anak.


"Bang ... Bang ..." Lagi-lagi aku memanggil Bang Ganjar.


"Abang lihat itu gak?" Aku menunjuk ke sebuah emperan toko.


"Mana? Apa yang kamu maksud?" Mata Bang Ganjar melihat sekeliling.


"Gak ada apa-apa kok." Lanjutnya.


"Dek kamu lihat orang gila itu gak?" Aku beralih tanya pada Aira.


"Enggak kak." Jawab Aira.


"Ya sudah deh. Orang jelas-jelas aku lihat kok." Gumamku kesal.


"Orang gak ada apa-apa kok." Balasnya.


Mataku memandang sosok yang aku maksud tersebut. Tampilannya mirip seperti perempuan yang tadi di restoran. Tapi yang saat ini aku lihat dia lebih seram wajahnya. Penuh dengan luka bakar yang menghitam.


"Jangan melamun, nanti kesambet." Pesan Bang Ganjar ketika melihatku.


"Ih orang lagi mikir juga." Ucapku cemberut.


Tidak lama setelah itu.


"Kalista itu tadi mahluk yang tidak semua orang." Suara bisikan anak kecil terdengar di telingaku.


"Jangan ngotot Kalista. Nanti kamu dikira gila. Hihihi." Bisikan itu disertai cekikikan.


Bentuk fisik dan kegiatannya sangat mirip dengan manusia biasanya. Ada yang sedang berjalan, bercengkerama dengan yang lainnya, menggendong anak, dan kegiatan lainnya layaknya manusia biasa. Jadi bukan salahku kalau aku mengira mereka manusia biasa.


"Itu karena mata hatimu sudah terbuka Kalista. Jadi kamu dengan mudah bisa melihat mahkluk lain." Suara itu kembali berbisik.

__ADS_1


***


Mayan batin Kalista sudah terbuka nih. Apa yang selanjutnya terjadi ya. Lanjut bab berikutnya yuk! 👻👻👻


__ADS_2