
Dear Diary,
Aku akan menceritakan bagaimana bisa membawa Aira kembali pulang ke rumah.
***
"Aira ... Aira ... Aira ... Bangun dik." Ucapku.
"Aira ayo kita pulang dik."
"Aku, mama, papa, Bang Ganjar, Mbak Yayuk, dan semua tetangga mengkhawatirkan kamu dik."
"Aira ....." Karena putus asa akhirnya aku menangis dengan memeluk tubuh adikku dengan sangat erat.
Ketika aku peluk tubuh Aira yang terbaring di ranjang itu. Aku menangis dan terus memanggil nama Aira untuk mengajaknya pulang. Di tengah tangisanku yang terdengar sangat frustasi itu, mataku membulat sempurna. Tiba-tiba telapak tangannya yang aku genggam bergerak-gerak. Aku langsung bangun dan melihat wajah Aira. Keningnya aku usap dengan tanganku. Ada setitik harapan untuk Aira bisa sadar.
"Aira--", panggilku lagi.
"Dik ... Bangun dik. Ayo kita pulang." Ajakku.
"Aira apa kamu mendengar suara kakak?" Tanyaku pada Aira.
Terus aku genggam telapak tangannya dan aku usap keningnya. Dalam hati aku terus berdoa agar Aira segera tersadar dan bisa pulang bersamaku. Sementara itu, aku merasa panik jika mahluk itu kembali lagi.
"Dik ... Aku mohon bangunlah." Pintaku.
"Ayo bangunlah." Lanjutku.
Sedikit demi sedikit mata Aira berkedip. Meskipun belum terbuka secara sempurna, melihat itu aku bahagia. Karena ada secercah harapan untuk bisa mengajak Aira pulang. Perlahan namun pasti, aku menunggu Aira benar-benar sadar. Aku berusaha terus memanggil Aira supaya dia benar-benar tersadar.
"Aira kamu bisa mendengar kakak?" Tanyaku.
Aira tidak menjawab pertanyaanku. Namun dia menatapku lekat. Tatapan yang begitu dalam terlihat jelas dari mata Aira. Seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tak bisa. Aku merasa seolah mulutnya kaku dan tertutup rapat.
"Aira apakah kamu baik-baik saja?" Tanyaku lagi.
"Kalau kamu baik-baik saja. Tolong kedipkan mata ya." Pintaku
__ADS_1
Aku harus mengulang pertanyaanku kembali dan tidak lama Aira mengedipkan matanya. Melihat itu senyum lebar pun menghiasi wajahku. Saat ini aku yakin Aira sudah benar-benar sadar. Meskipun masih lemas, setidaknya dia sudah bisa aku ajak komunikasi.
"Dik kita pulang sekarang ya." Ajakku.
Aku mulai berbaring di samping tubuh Aira. Aku peluk tubuh Aira dan aku mulai memejamkan mataku. Mengatur dan memfokuskan diri pada pernapasan. Semakin aku fokus, aku semakin tenang. Dan cahaya kemerahan itu datang kembali menghampiriku. Menarik tubuhku dan Aira ke dalam sebuah ruang cahaya. Aku sudah paham ini pasti jalan untuk kami pulang.
Tidak lama kemudian aku mulai terpental keluar dari cahaya kemerahan itu. Aku menggeliat di ranjang yang semua aku tiduri. Bang Ganjar mencoba menggoyangkan tubuhku, berniat membangunkanku.
"Dik kamu tidak apa-apa?" Tanyanya sembari menyodorkan segelas air.
"Aira mana?" Aku melihat ke samping kanan dan kiriku. Namun tidak ada Aira disana.
Mataku aku buka perlahan dan menyelusuri sudut kamarku. Mencari sesosok anak kecil yang tak lain adalah adikku, Aira. Menyadari tidak ada Aira dipelukanku ataupun di dalam kamarku. Aku segera bangun dari tidur dan beranjak keluar kamar. Langkahku menuju gudang mainan itu lagi. Sementara itu, Bang Ganjar yang tampak kebingungan. Mengikuti saja di belakangku.
"Mau kemana?" Tanya Bang Ganjar yang mengejarku dari belakang.
Aku tidak menggubris pertanyaannya dan terus berjalan menuju tempat tujuanku. Pikiranku sangat kacau dan khawatir karena ternyata tubuh Aira tidak pulang bersamaku. Kenapa bisa seperti ini, padahal jelas-jelas sekali dia tadi pulang bersamaku dan aku peluk erat tubuhnya.
- Ceklek -
"Huh." Aku menghembuskan napas lega, ketika mataku berhenti pada salah satu sudut.
"Ada?" Tanya Bang Ganjar yang masih mematung di dekat pintu.
Kepalaku langsung mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Bang Ganjar. Kemudian abang langsung mendekat ke arahku untuk segera menggendong Aira dan dibawanya ke kamar. Sementara itu aku bergegas ke lantai satu untuk mengabari kedua orang tuaku.
"Mama ... Papa ... Mbak Yayuk ... Aira ketemu!" Teriakku memberi kabar kepada mereka semua.
"Aira sudah ada di kamar." Tambahku.
"Serius Kalista?" Sahut papa dari dalam kamarnya.
"Iya papa. Ayo cepetan!" Ajakku.
"Syukurlah, ayo pa." Ajak mama kepada papa.
"Mbak Yayuk ayo!" Ajakku kepada Mbak Yayuk.
__ADS_1
Mama, papa, dan Mbak Yayuk yang semula berada di kamar masing-masing langsung berhamburan keluar. Mereka semua segera berlari ke lantai dua untuk melihat kondisi Aira. Satu per satu semuanya masuk ke dalam kamar. Dan ketika melihat Aira, mama segera berlari menghampiri tubuh Aira.
"Aira sayangku." Teriak mama sembari berlari meraih tubuh Aira.
"Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya mama.
Tangis haru mulai pecah dari mata mama dan Mbak Yayuk. Mama memeluk tubuh Aira erat-erat, seakan tidak mau untuk ditinggalkannya lagi. Berkali-kali mama mencium pipi Aira yang masih tidak sadarkan diri itu.
"Papa telepon dokter dulu ya." kata Papa sembari mengambil ponselnya.
Papa sedikit menjauh dari kami dan menuju ke dekat jendela kamar. Setelah beberapa saat papa berbicara dengan dokter melalui telepon. Papa kembali ke dekat ranjang dimana ada Aira. Kemudian papa juga memeluk tubuh Aira dan mencium pipinya. Aku benar-benar melihat kebahagiaan terpancar jelas di wajah orang-orang di rumah ini.
"Syukurlah." Ucap papa lega.
"Dimana kalian menemukan Aira?" Tanya papa.
Bang Ganjar melempar bola matanya kearahku. Sebagai tanda menyuruhku untuk menceritakan semuanya dan mengatakan lokasi penemuan Aira. Awalnya aku ragu untuk menceritakan pencarian Aira di dalam dunia lain itu. Aku takut semua orang di rumah ini tidak percaya atau mereka akan takut dengan kejadian yang telah aku alami di alam lain.
Setelah agak lama aku bergulat dengan pikiranku sendiri. Aku pun memutuskan menyimpan cerita itu dan menjawab saja lokasi aku menemukan Aira. Tanpa ragu aku segera menjawab.
"Di gudang mainan pa. Aku yakin sejak awal Aira ada disitu." Jawabku.
"Lho bukannya tadi kita sudah mencari di gudang itu?" Papa kebingungan.
"Tapi tidak ada Aira kan tadi." Tambahnya.
Aku tersenyum sembari mengangkat kedua bahuku. Sebagai tanda bahwa aku tidak tahu.
"Ternyata ada disana kan pa. Mungkin tadi kita yang nyari disana kurang teliti." Jawabku.
"Ya sudahlah yang penting sudah ketemu Aira-nya." Ucap papa.
Kami semua pun bisa bernapas lega dengan kembalinya Aira di keluarga ini.
***
Selanjutnya bagaimana ya? 👻👻👻
__ADS_1