Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Pohon Mangga


__ADS_3

Dear Diary,


Malam berikutnya aku kembali mendapatkan pengalaman. Kali ini aku bersama Bang Ganjar dibuat kebingungan oleh sesuatu yang ada diatas pohon mangga.


☠️☠️☠️


Malam berikutnya.


Setelah resmi menyandang sebagai anak indigo. Setiap malam aku susah untuk terlelap. Mungkin jika dihitung aku hanya tidur selama dua sampai tiga jam saja setiap malam. Dan biasanya aku tertidur ketika waktu menjelang pagi hari.


Setelah kejadian semalam, aku memutuskan malam ini untuk tidak membuka jendela kamar lagi. Berbagai kegiatan telah aku lakukan untuk mengusir rasa jenuh. Mulai dari membaca buku cerita, bermain boneka, dan lain-lain. Tetapi tetap saja, rasa jenuh itu tidaklah menghilang.


Karena terlalu jenuh, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke ranjang. Aku rebahkan tubuhku diatas sana, mataku menatap langit-langit kamar. Mungkin dengan melamun aku bisa merasakan kantuk. Sesekali aku menarik napas dalam untuk membuat tubuhku rileks.


Cukup lama aku melamun, hingga akhirnya telingaku menangkap suara yang sedang memanggilku. Awalnya aku tidak percaya akan suara yang memanggil-manggil namanya itu. Setelah aku dengarkan dengan seksama, ternyata memang suara itu nyata.


"Kalista ..."


"Ayo turunlah ..."


"Kalista ..."


Panggilan itu berasal dari suara yang sangat aku kenal. Ya, tidak salah lagi itu suara Bang Ganjar. Namun, kenapa suara itu berasal dari luar rumah. Segera aku beranjak bangun dan membuka jendela kamarku.


"Bang Ganjar! Kenapa kamu disitu?" Tanyaku.


"Bang!" Panggilku dengan suara yang lumayan keras.

__ADS_1


Abang tak menyahut panggilanku dan dia terus saja memanggil namaku. Tubuhnya menghadap ke arah pohon mangga. Pandangan matanya menoleh keatas pohon tersebut. Bahkan dia seolah tidak melihat keberadaanku.


"Abang!" Teriakku.


Tetap saja Bang Ganjar tidak menyaut. Karena aku kesal panggilanku tak mendapatkan jawaban. Aku bergegas turun dan keluar dari rumah, menuju ke taman untuk menyusul Bang Ganjar.


"Kalista ayo turun." Ucap Bang Ganjar.


"Kalista! Abang naik nih." Tambahnya.


Setibanya di taman itu, segara aku mendekat ke sumber suara tersebut. Saat ini aku lihat Bang Ganjar semakin mendekati pohon itu, kepalanya terus mendongak keatas pohon. Bahkan dirinya sudah siap untuk memanjat pohon itu. Sontak aku segera memegang bahu Bang Ganjar.


"Bang!" Panggilku sedikit dengan penekanan.


"Abang!"


"Abang kamu ngapain?" Bentakku ketika wajah kami telah berhadapan.


"Kalista!" Ucapnya dengan terkejut.


"Kenapa bang?" Tanyaku penasaran.


Sontak Bang Ganjar mendongakkan kepalanya kembali. Melihat salah satu batang pohon yang ada diatas sana. Kemudian matanya mengamati sekitarnya, melihat kondisi batang-batang pohon yang lainnya. Seolah mencari dan memastikan sesuatu. Setelah puas mengawasi sekitar, matanya kembali menghadap kearahku.


"Bukannya kamu tadi diatas pohon ini?" Tanyanya sembari menunjuk pohon mangga.


"Hah? Maksudnya?" Tanyaku bingung.

__ADS_1


Sebelum bercerita, Bang Ganjar menarik napas kemudian dia hembuskan perlahan. Sesekali masih memperhatikan kondisi sekitarnya. Matanya tak henti menoleh kesana kemari.


"Pas aku setengah tidur, ada yang memanggilku dan ketika mataku terbuka. Tidak ada siapapun. Namun, suara panggilan itu jelas sekali seperti suara kamu. Makanya aku mencari dimana sumber suara itu. Didalam rumah aku tidak menemukanmu." Bang Ganjar menjelaskan.


"Lalu abang keluar ke taman gitu?" Aku menimpali.


Bang Ganjar menganggukkan kepalanya, kemudian kembali melanjutkan ceritanya.


"Iya, aku yakin suara itu berasal dari taman. Dan setelah beberapa saat mencari. Aku menemukan kamu diatas pohon dalam posisi kamu tidur di atas pohon." Jelasnya lagi.


"Namun, ketika aku memanggil namamu. Kamu sama sekali tidak menyaut. Dan ini aku hampir saja memanjat pohon ini." Lanjutnya.


"Kok bisa gitu ya?" Ucapku.


"Ya sudah ayo bang kita masuk aja dulu." Ajakku.


Kami pun segera berjalan masuk ke dalam rumah. Pikiranku terus bertanya-tanya tentang kode ini. Apakah ada hubungannya dengan bayangan yang kemarin malam aku lihat itu. Karana pohon dan batang yang dimaksud Bang Ganjar, sama seperti pohon dan batang yang diduduki oleh bayangan itu.


"Apa hubungannya dengan sosok itu?" Batinku.


"Heh! Kenapa kamu jadi melamun?" Suara Bang Ganjar membuyarkan pikiranku.


"E...tidak bang. Lebih baik kita kembali tidur. Kita bicarakan ini besok saja." Jawabku.


"Oke." Tutup Bang Ganjar sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamarnya.


☠️☠️☠️

__ADS_1


Ada apa lagi ini? 👻👻👻


__ADS_2