Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Bukan Mbak Yayuk


__ADS_3

Dear Diary,


Sosok yang mama yakini adalah Mbak Yayuk ternyata bukan Mbak Yayuk yang sebenarnya. Lalu bagaimana ceritanya?


☠️☠️☠️


Keesokan harinya.


Cahaya mentari pagi menembus celah korden kamar kedua orang tuaku. Mama menggeliat merasakan cahaya tersebut. Sementara papa terlihat masih nyenyak tertidur. Hingga dengkuran keras itu terdengar jelas.


"Sudah jam lima pagi." Lirih mama sembari melihat jam weker yang ada di nakas samping ranjangnya.


"Pa bangun pa!" Seru mama membangunkan papa.


Beberapa kali mama menggoyang-goyangkan badan papa. Tetap saja pria bertubuh kekar itu tidak bergerak sama sekali. Bahkan dengkurannya terdengar semakin keras. Mungkin karena semalam usai begadang, jadi tidak heran jika tidur papa terlalu lelap pagi ini. Maklum saja setelah kejadian semalam itu, kedua orang tuaku baru bisa terpejam sekitar pukul setengah empat.


"Papa bangun!" Teriakan mama sudah tidak dapat dihindari lagi.


"Apa sih ma. Orang baru saja tidur kok!" Bentak papa dengan mata yang masih terpejam.


"Papa ini sudah jam lima lho. Ayo bersiap dan sarapan." Ajak mama.


"Bentar lagi ma." Tolak mama dengan malas.


"Pa! Nanti telat lho. Dan mama pengen ngobrol sama anak-anak dulu." Kata mama.


Papa terdiam dengan posisinya semula. Karena memang matanya terasa sangat berat sekali untuk terbuka.


"Pa kita harus ngobrolin semuanya ke semua anggota rumah ini." Kata mama lagi.


"Ngobrolin apa sih ma?" Tanya papa.


"Tentang kejadian tadi malam papa." Tegas mama.


"Itu nggak penting ma. Yang ada nanti malah semua berpikir yang tidak-tidak." Tolak papa.


"Pokoknya mama harus menyelidiki dulu pa." Kata mama dengan tegas.


"Ayo pa! Buruan mandi!" Perintah mama seraya memberikan handuk kepada suaminya.


Meskipun malas papa menurut saja dengan perintah istrinya. Dengan lunglai, dia langkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sementara itu mama tersenyum senang karena berhasil membujuk suaminya untuk segera bangun dan bersiap. Seraya mama membuka lemari dan mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan papa hari ini.


Sarapan pagi ini tampak tidak seperti biasanya. Mama kebingungan dengan kejadian yang dialami tadi malam. Terlihat dari raut wajahnya, mama terlihat begitu serius pagi ini. Bahkan senyum manis yang biasa terpancar dari wajahnya. Pagi ini tidak ada senyum itu menyambut hari-hariku. Mama pun mengumpulkan semua anggota keluarga di rumah ini.

__ADS_1


"Anak-anak buruan turun. Ayo kita sarapan!" Teriak mama dari ruang makan.


"Iya ma." Sahutku sembari bercermin.


"Ayo cepetan." Teriaknya lagi.


Aku segera keluar dari kamar dengan menenteng tas sekolahku. Tampaknya Bang Ganjar juga sedang terburu-buru memakai sepatunya.


"Kenapa mama teriak-teriak sih pagi ini." Protesku sembari menutup pintu kamar.


"Iya tumben banget." Sahut Bang Ganjar yang duduk di sofa depan kamar.


"Ayo Aira kita turun." Ajakku seraya mengandeng tangan Aira.


Kami bertiga turun bersama dan menuju meja makan. Tampak mama dan papa sudah duduk rapi di meja makan. Meskipun makanan belum seluruhnya tertata di atas meja. Karena Mbak Yayuk masih berjalan keluar masuk dapur untuk mengambil makanan.


"Ada apa sih mama teriak-teriak. Masih pagi juga." Protesku.


"Ayo duduk dulu." Perintahnya.


Aku, Bang Ganjar, dan Aira mengiyakan perintah mama. Kami duduk di kursi mengelilingi meja makan itu.


"Ini beneran tadi malam Mbak Yayuk tidak pergi ke dapur?" Tanya mama kepada Mbak Yayuk.


"Tidak bu. Saya semalam tidak kemanapun." Jawabnya sembari menata makanan di atas meja.


Tahu akan kode untuk dipersilahkan duduk. Mbak Yayuk menghentikan kegiatannya dan segera duduk dikursi tersebut.


"Yakin mbak?" Sahut papa meyakinkan.


"Tidak pak. Saya hanya di kamar saja tadi malam." Jawabnya.


Tampak mama dan papa saling bertatapan sebagai tanda tanya satu sama lain.


"Memangnya ada apa tante, om?" Celetuk Bang Ganjar.


"Tadi malem tante dan om tidur di sofa ruang tamu. Karena beberapa kali meteran listrik itu mati sendiri. Ya sudah kami berjaga-jaga, takutnya kalau ada orang atau maling masuk. Nah waktu lewat tengah malam tadi, ada suara berisik di dapur. Kami mendengarkan langkah kaki dan suara orang buka kulkas kemudian minum. Iya kan pa?" Mama meminta persetujuan papa.


Papa menjawabnya sembari mengangguk dan menyantap sarapan dimejanya.


"Waktu kita masuk ke dapur nggak ada siapa-siapa. Terus nggak lama kita mau balik ke sofa saja dan mama melihat Mbak Yayuk lewat dari ruang makan ke arah belakang. Arah ke kamar Mbak Yayuk." Mama menjelaskan.


"Dan beneran Mbak Yayuk dari bentuk tubuhnya. Persisi banget sama Mbak Yayuk." Lanjutnya.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Bang Ganjar.


"Katanya bukan Mbak Yayuk." Ucap mama.


"Iya bu. Saya sendiri saja setelah kejadian pagi itu nggak berani keluar kamar kalau belum pagi bu. Takut soalnya." Timpal Mbak Yayuk.


"Semalam sempat mati lampu saja saya tetep di kamar. Nggak berani keluar." Tambahnya.


Kami semua mendengarkan penjelasan Mbak Yayuk dengan seksama.


"Kok aneh ya pa?" Mama menatap papa.


"Papa sih kemarin nggak lihat, mama kan yang lihat dan katanya Mbak Yayuk." Ujar papa.


"Ya mama sih lihatnya kaya gitu pa. Buat apa mama bohong lagi. Orang waktu itu juga mama kaget dan menjerit kan." Ujar mama.


Aku mendengarkan obrolan mereka pagi itu dengan perasaan penuh penasaran.


"Apa jangan-jangan sosok itu lagi dan kini menampakkan diri ke mama dan papa." Batinku dalam hati.


"Aku harus bagaimana ya. Agara aku bisa mengungkapkan siapa dia dan supaya sosok itu tidak menggangu keluargaku lagi." Lanjutku.


"Kalista jangan melamun pagi-pagi." Celetuk mama saat melihat aku.


"E....i iya ma." Sahutku terbata-bata.


"Ya sudah tidak apa-apa dan tidak perlu diperpanjang lagi masalah ini. Yang penting anggota keluarga semuanya baik-baik saja." Papa menengahi.


"Tapi Aira takut hantu papa." Sahut Aira dengan polosnya.


"Tidak ada hantu sayang." Ujar papa sembari mengelus rambut Aira.


"Ada papa. Di rumah ini ada hantunya. Aira takut." Ujar Aira sembari bergidik.


"Hantu itu hanya ada di cerita sayang." Papa meyakinkan Aira.


Waktu sudah menunjukkan pukul 06.25 WIB kami semua melanjutkan sarapan kami. Dan segera bersiap untuk melakukan aktivitas masing-masing.


"Satu hal yang papa takutkan di rumah ini. Takut kalau sewaktu-waktu maling bisa masuk. Makanya semalam papa dan mama berjaga di ruang tamu." Ucap papa setelah menyelesaikan makannya.


"Papa berangkat dulu ya. Semua hati-hati di jalan." Tutupnya pagi itu.


Papa keluar rumah diantarkan oleh mama. Sedangkan aku dan Bang Ganjar saling bertatapan di meja makan. Aku kalut dengan pikiranku saat ini tentang kejadian yang dialami mama dan papa.

__ADS_1


☠️☠️☠️


Siapa dia dan bagaimana kelanjutannya ya? 👻👻👻


__ADS_2