Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Mati Lampu Part II


__ADS_3

Dear Diary,


Masih ada kejutan mati lampu jilid dua nih. Rasanya hujan deras, mati lampu, dan menuggu anggota keluarga yang belum pulang itu rasanya campur aduk. Coba baca deh kira-kira buat deg-degan gak?


☠️☠️☠️


"Kenapa kalian bergandengan kayak begitu?" Tanya mama ketika melihat kami bertiga turun dari tangga.


"Takut ma." Ucap Aira yang langsung pindah ke pelukan mama.


"Takut apaan sih?" Tanya mama.


"Takut hantu ma." Celetuk Aira.


"SsStt ..." Kata mama.


"Gak ada hantu disini. Ayo kita duduk di sofa." Ajak mama.


Kami berempat berjalan menuju sofa dipandu oleh mama. Dengan urutan mama paling depan menggandeng Aira, aku berpegangan tangan dengan Aira, dan Bang Ganjar di paling belakang. Baru saja kami mendaratkan tubuh kami di sofa.


Tiba ... Tiba ...


"Teng .... Teng ....Teng ..."



Dentingan jam dinding kuno koleksi papa kembali berdenting menunjukkan tepat pukul delapan malam. Karena suasana saat itu terlalu sunyi dan mencekam. Dentingan jam saja membuat kami terkejutnya bukan main.


"Astaga." Teriak Bang Ganjar sembari memegangi dadanya.


"Mama ...." Teriak Aira.


"Hu .. uh." Aku menghela napas.


"Kalian kenapa sih? Cuma jam anak-anak." Ucap mama berusaha tetap santai.


"Sudah kalian tenang saja jangan takut." Lanjutnya.


Mama kembali mengotak-atik ponselnya, menunggu apabila ada panggilan atau pesan dari papa.

__ADS_1


"Ini papa kemana sih? Udah jam delapan kok belum sampai juga." Ucap mama khawatir.


"Coba telepon lagi tante." Saran Bang Ganjar.


"Iya deh tante coba telepon lagi. Tadi katanya udah mau sampai. Tapi kok lama." Kata mama sembari mendekatkan ponselnya ke telinga.


Mama menekan ponselnya untuk mencoba menelepon papa. Namun, telah lama sambungan mencoba menghubungkan ke ponsel milik papa dan tidak ada jawaban dari papa. Hal tersebut membuat mama semakin panik. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mama kembali mondar-mandir di depan pintu masuk rumah.


"Dik ... Kok aku merinding ya?" Bisik Bang Ganjar.


"Apa-apaan sih bang. Aku nggak ngerasa apa-apa kok. Berati aman, tenang aja." Ucapku dengan sok berani.


"Lah apa hubungannya?" Bang Ganjar kebingungan.


"Ya pokoknya ada hubungannya Bang. Pengen tahu aja deh." Ucapku.


"Halah mengkhayal saja kamu ini." Ucap Bang Ganjar.


Ketika kami sedang asyik berbisik-bisik. Tiba tiba sebuah sorot cahaya yang datangnya dari belakang bagian samping kanan kami. Cahaya itu semakin mendekat ke arah ruang keluarga. Kamu bertiga terdiam, mencoba memprediksi cahaya apakah itu. Mataku dan mata Bang Ganjar saling bertatapan seolah saling menanyakan cahaya apa itu. Belum sempat kami menoleh ke arah cahaya tersebut.


"Arghhhhhhhhh ......" Aira menjerit ketakutan dan menenggelamkan wajahnya di pelukan Bang Ganjar.


Sontak aku langsung berdiri dan melihat sumber cahaya itu. Aku lihat seorang wanita berambut panjang dengan membawa lentera berjalan perlahan ke arah kami. Wanita itu terus mendekat dan tidak menghiraukan teriakan Aira. Aku terus memfokuskan mataku ke arah wanita tersebut. Melihat aku terus menatap ke arah itu. Bang Ganjar pun ikut melihat ke arah yang sama denganku.


"SsStt ..." Ucapku memerintah Bang Ganjar untuk diam.


Aku berpikir jika Bang Ganjar semakin panik akan membuat yang lainnya menjadi takut. Terutama Aira yang ada dipelukannya saat ini. Setalah aku peringatkan kini dia menutup mulut dengan tangannya.


"Dik itu apa?" Tanyanya dengan tanpa suara.


Aku mengangkat bahuku, karena memang tidak tahu sosok apakah wanita itu. Mataku bergantian melihat wanita yang terus berjalan kearahku. Sesekali aku juga melihat wajah Bang Ganjar yang mulai ketakutan.


"Arghhhhhhhhh ....." Kini Bang Ganjar yang berteriak dan mendekap tubuh Aira.


Mama yang terkejut dengan teriakan Aira dan Bang Ganjar langsung menoleh ke arah kami. Kemudian mama mendekat ke sofa yang kamu duduki. Mama penasaran apa yang membuat anak-anak itu tiba-tiba menjerit.


"Ada apa anak-anak?" Tanya mama.


"Hantu ma." Jawab Aira.

__ADS_1


"Ma ... itu lho ma" Aku mengarahkan bola mataku kearah sumber cahaya itu.


Mama menoleh kearah yang telah aku tunjukkan dengan mataku. Dari raut wajahnya mama juga sempat terkejut dan memegangi dadanya. Kemudian mama terus memperhatikan wanita itu. Dan tiba-tiba ada senyum tipis yang sempat aku lihat dari bibir mama.


"Tante ... apa itu?" Tanya Bang Ganjar masih dengan tanpa suara.


Mama mencari ponselnya dan menyalakan senter untuk sedikit menerangi kami. Senter itu menjadi satu titik cahaya yang membantu penglihatan kami disekitar ruang tamu itu. Mama pun mengarahkan senter ponselnya ke arah datangnya wanita itu.


"Maaf senternya tidak ada bu. Lilinnya juga sudah habis. Yang ada cuma lentera ini." Kata wanita itu setelah berhenti tepat di samping sofa kami.


"Arghhhhhhhhh ...." Lagi-lagi Aira menjerit mendengar suara itu.


Aku dan Bang Ganjar bernapas lega setelah mengetahui wanita pembawa lentera itu adalah Mbak Yayuk. Rasa kesal memang ada dibenak kami. Karena memang dalam kondisi yang mencekam seperti ini, ada sosok wanita berjalan perlahan dan tanpa sepatah kata pun berjalan mendekati kami. Ya bagaiman bisa kami berpikir positif dengan bayangan yang tampak seram seperti itu.


"Kenapa nggak bilang-bilang kalau mbak sih yang jalan kesini." Protes Bang Ganjar yang tampak kesal.


"Maaf saya harus jalan pelan dan tahan ngomong. Jaga api lentera agar tidak mati. Soalnya dari tadi mati terus kalah sama angin." Jawab Mbak Yayuk menjelaskan alasan kenapa tidak berbicara dan berjalan dengan sangat pelan.


"Aku kira hantu mbak." Sahut Aira yang kini sudah melihat orang yang baru saja datang.


"Maaf ya cantik." Ucap Mbak Yayuk meminta maaf kepada Aira.


Mama yang sempat terkejut pun kini mulai bisa mengatur napasnya. Kemudian mama berjalan mendekati Mbak Yayuk. Dia pun segera mengambil lentera dari tangan Mbak Yayuk dengan hati-hati. Supaya api di lentera itu tidak mati mendadak karena kencangnya angin yang masuk ke dalam rumah.


"Tadi yang nyuruh Mbak Yayuk mama." Ucapnya kemudian meletakkan lentera di atas meja tamu.


"Makasih ya Mbak Yayuk." Ucap mama.


"Iya bu sama-sama. Maaf membuat terkejut" Jawab Mbak Yayuk sembari sedikit tersenyum tapi tetap merasa bersalah.


Setalah meletakkan lentera itu di lokasi yang dirasa cocok untuk menerangi ruang tamu. Mama kembali mendekati kami semua.


"Makan malamnya sudah siap belum mbak?" Tanya mama kepada Mbak Yayuk.


"Sebentar lagi siap bu." Jawab Mbak Yayuk.


"Oh ya sudah. Bapak juga belum sampai kok. kejebak macet kayaknya." Jawab mama.


"Saya kembali ke belakang dulu ya bu. Melanjutkan menyiapkan makan malam." Mbak Yayuk meminta izin.

__ADS_1


☠️☠️☠️


Minta kesannya habis baca part ini dong 👻👻👻


__ADS_2