Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Pekikan Misterius


__ADS_3

Dear Diary,


Pekikan misterius yang membangunkanku pagi itu. Terdengar sangat nyaring dan membuat kepala serta telingaku sakit. Ternyata bukan cuma aku saja yang mendengarnya.


☠️☠️☠️


Mataku terbuka ketika mendengar sebuah pekikan yang sangat melengking itu. Dan itu sangat menggangguku. Jantungku berdebar-debar, napasku terengah-engah. Telingaku terasa sakit akibat pekikan yang aku dengar barusan. Telapak tangan aku tutupkan ke telingaku.


"Aduh sakit banget telingaku." Rintihku.


Meskipun tidurku semalaman terbilang kurang dan masih ngantuk. Aku bangun dari tidurku dan membuka jendela kamar. Mataku menjelajahi sekitar jendela dan taman. Mencari sumber pekikan itu, barangkali ada sesuatu yang aku dapatkan dari luar kamar.


"Suara siapa sih? Gak enak banget di denger." Gumamku lirih.


"Masih pagi buta juga. Udah ganggu saja."


Mataku menelusuri area taman pagi itu. Hanya tanaman-tanaman yang tersiram air hujan semalam. Dedaunan pohon terhuyung angin kesana kemari dan beberapa cuitan burung yang terdengar. Tidak ingin melewatkan suasana yang tidak biasa aku temukan ini, aku pun menghirup napad dalam-dalam dan perlahan aku hembuskan.


"Segarnya pagi ini." Gumamku sembari memberikan senyuman manisku untuk menyambut hari ini.


Bagiku yang bisa dibilang jarang sekali bangun pagi, memang pagi ini aku merasa takjub dengan suguhan indahnya pemandangan pagi ini. Bersyukur atas karunia sang maha kuasa yang masih membangunkanku di pagi ini dengan suasana yang tak kalah syahdunya. Senyumku semakin mengembang indah menghiasi kedua pipiku yang terbilang tirus ini. Namun, tiba-tiba aku teringat kembali tujuan awalku membuka jendela sepagi ini.


"Oh iya. Suara apa ya itu tadi?" lirihku.


Sekali lagi aku tengok kanan dan kiri jendela kamarku. Hanya pemandangan dinding dan atap saja. Sementara aku tengok ke bawah, hanya ada taman yang sempat aku ceritakan tadi.


"Hmmm-- Tidak ada siapapun." Ucapku lagi.


Karena aku tidak menemukan apapun di balik jendela kamar. Aku tutup kembali jendela itu, karena hari masih terlalu gelap. Aku berniat memejamkan mata sebentar sebelum siap-siap berangkat sekolah. Kerena memang kantuk masih merayapi tubuh ini.


"Hoams--"


"Tiduran bentar ah." Kataku sembari merebahkan kembali tubuhku di ranjang.


Mataku menoleh kearah nakas di samping tempat tidur. Waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB. Setelah benar-benar memastikan bahwa ini masih pagi. Aku pun perlahan memejamkan mataku.


"Tolong!" Samar-samar aku mendengar suara itu.

__ADS_1


Mendengar suara samar-samar minta tolong yang beberapa kali terdengar oleh telingaku itu. Secepat kilat aku membuka kedua mataku bersamaan. Aku pasang telingaku untuk mencari tahu apakah itu benar-benar suara manusia, atau halusinasi semata.


"Mama?" Aku yang hapal betul itu suara mama segera bangkit dan berlari keluar.


Aku yang tadinya merebahkan diri di ranjang, seketika langsung melompat berdiri. Ketika aku buka pintu kamar, berbarengan dengan Bang Ganjar yang keluar kamar. Matanya menyiratkan sebuah pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi.


"Ada apa?" Tanyanya kepadaku.


Aku angkat kedua bahuku sebagai tanda tidak tahu apa yang terjadi. Setengah berlari aku dan Bang Ganjar menuju sumber suara tersebut. Ternyata mama dan papa sedang membantu Mbak Yayuk yang terbaring di lantai. Aku yang lagi kebingungan membantu sebisaku.


"Apa apa ma?" Tanyaku panik.


"Mbak Yayuk tiba-tiba pingsan." Jawab Mama singkat.


"Ayo bantuin bawa ke kamarnya." Ajak papa.


Papa, mama, dan Bang Ganjar memapah Mbak Yayuk ke kamarnya. Sedangkan aku mencarikan minyak angin untuknya. Aku segera berlari ke tempat kotak obat yang tidak jauh dari ruang makan.


Aku berjalan menuju dimana letak kotak obat itu. Dengan berjalan agak terburu-buru, ada perasaan yang tidak biasa menyelimutiku. Seperti ada yang sedang memerhatikan gerak-gerikku.


Perasaan tidak nyaman itu semakin kuat aku rasakan. Rasa yang sedikit membuat merinding kulitku. Dadaku sedikit sesak berada di ruangan itu. Mataku melirik ke sekitar, mencari sesuatu yang mungkin sedang ada di tempat itu.


"Kok sesak ya." Gumamku dalam hati.


Karena kotak obat menempel di dinding dan tubuhku tidak mampu meraihnya. Aku mengambil kursi untuk dapat meraih kotak obat. Sesegera mungkin aku menengok ke belakang ketika aku merasa ada suatu bayangan yang lewat. Namun, tidak ada siapapun di belakangku.


Setelah mendapatkan barang yang aku cari. Aku segera berlari dari tempat itu dan menyusul ke kamar Mbak Yayuk yang letaknya di pojok belakang rumah ini. Aku lihat Mbak Yayuk sudah terbaring di ranjang sederhana miliknya.


"Ini ma minyak angin sama air minumnya." Ucapku ketika masuk ke dalam kamar Mbak Yayuk.


Mama segera mengusapkan minyak angin pada area tubuh Mbak Yayuk. Dengan bantuan minyak angin ini harapannya Mbak Yayuk bisa segera sadar. Sesekali mama memijat leher Mbak Yayuk dengan minyak tersebut.


Benar saja, tidak menunggu lama. Mbak Yayuk pun tersadar dari pingsannya. Perlahan matanya terbuka, meski wajahnya masih tampak sangat pucat. Mama menyodorkan segelas air putih yang sudah diambilkan Bang Ganjar dari dapur.


"Minum dulu ya mbak." Ucap mama.


Mbak Yayuk pun segera menegak minuman itu. Meski hanya beberapa kali tegukan saja. Namun, rupanya sedikit membuatnya lebih tenang.

__ADS_1


"Kenapa mbak?" Tanya papa kepada Mbak Yayuk.


"Ada suara jeritan dan bayangan menyeramkan pak tadi." Jawab Mbak Yayuk.


"Hah?" Aku terkejut.


"Kenapa Kalista?" Papa bertanya kepadaku.


"Apa yang aku dengar tadi juga di dengar sama Mbak Yayuk ya?" Batinku.


"Jangan bengong Kalista." Ucap papa.


"Hmmm.... Aku juga dengar teriakan. Eh orang memekik tadi pagi." Ucapku.


"Teriakan apa ya? Mama dan papa di lantai satu nggak dengar apa-apa itu." Ucap mama yakin.


"Terdengar jelas kok ma. Membuat kepala dan telinga sakit. Iya kan mbak?" Ucapku sembari meminta persetujuan Mbak Yayuk.


Meskipun masih lemas Mbak Yayuk mengangguk secara perlahan. Sebagai tanda mengiyakan pernyataanku barusan.


"Saya tadi melihat sosoknya neng. Tinggi, hitam dan besar. Membuat saya langsung pingsan." Mbak Yayuk coba menggambarkan.


"Hah? Beneran seperti itu mbak wujudnya?" Tanyaku.


"Iya." Jawab Mbak Yayuk singkat.


Mama merasa obrolan kali ini di luar logika. Sehingga mama pun menghentikan tema obrolan aneh pagi ini.


"Ini pada ngobrolin apa sih? Jangan ngomong yang enggak-enggak." Sahut mama.


"Mungkin Mbak Yayuk cuma kelelahan atau masuk angin." Papa sependapat dengan mama.


"Ya sudah mbak. Hari ini kamu libur dulu saja." Ucap mama.


Karena matahari mulai menampakkan sinarnya. Aku, papa, mama , dan Bang Ganjar keluar dari kamar Mbak Yayuk untuk bersiap dengan kegiatan masing-masing. Meskipun dalam pikiranku masih berdebat soal pekikan misterius dan sosok yang digambarkan Mbak Yayuk.


☠️☠️☠️

__ADS_1


Sosok apa sih? Kenapa ganggu Mbak Yayuk ya? Lanjut bab ya! 👻👻👻


__ADS_2