Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Jawaban Mike Part II


__ADS_3

Dear Diary,


Masih mengenai obrolanku dengan Mike tentang mahluk yang memiliki energi negatif itu di rumahku. Bagaimana ceritanya, coba lihat diaryku ini.


☠️☠️☠️


Di bawah teriknya sinar matahari siang itu. Kami tetap melanjutkan obrolan di kursi panjang itu. Sesekali aku ataupun Mike menganggukkan kepala. Tampak hangat obrolan kami siang itu. Ops, bagi yang bisa menyaksikan Mike.


"Sebenarnya sosok apakah dia itu ya Mike?" Tanyaku.


"Aku kurang paham juga sih Kalista apa sosoknya dan darimana dia. Aku tidak berani mendekat jadi aku tidak tahu." Jelas Mike.


"Lalu apa kejadian selanjutnya Kalista?" Tanya Mike.


Matahari semakin membuat terik dan cuaca sangat panas. Kerongkonganku merasa kering dan aku merasakan haus. Aku rogoh isi dalam tasku dan keluarkan botol minum dari dalamnya. Botol minum berwarna biru favoritku yang selalu aku bawa ke sekolah setiap hari.


"Malam itu hujan badai dan mati lampu. Saat makan malam aku melihat sosok yang sama waktu aku menyelamatkan Aira dulu. Dia berada di balik badan abangku." Jelasku.


"Lama sekali sosok tersebut berada di tempat ith. Dan ketika lampu menyala aku cari-cari tidak ada siapapun di tempat itu."


Aku membuka botol minumku dan meneguk air dari botol yang kini berada di tanganku. Sesaat aku menghentikan cerita tentang malam sewaktu mati lampu itu.


"Keesokan harinya aku dibangunkan oleh suara pekikan yang luar biasa keras. Membuatku terbangun tiba-tiba karena jantungku berdebar karena kaget. Dan telingaku sangat sakit mendengar itu. Kemudian aku cari sumber suara itu di sekeliling kamar, tetapi tidak ada siapapun disana." Jelasku.


"Aku segera keluar kamar ketika mama berteriak minta tolong. Dan ternyata Mbak Yayuk pingsan di ruang makan. Setelah sadar dia bilang mendengar pekikan misterius itu. Eh bukan misterius lagi, karena Mbak Yayuk sempat melihat sosok yang memekik itu."


"Hmmmm .... Dari gambaran sosok yang dijelaskan Mbak Yayuk. Seperti apa yang aku lihat sebelum-sebelumnya itu. Sosok hitam, tinggi, dan besar."


"Tetapi kayaknya sosok itu bisa berubah-rubah deh Mike. Apakah mahluk tak terlihat bisa berubah-rubah?" Tanyaku.


Aku menatap Mike yang saat ini Mike juga menatap ke arahku. Kami mendengarkan secara seksama penjelasan satu sama lain.


"Untuk mahluk golongan tertentu bisa saja berubah wujud Kalista." Jawab Mike.


"Memangnya dia berubah wujud menjadi apa?" Mike lanjut bertanya.


"Terkadang aku melihatnya sosok seorang wanita dengan pakaian jawa." Jawabku sembari membayangkan sosok itu.


"Menyeramkan?"


"Sangat menyeramkan Mike. Tatapanya menyeramkan sekali, dingin, dan penuh amarah. Aku tidak berani lama-lama menatapnya. Waktu itu aku bertemu di kamar Bang Ganjar." Jelasku.


"Begitu ya? Lalu sejak kapan dia di rumah kamu?" Tanya Mike.

__ADS_1


"Aku tidak tahu Mike." Kataku.


Aku tampak berpikir tentang pertanyaan terakhir yang Mike ucapkan itu. Aku kembali ke beberapa hari yang lalu. Memikirkan satu persatu kejadian sebelum-sebelumnya. Dan ada sebuah kejadian yang aku duga sebagai awal gangguan-gangguan itu terjadi.


"Apa jangan-jangan--" Aku tak menyelesaikan perkataanku.


"Apa?" Sela Mike.


"Sejak aku kesurupan di sekolah Mike. Sejak itu Mike." Tebakku.


Aku kembali terdiam dan berpikir sejenak. Kini pikiranku sedang benar-benar memastikan sejak kapan makhluk itu mengganggu keluargaku.


"Eh tapi sebelum aku kesurupan. Aku udah melihat sosok wanita itu di kamar Bang Ganjar sih." Ucapku lagi.


"Berarti bukan sejak kesurupan itu Mike." Lanjutku.


"Mungkin dia ada urusan dengan kamu Kalista." Ujar Mike.


"Lalu apa urusannya? Dan kenapa menganggu kami sekeluarga?" Aku pun kebingungan.


"Mahluk seperti kami jika menganggu seseorang pasti ada tujuannya." Kata Mike tiba-tiba.


"Kira-kira apa ya tujuan mahluk itu." Tanyaku.


"Aku harus segera mengungkapnya Mike." Kataku bersemangat.


"Hati-hati Kalista. Kamu boleh mengungkap siapa makhluk itu. Tapi pesanku jangan terburu-buru dan tetap hati-hati, karena dia bukan mahluk biasa." Pesan Mike kepadaku.


"Kalah kamu butuh aku datangi aku waktu di sekolah saja ya Kalista." Tambahnya lagi.


Sekolahan sudah tampak sepi, tidak ada lagi siswa-siswi yang masih berada di lingkungan sekolah. Aku merasa terlalu lama ngobrol bersama Mike. Hingga aku lupa bahwa jam sudah berjalan menuju sore.


"Kalista!" Panggil seseorang dari kejauhan.


"Ngapain kamu disitu?"


Aku menoleh kearah sumber suara itu. Dan aku lihat dari ruang guru, tampak Bu Rahmi yang memanggilku tadi. Aku pun terkejut karena terpergok olehnya.


"Ngapain kamu disitu?" Tanya Bu Rahmi sembari berjalan mendekat kearahku.


"E--. E--. I-itu bu--" Aku bingung harus beralasan apa.


"Katanya tadi buru-buru pulang karena ada janji sama teman. Kok masih disini saja?" Tanya Bu Rahmi.

__ADS_1


"Kamu bohong ya sama ibu?" Tebak Bu Rahmi.


"E--. E-ngak bohong kok bu." Jawabku terbata-bata.


Aku menunduk kepalaku supaya tidak bertatapan langsung dengan Bu Rahmi.


"Ini juga beneran bertemu dengan teman." Batinku dalam hati.


"Tapi bagaimana aku menjelaskan kepada Bu Rahmi."


"Aduh aku bingung."


Aku bercakap-cakap dengan diriku sendiri dalam hati.


"Kenapa kami diam saja Kalista?" Pertanyaan Bu Rahmi membuyarkan aku.


"Tadi ada teman Kalista disini bu. Dan beberapa menit yang lalu dia baru saja pulang." Jawabku berbohong.


"Ya sudah sekarang kamu pulang ya. Ini sudah jam setengah tiga. Sudah berapa jam kamu disini, nanti kamu dicariin sama orang tua kamu." Kata Bu Rahmi.


"Ibu pulang dulu. Kamu harus segera pulang juga." Pamitnya seraya beranjak meninggalkan Kalista.


"Baik bu guru." Kataku sembari tersenyum dan melambaikan tangan sebagai ucapan selamat jalan.


Melihat kepergian Bu Rahmi yang semakin jauh. Aku pun bernapas lega, akhirnya memiliki alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Bu Rahmi. Ya meskipun dengan sedikit berbohong.


"Begini ya kalau berteman sama hantu. Orang lain yang gak bisa lihat, dikiranya aku sendirian." Gerutuku sembari menatap Mike yang sedari tadi cekikikan ketika aku diintrogasi Bu Rahmi.


"Kamu jangan terus tertawa Mike. Ini tidak lucu!" Kataku dengan nada kesal.


"Hehe. Tapi ini lucu sekali Kalista." Balas Mike yang terus saja menertawakan aku.


Aku pun memonyongkan bibirku karena kesal melihat tingkah Mike. Dengan perasan yang masih kesal aku memutuskan untuk pulang saja. Daripada disana lama-lama membuat emosiku semakin meninggi saja. Aku pun beranjak meninggalkan Mike yang masih duduk di kursi itu disertai gelak tawanya.


"Hantu kok takut hantu." Gumamku lirih, namun masih terdengar oleh Mike.


"Siapa yang takut hantu Kalista?" Tiba-tiba Mike berteriak.


"E... eh... tidak ada Mike." Jawabku sembari berlari pulang.


☠️☠️☠️


Kira-kira bagaimana cara Kalista mengungkap sosok itu ya? 👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2