Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Cerita Nenek Part II


__ADS_3

Dear Diary,


Tentang cerita nenek yang masih berlanjut. Sebuah kabar yang baru aku ketahui tentang masa lalu Tante Ria dan anak-anaknya.


***


"Pertanyaan tentang berapa jumlah anak Tante Ria nek." Aku mengulang pertanyaan.


"Oh yang itu nak."


Nenek kembali terdiam. Aku menyimpulkan bahwa nenek tidak mau menjawab pertanyaanku.


"Nek ... Nenek ..." Panggilku.


Ternyata dugaanku salah dan nenek mulai menceritakan.


# Flashback ON #


13 Maret 2003


"Oek ... Oek ... Oek ..."


Berisik suara bayi terdengar nyaring dari dalam ruang operasi sebuah rumah sakit di J***A. Nenek, kakek dan Yudi bernapas lega. Akhirnya setelah beberapa jam menjalani proses persalinan. Tidak lama pintu ruang operasi terbuka.


"Keluarga Ny. Ria." Panggil perawat.


Yudi segera mendekat ke arah perawat dan dipersilahkan untuk masuk ke dalam. Dengan senyum mengembang Yudi segera menggendong dua anak kembarnya. Yudi merasa bahagia disertai tangis haru. Dia menatap lekat-lekat kedua anaknya itu.


"Sayang anak kita kembar laki-laki. Ganteng banget." Bisik Yudi seraya mencium kening Ria.


"Mirip kamu sayang." Balas Ria lirih sembari tersenyum.


Kedua orang tua baru itu menikmati momen kebersamaan mereka untuk yang pertama kali. Beberapa menit kemudian perawat mempersilahkan Yudi keluar dan memindahkan dua anak kembar itu ke ruang bayi.


Sementara itu sang ibu dipindahkan ke kamar rawat pasien. Nenek, kakek, dan Yudi menemani Ria di ruang rawat. Mereka bahwa menceritakan wajah dari dua anak kembar itu mirip dengan Yudi. Hal tersebut membuat nenek dan kakek tidak sabar ingin segera bertemu dengan si bayi.


Pukul 17.30 WIB


- Tok ... Tok ... Tok ... -


"Masuk!" Seru Yudi sembari berjalan ke arah pintu.


"Permisi, Pak Yudi bisa ikut saya?" Ajak perawat yang terlihat gusar.


"Baik sus." Jawab Yudi singkat.


Yudi menyusuri koridor rumah sakit yang mulai sepi. Perawat tersebut mengantarnya ke sebuah ruangan. Yudi pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Selamat malam Pak Yudi. Salah satu dari anak anda harus masuk ke ruang NICU." Ucap dokter.


"Hah?" Yudi terkejut.


"Kenapa dengan anak saya dok?"

__ADS_1


"Salah satu anak anda mengalami kelainan di paru-parunya. Sehingga akan susah untuk bernapas. Kami membutuhkan bantuan peralatan medis di ruang NICU pak."


Yudi pun terlihat frustasi dengan ucapan dokter itu. Dia mengusap wajahnya kasar.


"Tadi waktu lahir dia baik-baik saja dok." Protes Yudi.


"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Yudi.


Hanya beberapa jam bayi itu dipindahkan di Ruang NICU (Neonatal Intensif Care Unit). Tidak sampai 24 jam, Yudi mendapat panggilan lagi dari perawatan.


"Arghhhhhhhhh ......." Yudi berteriak setelah mendapatkan kabar dari dokter mengenai perkembangannya bayinya.


"Enggak .... Enggak .... Enggak mungkin!" Teriak Ria frustasi setelah mengetahui salah satu bayinya meninggal dunia.


"Katakan kalau ini bohong mas!" Ria meronta sembari memukuli ranjangnya.


"Enggak mungkin!" Ria berteriak.


"Ta - di ... baik-baik ... sa - ja mas. Hu..hu..hu.. ini gak mungkin! Pasti ada ke-salah-an mas. Hu .. hu .. hu .." Protes Ria di tengah Isak tangisnya. M


"A - ku ha - rus ber - temu dengan-nya." Ria mencoba bangkit dari tidurnya namun gagal.


Nenek dan kakek berusaha menenangkan Ria yang terus berteriak dan menangis. Sementara Yudi mengurus administrasi dan pemakaman si bayi. Dengan bantuan dokter, Ria diberikan obat penenang dan akhirnya tertidur.


Ria ditinggalkan di kamarnya sendirian, nenek dan kakek keluar dari ruangan tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya nenek.


"Jangan berbohong!" Kata nenek tegas.


"Aku benar-benar tidak tahu."


Nenek menatap dalam mata kakek.


"Tadi pagi semua baik-baik saja. Kenapa bisa secepat ini. Tidak ada tanda apa-apa." Ucap nenek.


"Ya mungkin saja semua terjadi karena sawan." Ucap kakek.


"Sawan dari mana? Disini aman dari sawan."


"Kata siapa aman? Sawan bisa dimanapun!" Tegas kakek.


"Aku tidak percaya! Ini pasti ada hubungannya dengan kamu." Ucap nenek penuh penekanan.


"Sudah! Tolong jangan berhubungan lagi dengan makhluk-makhluk lain!" Pinta nenek.


Kakek bergegas pergi meninggalkan nenek. Dengan langkah cepat ia melewati koridor rumah sakit itu.


# FLASHBACK OFF #


"Jadi Bang Ganjar itu kembar nek? Lalu seseorang yang selama ini aku lihat waktu di rumah sakit ketika aku masuk ICU dan waktu pemakaman Tante Ria adalah saudara kembar Bang Ganjar nek? Lalu kenapa saudara kembar Bang Ganjar selalu menampakkan diri kepadaku nek? Apakah dia belum tenang disana?" Tanyaku beruntun setelah nenek berhenti bercerita.


"Ya begitulah nak. Mungkin ada yang ingin dia sampaikan padamu." Jawab nenek.

__ADS_1


"Sawan itu apa nek?"


"Sawan itu biasa di alami bayi. Penyakit yang datangnya mendadak dan berkaitan dengan hal mistis."


"Hal mistis nek?"


Aku menatap nenek yang matanya kosong menerawang kejadian beberapa tahun silam.


Nenek mengangguk sebagai tanya mengiyakan atas pertanyaanku terakhir tadi.


"Kalau sawan itu berhubungan dengan hal mistis, kenapa nenek tidak percaya dan mengatakan kakek telah bohong nek?" Aku meminta penjelasan.


"Sawan itu datangnya tiba-tiba dan tanpa terencana. Bisa menyerang siapa saja. Namun, nenek tidak percaya dengan sawan yang dikatakan oleh kakekmu." Ucap nenek dengan lirih.


"Karena nenek yakin bahwa kematian saudara kembar Ganjar dikarenakan hal lain. Bukanlah sawan yang dimaksud kakekmu itu. Melainkan karena ...."


Belum sempat nenek menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba pintu kamar nenek dibuka oleh mama.


"Lagi pada ngomongin apa nih? Kayaknya seru banget, sampai-sampai dipanggil-panggil untuk makan malam tidak terdengar." Ucap mama ketika memasuki kamar nenek tanpa mengetuk pintu.


"Cerita kenangan masa muda kakakmu Hana." Jawab nenek.


"Oh begitu. Ya sudah ceritanya dilanjutkan nanti saja. Mari makan malam bersama dulu. Yang lainnya sudah menunggu di meja makan." Ajak mama.


"Siap mama." Jawabku bersemangat.


"Kamu tunggu di bawah dulu saja Hana. Kami segera menyusul ke bawah." Pinta nenek.


"Baiklah bu." Ucap ibu seraya menutup pintu kamar nenek.


- Ceklek -


Nenek kembali menatapku dan memegang bahuku. Mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga wajah kami sejajar.


"Jangan katakan pada siapapun tentang hal ini ya nak." Bisik nenek.


"Suatu saat nenek akan menceritakan semuanya."


"Kamu hati-hati dengan kemampuanmu. Gunakan untuk kebaikan dan jangan sekali-kali mengedepankan ego mu." Pesan nenek.


"Tapi kenapa nenek tidak menceritakan sekarang saja?" Tanyaku kecewa dengan keputusan nenek.


"Nenek belum menemukan waktu yang tepat sayang. Untuk saat ini kamu masih tahap awal mengenali kemampuan barumu. Jika sudah waktunya nenek akan menceritakan semuanya. Yang penting ingat pesan nenek. HATI-HATI." Pesan nenek.


Mekipun aku tetap cemberut, aku berusaha mengangguk dengan perintah dan pesan nenek.


"Sekarang ayok makan malam." Ajak nenek menggandeng tanganku.


Kami pun berjalan keluar kamar dan menuju meja makan.


***


Kenapa ya nenek tidak mau menceritakan sekarang? Lalu kapan? Tampaknya masih lama deh. Ikutin ceritanya terus sampai akhir ya! 👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2