
Dear Diary,
Entahlah semenjak mata batinku terbuka aku tidak hanya peka terhadap "mereka" yang tak terlihat. Namun, aku juga lebih peka terhadap perasaan orang lain. Termasuk cerita kali ini. Aku bisa merasakan apa yang abangku rasakan.
***
Seminggu sudah Bang Ganjar tinggal di rumahku. Selama itu pula, dia hanya keluar dari kamarnya ketika sekolah dan makan. Bang Ganjar lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Entah apa yang dilakukannya.
Setelah pulang sekolah dan makan siang. Abang berpamitan untuk ke kamarnya. Aku segera menghabiskan makan siangku. Kemudian aku memutuskan untuk mengikuti Bang Ganjar ke kamarnya. Berniat untuk mengajaknya bermain bersama, seperti yang biasa kami lakukan dulu.
- Tok ... Tok ... Tok ... -
"Masuk!" Suaranya dari dalam.
- Ceklek -
Ketika aku membuka pintu, kulihat abang sedang tiduran dengan menegelamkan wajahnya di bantal. Aku pun bergegas menghampirinya.
"Bang main yuk." Ajakku tanpa basa basi.
"Enggak ah." Jawabnya singkat.
"Ayolah bang main." Ajakku sedikit memaksa.
"Enggak ah dek." Tolakknya.
"Selama disini abang gak pernah main sama aku lagi." Ucapku sembari memanyunkan bibir.
Abang diam, tak merespon ajakanku.
"Abang gak capek apa di kamar terus?"
"Enggak!" Ucapnya.
"Sana ah dek aku mau tidur dulu." Pintanya.
"Ah Abang gak seru nih." Protesku.
"Apaan sih orang udah gede juga. Diajak main aja. Abang capek tadi di sekolah."
"Abang nih alesan aja. Yaudah kalau Abang gak mau main aku tetep disini." Ancamku.
"Bodo amat!" Ucapnya.
"Abang ngeselin." Ucapku sembari merebahkan diri disampingnya.
Suasana kamar itu pun berubah menjadi hening. Aku pandangi langit-langit kamar itu yang mulai kusam. Kamar yang telah lama tak berpenghuni, kini menjadi kamar Bang Ganjar.
Sedikit cerita tentang kamar ini. Dulunya ruangan ini adalah sebuah ruang pakaian. Sempat juga menjadi kamar tamu, namun sekarang kamar tamu pindah di lantai satu. Kamar ini berhadapan dengan kamarku dan Aira. Selama kamar ini kosong menjadi gudang sementara. Bukankah gudang yang kotor dan tidak terawat. Dulu ini adalah gudang yang bersih, karena sering dibersihkan oleh Mbak Yayuk.
Sesuai dengan niatku awal, kalau Bang Ganjar tidak mau bermain. Aku akan terus menganggu ya disini. Dari mulai aku bernyanyi keras-keras, aku senggol-senggol lengannya, aku goyang-goyangkan badannya.
"Bang .... Apakah Abang masih sedih?" Tanyaku lirih.
Dia pun tidak menjawab pertanyaanku. Dengan posisi yang masih sama seperti saat aku masuk ke dalam kamar.
"Bang ... Jawab pertanyaanku dong. Apakah abang sedih?" Aku mengulang pertanyaan.
__ADS_1
"Berisik aja sih! Bentaknya.
"Yah kan aku cuma tanya bang." Ucapku.
"Jangan sedih dong bang." Pintaku.
"Abang gak boleh sedih, aku dan keluarga akan selalu ada buat abang kok."
"Ayolah bang, jangan begini terus."
Aku tarik lengan tangannya lebih kuat lagi sehingga badan Bang Ganjar terbalik.
"Bang tatap mata aku dong." Ucapku memaksa.
"Apaan sih." Balasnya seraya memalingkan wajah.
"Bang!"
"Sini!" Aku menarik paksa wajahnya supaya menghadap wajahku.
"Apa?" Tanyanya sinis.
"Abang masih sedih?"
"Gak!" Bang Ganjar berniat kembali ke posisi tidurnya.
Sebelum berhasil kembali tidur, aku tahan tangannya.
"Eitss .... Siapa yang nyuruh Abang tidur lagi?"
"Bang abang jangan sedih ya. Aku mohon, abang kembali ceria dong." Pintaku.
"Kalau ada apa-apa cerita dong bang."
"Sok tahu banget sih jadi orang. Orang gue gak kenapa-kenapa kali."
Aku menatapnya dalam-dalam seolah sedang mencari tahu kebenaran dari ucapannya.
"Udahlah bang, gak usah berbohong. Aku bisa lihat apa yang abang rasakan dari mata abang kok. Gak perlu abang tutup-tutupi lagi. Tuh kelihatan, hehe."
"Kamu itu yang sok tahu dek." Bang Ganjar menatap sinis kepadaku.
"Iya bang memang sedih ditinggal sama orang-orang yang sangat sangat sangat kita cintai. Apalagi dalam waktu yang berdekatan kaya gini. Seakan dunia ini memang kejam bagimu bang. Tapi tidak buat orang-orang yang telah meninggalkan abang." Ucapku.
Aku berjalan ke arah jendela kamar yang sudah terbuka sedari tadi.
"Aku lihat mereka yang telah meninggalkan abang sedang bahagia. Bahkan mereka sedang berkumpul disana. Mereka selalu bersama dan tersenyum kok. Masa abang di dunia masih aja bersedih. Sudahlah bang." Lanjutku.
"Hah? Maksudmu apa sih dek?" Abang tampak kebingungan.
"Kenapa menjadi sok bijak kaya gini." Katanya.
"Kamu sakit?" Abang beranjak mendekat ke arahku dan menyentuk keningku.
"Aman kok."
Kami berdua sama-sama berdiri di dekat jendela kamar. Memandang pemandangan hijau di luar sana.
__ADS_1
"Bang percaya nggak aku bisa melihat Tante Ria, Om Yudi, dan ...." Aku menghentikan kalimatku ketika teringat kata-kata nenek.
"Kenapa nggak lanjut?" Bang Ganjar menyela.
"Emmmm... Wa.. waktu pemakaman aku melihat Tante Ria dan Om Yudi bersama. Mereka tersenyum bahagia." Aku meralat ucapanku.
"Terus mereka titip abang sama aku terus kasih pesen lewat aku. Katanya abang nggak boleh sedih terus dan harus jadi laki-laki yang mandiri."
Bang Ganjar mengernyitkan dahi mendengar celotehanku yang tampak mustahil itu. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak setelah menahan tawanya sedari tadi.
"Dek ... Kayaknya kamu terlalu sering nonton film deh dek." Ucapnya ditengah tawanya.
"Ih Abang aku serius tau." Protesku kesal dengan tanggapannya.
"Ini beneran serius abang!" Rengekku karena sikap Bang Ganjar.
"Lebih baik kamu nonton anime dan baca komik saja. Jangan sok horor kayak gini ah. Lucu jadinya." Pintanya.
"Bang ... Ini serius! Aku beneran gak bohong. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!" Aku mulai meninggikan nada bicaraku.
Bang Ganjar mengelus rambutku berharap aku tidak emosi lagi.
"Sudah ya ngehalunya. Abang mau lanjut tidur siang dulu." Kata-kata Bang Ganjar yang semakin membuatku kesal.
"Kamu juga tidur siang sana." Tambahnya.
Dia pun membalikkan badannya dan berjalan ke arah ranjang, kemudian merebahkan diri. Tak lupa menenggelamkan wajahnya dibalik bantal. Ya, itulah kebiasaan Bang Ganjar ketika tidur.
"Abang aku serius.....!" Teriakku kesal.
Namun tidak lagi ada tanggapan dari Bang Ganjar. Tampaknya dia memang benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Dia tampak cuek sekali dengan celotehanku siang ini.
Dengan pesaraan sangat kesal aku tetap berdiri di dekat jendela. Sembari menyilangkan kedua tanganku di dada dan sesekali ngedumel. Aku luapkan emosiku juga saat itu.
Setelah cukup lama aku berdiri di dekat jendela dan memandang ke arah luar. Aku memutuskan untuk keluar dari kamar Bang Ganjar. Ketika aku membalikkan badanku menghadap ranjang. Mataku terbelalak dengan sosok perempuan yang ada di samping ranjang.
"Arghhhhhhhhh ...." Teriakku kaget.
"Kamu siapa?" Tanyaku lantang.
Tidak ada jawaban darinya dia terus menatapku dengan tatapan penuh amarah.
"Kamu siapa?" Tanyaku sekali lagi.
Tidak lama kemudian.
Bang Ganjar yang tadinya diam saja menyahut.
"Apaan sih dek. Ini aku abangmu." Sahutnya.
Dan saat Bang Ganjar mengatakan itu, sosok perempuan itu tiba-tiba saja langsung menghilang dari hadapanku.
"Nggak usah teriak-teriak gitu lah. Berisik tahu." Ucap Bang Ganjar.
Tanpa menjawab aku segera bergegas keluar dari kamar itu.
***
__ADS_1
Kira-kira siapa sosok perempuan itu? Lanjut bab selanjutnya ya. 👻👻👻