
Dear Diary,
Aku kenalkan dengan sebuah istilah "Astral Projection". Mudahnya sih melakukan perjalanan secara astral atau jalan-jalan di dimensi lain.
***
"Kresek ... Kresek ..." Samar aku mendengar suara itu.
Aku pun melangkah hati-hati mendekat ke arah pintu gudang. Tepat di depan pintu, aku menarik napas panjang. Aku pegang daun pintu.
Dan ....
- Ceklek -
Begitu aku buka pintu itu seakan sesuatu yang hitam, tinggi, dan besar menembus tubuhku. Badanku terjatuh dan tak berdaya di atas lantai. Aku tak sempat melihat apa yang ada di dalam gudang mainan. Yang aku lihat hanya gelap.
Perlahan aku buka mataku, namun masih gelap. Aku mencoba duduk dan mengucek mata. Lama kelamaan aku melihat sebuah cahaya kemerahan. Cahaya itu menarik tubuhku. Aku seakan melayang-layang dan tiba-tiba.
Bruk
Aku terhempas ke sebuah tempat yang tidak asing bagiku. Tempat tersebut adalah rumahku sendiri. Tepatnya di taman samping rumahku. Aku berdiri dan menyusuri taman tersebut.
"Kenapa jadi siang hari. Perasan tadi sudah malam." Batinku.
"Kenapa jadi aneh begini." Batinku yang semakin bingung.
"Aira airnya bawa kesini nak. Buat siram tanaman." Aku mendengar suara mama.
Kakiku segera melangkah ke sumber suara tersebut. Mataku menemukan mama dan Aira sedang di taman itu. Mama sedang memangkas ranting tanamannya. Sedangkan Aira sedang duduk di kursi bersama boneka kesayangannya.
"Aira ...." Teriakku refleks sembari memeluk Aira.
Tidak ada respon apapun dari Aira. Sepertinya memang Aira tidak merasakan aku ada disampingnya. Hak tersebut membuat aku kebingungan, kenapa bisa Aira tidak melihatku.
"Aira ... Aira ... Aira ..." Panggilku lagi.
Aku lambaikan tanganku ke wajahnya, aku senggol-senggol bagian tubuh Aira. Namun, tetap saja Aira tak bergeming.
__ADS_1
"Aira kok nggak ambil airnya sih?" Tanya mama.
"Yasudah mama ambil sendiri saja." Ucap mama seraya masuk ke dalam rumah.
"Mama ... Mama ... Mama ..." Kini aku gantian memanggil mama.
Sama seperti respon Aira terhadapku. Mama juga tidak merasakan aku ada dihadapannya. Aku yang merasa putus asa hanya bisa duduk di samping Aira dan melihat apa yang akan terjadi.
Tidak lama setelah mama masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba angin kencang menerjang taman rumah kami. Angin itu datang tanpa mendung atau hujan. Hembusannya sangat kuat, hingga aku tidak mampu melihat saking kuatnya.
Terlalu banyak debu dan kotoran yang tersapu. Membuat aku harus memejamkan mataku untuk menghindari debu. Sementara itu tanganku berpegangan erat pada gagang kursi yang aku duduki. Aku pun menunduk, menegelamkan wajahku diantara lutut.
Akhirnya angin itu berhenti seketika. Suasana kembali tenang seperti semula. Perlahan aku buka kembali mataku. Melihat sekelilingku apakah banyak pohon tumbang atau tidak. Tidak lupa aku melihat ke samping tempat aku duduk.
"Ya ampun! Aira ..." Aku terkejut karena tidak melihat Aira disampingku.
"Aira kamu dimana?" Tanyaku panik.
Segera aku berdiri dan beranjak mencari Aira. Aku berlari kecil mengelilinginya taman yang memutari rumahku untuk mencari Aira. Namun, Aira tidak ada juga.
Aku berniat masuk ke dalam rumah. Begitu pintu utama rumah aku buka. Mataku tertuju sebuah jejak di lantai. Terdapat campuran tanah dan darah disana.
Pikiranku sangat kacau saat itu, aku takut terjadi apa-apa dengan adekku. Segera aku ikuti jejak yang ada di lantai itu. Aku telusuri jejak itu sejak dari pintu utama, ruang tamu, dan tiba-tiba jejak itu hilang.
"Aduh kok hilang." Aku pun panik.
Mataku berlari kesana kemari mencari sisa jejak itu lagi. Kakiku melangkah ke kamar utama, ruang makan, dapur, namun disana tidak aku temukan tanda-tanda jejak itu. Aku menyandarkan punggung di dinding tepat sebelum naik ke lantai dua. Keringat membasahi tubuhku dan air mata mulai menetes tanpa izin.
"Aira ..." Ucapku lemas.
"Adek kamu dimana dek."
"Kresek ... Kresek ... Kresek ..." Tiba-tiba telingaku mendengar suara itu.
Sempat aku terkejut dengan suara itu. Suara yang sangat pelan, namun terdengar jelas. Mataku kembali melirik cepat ke sekeliling, mencari sumber suara itu. Sedangkan telingaku berusaha keras merangkum semua suara yang ada. Tentunya berharap mendengar suara itu lagi.
"Sret ... Sret ... Sret ..." Suara sesuatu yang diseret terdengar ditelingaku.
__ADS_1
Aku yakin suara itu bersumber dari lantai dua. Segera aku menaiki anak tangga dengan berlari. Aku buka pintu-pintu ruangan di lantai dua. Tidak juga aku menemukan Aira.
Aku teringat suatu ruangan, dengan segera aku menelusuri lorong itu. Ya, aku menuju gudang mainan itu. Dengan cepat aku tarik daun pintunya. Kosong dan gelap itulah yang aku lihat. Tidak ada siapapun di dalam gudang tersebut.
Satu kakiku melangkah masuk ke dalam gudang itu. Belum sempat kakiku yang satunya melangkah tiba-tiba, lampu ruangan menyala. Meskipun remang-remang aku dapat melihat dengan jelas ada Aira disana. Namun, mataku tertuju pada sosok di samping Aira.
Mulutku membulat membentuk "O" karena terkejut melihat sosok itu. Sosok hitam, tinggi, dan besar. Aku ralat, sangat besar dan tinggi karena badannya memenuhi setengah dari ruangan ini. Juga tingginya mentok sampai ke atap ruangan.
"Astaga ... Mahkluk apa lagi ini." Batinku.
"Ka ... Ka...mu siapa?" Tanyaku dengan terbata-bata.
Sosok yang awalnya menghadap Aira itu, membalikkan badannya ke arahku. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena semua tubuhnya gelap. Hanya seperti bayangan hitam.
"Tolong ... Lepaskan ... adek saya." Pintaku masih dengan suara terbata-bata.
Sosok itu sama sekali tidak menggubris perkataanku. Tampaknya dia sedang mengikat Aira di sebuah kursi dengan tali. Aku tidak tega melihat Aira diperlakukan seperti itu.
"Tolong ... Aku mohon." Pintaku lagi.
Aku berlari maju untuk meraih Aira. Tiba-tiba saja aku terpental oleh sesuatu yang mendorongku. Berulang kali aku coba, namun tetap gagal juga.
"Siapa sebenarnya kamu?" Tanyaku dengan kesal.
Sosok itu menghentikan kegiatannya mengikat tubuh Aira. Tampak dia berbalik ke arahku. Sekelebat bayangan hitam itu berubah menjadi bayangan wanita, kemudian berubah lagi menjadi bayangan hitam. Begitu terus berulang berkali-kali. Sungguh aku tidak dapat melihatnya secara jelas. Hanya saja aku yakin itu adalah wanita.
Seperti mendapatkan sambaran kilat. Bayangan hitam itu melayang ke arahku dan menembus tubuhku dengan kuat. Aku terpental jauh hingga aku kembali tidak sadar. Rasanya tubuhku kembali melayang-layang. Cahaya kemerahan itu menuntut aku kembali pulang.
"Kalista ... Kalista ... Kalista ..." Suara papa membangunkanku.
Perlahan aku buka mataku, di sekelilingku sudah banyak orang yang tadi membantu mencari Aira. Saat ini aku berada di kamarku sendiri. Aku ingat betul dengan kejadian yang baru saja aku lewati.
"Nak minum dulu." Ucap seorang ibu-ibu yang tidak lain adalah tetanggaku.
Aku mengabaikan orang itu, aku bangun dan berjalan keluar kamar. Tujuanku adalah gudang mainan. Aku langsung membuka gudang mainan. Dan ternyata kosong dan gelap. Segera aku nyalakan lampu gudang itu.
Namun .....
__ADS_1
***
Hayo ada apa lagi ya? 👻👻👻