
Dear diary,
Ternyata insomnia belum usai. Gangguan malam itu terus berlanjut ketika aku berada di dalam kamar. Oke, aku ceritakan ya sosok apa yang aku lihat malam itu.
☠️☠️☠️
"Whaaaaaaaaaa ......" Teriakku.
Aku terkejut dengan apa yang barusan aku lihat tepat dihadapanku saat ini. Mataku membulat sempurna melihat sosok itu. Karena tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku kucek mataku untuk memastikan bahwa mataku sedang baik-baik saja.
Awalnya sekelebat bayangan hitam melintas dihadapanku, ketika aku hendak menutup jendela. Bayangan itu terbang dan berhenti tepat di pohon mangga yang ada disamping kamarku. Dia duduk di atas ranting pohon yang tebal dan memunggungiku.
"Astaga mahluk apaan itu?" Gumamku.
"Apakah itu yang disebut kuntilanak?"
"Tapi sepertinya bukan kuntilanak deh."
Aku berdebat dengan diriku sendiri tentang sosok apa yang sedang berada dihadapanku saat ini. Memang awalnya aku mengira kalau sosok itu adalah kuntilanak. Hantu yang identik dengan perempuan berbaju putih serta rambut panjang. Sekilas sosok itu memang perempuan, lebih tepatnya mengenakan pakaian perempuan. Tapi entahlah, aku sendiri belum bisa memastikan sosok itu perempuan atau bukan.
"Apa sih itu?" Aku mengucek mataku kembali karena bayangan itu terlihat samar-samar.
__ADS_1
"Apa sosok itu yang telah menganggu keluargaku akhir-akhir ini?" Aku pun menebak-nebak.
Aku terdiam dan mencoba mengingat kembali kejadian beberapa hari terakhir di rumah ini. Dan aku pun mendapat titik terangnya, yaitu sosok itu perawakannya mirip dengan sosok yang aku lihat sewaktu makan malam itu. Lekuk tubuhnya sangat mirip sekali dengan sosok saat itu.
"Oke tidak salah lagi. Sepertinya memang dia yang menampakkan diri waktu itu." Gumamku.
"Lali apa yang harus aku lakukan?"
Cukup lama aku memandanginya dan terus menebak-nebak apa sosok yang saat ini aku perhatikan itu. Aku merasa bingung memikirkan apa yang harus aku lakukan. Jika aku harus memanggil orang-orang rumah untuk melihatnya. Takutnya mereka malah ketakutan. Namun, tidak mungkin aku biarkan. Karena itu sudah terlalu menganggu keluargaku akhir-akhir ini.
Terlintas dipikiranku untuk memanggil sosok itu. Kemudian aku tantang sosok itu dengan menanyakan apa maksudnya menampakkan diri dihadapanku. Namun, ternyata nyaliku cukup ciut untuk melakukan hal tersebut.
Kakiku melangkah menuju meja belajar milikku. Aku buka laci untuk meraih sesuatu yang sedang aku cari. Setelah mendapatkan benda itu, aku segera kembali berjalan mendekat ke jendela.
Cekrek
Aku potret sosok yang sedang duduk di atas pohon itu dengan iPad milikku. Tidak hanya foto saja, aku juga mengambil beberapa video. Sebagai bukti yang bisa aku tunjukkan kepada orang rumah.
Ketika sedang asyik memotret dan mengambil video sosok itu. Tanpa sengaja flashlight yang ada di iPad-ku tiba-tiba menyala. Seketika aku pun panik dan iPad itu luput dari tanganku. Segera aku menunduk ke lantai dan mengambil iPad itu.
"Untung saja nggak pecah." Ucapku lega karena layar iPad itu masih menyala.
__ADS_1
"Syukurlah masih terselamatkan." Aku mengelus iPad yang saat ini sudah berada ditanganku.
Setelah menunduk aku langsung melihat kearah batang pohon mangga yang tadi dijadikan tempat duduk oleh sosok itu. Dan betapa terkejutnya aku. Ketika sosok itu sudah tidak ada ditempatnya semula. Segera mataku mencari sosok itu disekeliling taman.
"Kok tidak ada?" Aku pun bertanya-tanya.
"Kemana perginya dia?"
"Kenapa secepat itu perginya."
Aku terus menengok ke kanan dan kiri jendela kamarku. Sama sekali tidak ada apapun disana. Karena memang sudah larut malam. Aku memutuskan untuk menutup jendela kamarku, sebelum aku tidur.
"Ya sudahlah. Untung kalau sudah hilang sendiri. Jadi aku tidak usah mengusirnya."
Namun prediksiku salah, baru saja aku memegang jendela hendak menutupnya. Tubuhku dibuat membeku dan seketika kaku dengan mataku yang membulat sempurna. Aku lihat sosok itu lagi ditempatnya semula. Lebih parahnya kali ini dia menghadap kearahku. Menampakkan tatapan tajamnya dengan sorot mata yang begitu menyeramkan. Sungguh! Aku tidak bisa menceritakan tentang bagaimana tatapan itu seolah membekukan tubuhku ini.
Ingin berteriak sekencang mungkin, namun asanya lidahku kelu. Apalagi untuk berlari, menggerakkan tanganku untuk menutup jendela saja rasanya tidak mampu. Benar-benar lemas ketakutan dengan tatapan itu. Kini aku hanya berdoa supaya dia segera mengalihkan tatapannya dari aku. Itu saja. Tolong!
☠️☠️☠️
Bagaimana kelanjutannya ya? Apakah akan menjadi patung sampai pagi hari? 👻👻👻
__ADS_1