
Dear Diary,
Makan malam yang aku kita bakalan romantis dan syahdu ditengah hujan dan mati lampu saat itu. Ternyata mendapat gangguan sosok bayangan hitam yang aku duga seorang wanita. Menyebalkan bukan?
☠️☠️☠️
Sorot lampu mobil memasuki halaman rumah sudah terlihat. Mama mengintipnya dari balik pintu utama yang memang terbuat dari kaca. Desain rumah kami memang tidak modern dengan mengangkat tema rumah sederhana kalasik. Makanya mama dapat mengintip siapa yang datang melalui kaca yang terletak di pintu utama rumah kami. Ketika yakin yang datang adalah papa, mama segera membuka pintu dan membawa payung untuk papa.
"Selamat malam anak-anak." Ucap papa ketika memasuki rumah.
"Papa kenapa lama sekali?" Protes Aira.
"Jalanan macet sayang. dan sebagian jalan kebanjiran. Jadi harus pelan-pelan deh." Papa mengecup kening Aira.
"Ayo makan malam dulu. Anak-anak sudah lapar nunggu papa. Dan pasti papa juga lapar banget di jalan tadi." Ajak mama setelah menutup pintu.
Kami semua beranjak dari ruang tamu ke ruang makan untuk melakukan kegiatan rutin yaitu makan malam bersama. Tradisi di keluarga kami adalah makan malam bersama tidak akan dimulai sebelum semua anggota keluarga berkumpul. Karena bagi mama dan papa, hanya makan malam yang bisa mengumpulkan semua anggota keluarga.
Ketika sarapan tidak bisa bersama-sama karena pasti sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan hari ini. Sedangkan makan siang, biasa dilakukan di luar rumah. Makan siang papa saat di kantor dan anak-anak di sekolah. Dan makan malam adalah waktu yang tepat.
"Mbak Yayuk sudah siap semua?" Tanya mama ketika sampai di ruang makan.
"Sudah bu." Jawab Mbak Yayuk.
"Makasih ya mbak." Ucap mama dan diangguki oleh Mbak Yayuk.
Makan malam kami telah terhidang rapi di meja makan. Lentera-lentera kuno koleksi papa telah menerangi meja makan. Malam ini kami akan makan di tengah kegelapan dengan lentera-lentera ini. Ada manfaatnya juga papa mengoleksi barang-barang seperti ini. Ketika mati lampu dan tidak ada lilin ataupun emergency lamp jadi solusi tersendiri.
"Wah romantis sekali makan malam kita kali ini." Ucap Bang Ganjar.
"Iya betul. Hehe." Aku pun mengiyakan.
"Lucu sekali, ada untungnya juga papa ngoleksi lentera." lanjutku.
"Jelas dong. Semua koleksi papa memang bagus dan bermanfaat." Papa menyombongkan diri.
__ADS_1
Mama membukakan kursi untuk tempat duduk papa. Kemudian satu per satu mengambilkan nasi di piring kami semua. Kemudian kami mengambil lauk yang disukai masing-masing. Dan kami pun memulai menyendokkan nasi ke dalam mulut. Tidak lupa berdoa dilakukan oleh masing-masing dari kami sebelum makan.
Saat ini selain suara hujan dan petir dari luar sana. Dentingan sendok dan garpu bertemu dengan piring menemani suasana makan malam kami. Kami sangat menikmati makan malam kali ini. Bersyukur dengan makanan yang masih kami nikmati bersama anggota keluarga yang lengkap.
Namun, ternyata makan malam kami tak seromantis yang aku duga sebelumnya. Ditengah kegiatan makanku, aku melihat Bang Ganjar yang saat itu duduk tepat di depanku. Berkali-kali aku memastikan sosok bayangan hitam yang ada tepat di belakang Bang Ganjar. Bayangan yang membentuk lekuk tubuh seorang wanita.
"Mungkin Mbak Yayuk." Batinku seraya terus menyendokkan nasi ke dalam mulut.
"Tapi kan Mbak Yayuk ada di dapur." Batinku lagi.
Aku bergulat dengan pikiranku sendiri. Memikirkan sosok bayangan yang saat ini masih berada di belakang Bang Ganjar. Karena terlalu gelap aku tidak dapat benar-benar melihatnya. Belum lagi bayangan itu kadang menjauh dan mendekat dari posisi duduk Bang Ganjar.
"Mbak Yayuk ada di dapur kan ma?" Tanyaku ke mama.
"Iya. Memang kenapa?" Mama balik bertanya.
"Gak apa-apa ma." Jawabku.
Aku sempat terdiam dan kembali bergulat dengan pikiranku.
"Mungkin saja itu guci papa yang membentuk bayangan seorang wanita." Aku mencoba mengelak sendiri dalam hati.
"Ehm... tapi apa papa meletakkan guci disitu?" Tanyaku lagi.
Kegiatan makan yang sempat aku hentikan. Kini perlahan aku lanjutkan dengan sesekali melihat bayangan hitam itu. Dan tampaknya di meja makan ini tidak ada yang merasakan kehadirannya. Bang Ganjar sekalipun dia tetap fokus melahap makanannya. Padahal jelas-jelas sosok itu ada tepat di belakangnya.
"Bagaimana sekolah kalian hari ini?" Tanya papa.
"Aku dapat bintang tadi waktu di sekolah pa." Jawab Aira dengan riang.
"Wah hebat sekali kamu Aira." Papa memuji Aira.
"Ganjar gimana kamu nyaman di rumah ini?" Tanya papa.
"Nyaman saja om. Ada Aira dan Kalista jadi ramai setiap hari." Jawab Bang Ganjar.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu." Sahut mama menimpali.
"Kalau ada apa-apa cerita saja ya." Pesan papa kepada Bang Ganjar.
"Baik om." Ucap Bang Ganjar.
Papa, Mama, Bang Ganjar, dan Aira berbincang-bincang di tengah makan malam itu. Sementara aku hanya sesekali mendengarkan isi dari obrolan mereka. Mata dan pikiranku tetap fokus ke sosok itu. Papa pun menyadari kalau aku tidak fokus saat itu.
"Kalista bagaimana sekolah kamu hari ini?" Tanya papa.
"Kalista --" Panggil papa.
"Ehm ... iya pa. Baik kok sekolah Kalista hari ini." Jawabku sedikit terbata-bata.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya mama yang melihat aku tidak fokus makan waktu itu.
"Tidak kenapa-kenapa kok ma." Jawabku berbohong.
Aku kembali menunduk seraya mengaduk-aduk nasi yang ada dipiringku. Bingung adalah perasan yang mendominasi diriku saat itu. Bingung apa yang harus aku lakukan dengan bayangan yang jelas-jelas aku lihat saat itu. Apakah aku harus diam saja atau menyelidiki siapa sosok yang aku lihat itu.
"Arghh .. aku bingung sekali." Teriakku dalam hati.
"Apakah aku harus mendekat? Dan memastikan apakah sosok itu?" Tanyaku dalam hati.
Tiba-tiba mataku membulat sempurna ketika sosok bayangan hitam itu mulai mendekat. Berjalan maju semakin mendekat ke arah Bang Ganjar. Pikiranku kacau, aku takut sosok itu akan melukai abang atau anggota keluarga lainnya. Tanpa berpikir panjang aku langsung berdiri dan menghentakkan kakiku. Itu membuat kursi yang semula aku duduki geser jauh ke belakang.
"Kamu kenapa Kalista?" Tanya papa bingung.
Aku diam dan menunjuk ke arah sosok itu. Dan semua mengalihkan pandangannya ke arah yang aku tunjuk.
Dan ....
Tiba-tiba lampu pun menyala dan menerangi seluruh ruangan itu. Tidak ada benda apapun di belakang tubuh Bang Ganjar yang membentuk sosok seperti perempuan. Aku lihat sekelilingku untuk mencari sosok itu lagi.
☠️☠️☠️
__ADS_1
Sudah bisa tebak sosok siapakah itu? 👻👻👻