Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Mati Lampu Part I


__ADS_3

Dear Diary,


Aku ceritakan kondisi malam itu saat hujan badai dan mati lampu. Bab ini lebih fokus ke gangguan yang diterima Bang Ganjar. Mari ikuti tulisanku.


☠️☠️☠️


"Hallo sebentar lagi papa sampai rumah ma." Suara papa terdengar dari sambungan telepon.


"Iya papa hati-hati ya hujannya deras." Sahut mama.


"Kami tunggu papa di rumah." Sambungnya.


"Love you pa." Tutup mama.


- Dyar .... Dyar .... Dyar .... -


Suara petir bersamaan kilat terus bersahutan. Hujan turun dengan derasnya dan hembusan angin cukup terasa membelai korden-korden penutup jendela rumah. Mama mondar-mandir di depan pintu masuk rumah. Wajahnya terlihat cemas menantikan kedatangan papa. Sedangkan aku, Aira, dan Bang Ganjar duduk di sofa panjang ruang tamu. Sesekali Aira memelukku karena terkejut dengan suara petir yang menyambar.


"Papa belum sampai juga ma?" Tanya Aira.


"Kapan papa sampai rumahnya ma?" Lanjutnya.


"Sebentar lagi sayang. Kata papa, udah mau sampai rumah kok. Kita tunggu saja ya. Kalian pakai sweter sana." Suruh mama.


"Baik ma." Jawabku.


Kami bertiga naik ke lantai dua mengambil sweter untuk menghangatkan tubuh kami. Aku dan Aira masuk ke kamar kami dan Bang Ganjar masuk ke kamarnya. Ketika aku dan Aira sudah mendapatkan pakaian yang kami cari. Karana memang sweter kami selalu tergantung digantungan baju-baju yang mudah ditemukan. Kami pun segera keluar kamar, menunggu Bang Ganjar yang masih di dalam kamarnya.


"Bang Ganjar udah belum?" Teriakku dari ruang keluarga.


"Bentar lagi nyari nih." Balasnya yang juga berteriak.


Aku dan Aira duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Aku terus melihat pintu kamar Bang Ganjar, menunggunya untuk keluar. Aku rasa ada yang aneh saja di kamar Bang Ganjar. Sehingga menarik mataku untuk terus mengawasi kamar Bang Ganjar.


- Keclap -


Listrik pun padam, semua lampu mati, dan tidak ada emergency lamp di rumah saat itu. Karena memang waktu itu belum banyak emergency lamp dijual dipasaran. Semua ruangan di dalam rumah seketika gelap. Tidak ada sedikitpun cahaya yang bisa menjadi petunjuk jalan untuk kami. Sesekali terang karena kilauan cahaya petir yang masuk menerobos jendela. Dan hanya itu satu-satunya cahaya yang masih dapat kita lihat.


"Kakak ...." Aira menjerit dan langsung memelukku.


"Nggak usah takut dik." Ucapku memenangkan Aira.


"Kakak Aira takut gelap." Rengeknya.

__ADS_1


Aku pun menoleh kembali ke arah pintu kamar Bang Ganjar. Namun, belum terlihat ada tanda-tanda Bang Ganjar hendak keluar kamar.


"Bang buruan." Teriakku memanggil Bang Ganjar.


"Lagi nyari senter nih." Balasnya.


"Sebentar ... sebentar ..." Tambahnya.


"Anak-anak kalian gak apa-apa kan?" Kini mama teriak dari lantai satu.


"Gak apa-apa ma. Baru nunggu abang ambil senter." Teriakku ke mama.


"Oh ya sudah. Hati-hati ya jalannya turun tangga." pesan mama.


"Iya ma." Jawabku.


Di dalam kamar setelah mendapatkan sweter yang dicarinya. Dengan kondisi gelap Bang Ganjar berjalan perlahan menuju meja belajarnya. Dia pun meraba meja belajarnya dari mulai atas meja hingga ke dalam laci. Mencari senter yang biasa dia letakkan di laci.


"Kok nggak ada ya." Gumamnya lirih.


"Biasanya disini." Lanjutnya.


Karena kondisi kamar benar-benar gelap. Bang Ganjar diam sejenak mengingat-ingat terakhir kali dia meletakkan senter. Berkali-kali berpikir, tetap saja seingatnya ada di dalam laci meja belajarnya. Dalam keadaan Bang Ganjar tak mampu melihat apapun. Namun, tangannya mulai masuk ke dalam laci itu lagu dan terus meraba-raba laci. Dan tiba-tiba ....


"Arghhhhhhhhh ....." Teriaknya.


"Bang kamu gak apa-apa?" Teriakku panik dari luar kamar.


Bang Ganjar terdiam sejenak, kemudian kembali mendekat ke laci itu. Mata dan tangannya mencari sesuatu yang telah dia sentuh tadi. Namun, sesuatu itu tidak ada lagi di lacinya. Dia pun memutuskan untuk segera keluar kamar saja.


"Gak apa-apa dek. Ini mau keluar." Kata Bang Ganjar sembari melangkah menuju pintu.


- Ceklek ... Ceklek ... Ceklek ... -


Berkali-kali Bang Ganjar berusaha membuka daun pintu kamarnya. Sesekali dia sedikit mendorong pintu kamar itu agar terbuka. Namun setalah beberapa kali usaha itu dilakukan. Tetap saja pintu tidak terbuka.


"Lho kok nggak bisa terbuka?" Tanya Bang Ganjar dalam hati.


Dia terus mencoba mengotak-atik pintu kamarnya. Sesekali memutar kunci yang menggantung di pintu itu. Dan selama ini memang kunci itu tidak pernah dia gunakan.


"Dek tolong pintunya nggak bisa dibuka." Teriak Bang Ganjar.


"Hah? Masa sih bang?" Tanyaku tak percaya.

__ADS_1


"Buruan bantuin dari luar." Pintanya.


"Iya ... Iya ..." Jawabku sembari beranjak berdiri dari sofa yang sedari tadi aku duduki.


"Dorong dari luar dek." Perintahnya.


"Oke aku coba dulu ya bang." jawabku.


Aku dan Aira dengan hati-hati berjalan menuju kamar Bang Ganjar. Kami berjalan sembari meraba-raba benda yang ada disekeliling. Berharap tidak menabrak benda-benda mudah pecah koleksi papa dan mama.


Sesampainya di depan kamar Bang Ganjar. Aku segera meraba dimana letak daun pintunya dan membuka pintu itu. Aku tekan dan kemudian aku dorong dengan dorongan yang tidak terlalu kencang.


- Ceklek -


"Lho ini kebuka." Ucapku ketika melihat pintu langsung terbuka dengan mudahnya.


"Tadi nggak bisa dek. Sumpah deh, gak bohong." Ucap Bang Ganjar.


"Halah abang aja yang cari alasan." Kataku tak percaya.


"Beneran gak bohong kok abang." Jawab Bang Ganjar meyakinkan.


Bang Ganjar menatap pintunya dan masih memikirkan kejadian janggal yang baru saja dia alami. Sedangkan aku dan Aira masih berdiri melihat wajah Bang Ganjar yang tampak bingung itu.


"Ayo ke bawah. Aira takut." Sahut Aira.


"Ayo. Bang mana senternya?" Tanyaku ketika melihat Bang Ganjar tidak membawa apa-apa.


"Gak ada di laci. Padahal biasanya aku taruh disana." Ucap Bang Ganjar.


"Yah ..." Ucap aku dan Aira bersamaan.


"Abang yakin gak ada?" Tanyaku memastikan.


"Biar aku coba cari saja bang." Usulku dan hendak melangkahkan kakiku masuk ke kamar.


"Jangan!" Teriak Bang Ganjar dengan menahan tubuhku agar tidak masuk ke kamar.


"Beneran udah abang cari berkali-kali. Dan pasti tidak ada, abang yakin." Jawabnya yakin.


"Udah ayo kita ke bawah." Ajak Bang Ganjar.


Kami pun berjalan ke lantai satu dengan posisi menghimpit Aira diantara aku dan Bang Ganjar. Dengan sangat hati-hati kami menuruni anak tangga. Selain itu kami juga haru berhati-hati supaya tidak menyenggol barang-barang antik koleksi papa dan mama.

__ADS_1


☠️☠️☠️


Apa yang selanjutnya terjadi? 👻👻👻


__ADS_2