
Dear Diary,
Pencarian Aira terus dilakukan meskipun hari sudah gelap. Beberapa warga berpikir hilangnya Aira secara misterius ini berhubungan dengan mahluk halus. Apakah itu benar? Aku tulis dulu bab Hilangnya Aira Part II
***
Matahari sudah hilang dari singgasananya. Langit pun mulai gelap. Dan adzan magrib mulai berkumandang sebagai pertanda istirahatnya pencarian Aira. Papa, mama, dan Mbak Yayuk telah berusaha keras mencari di sekitar kompleks. Namun, tidak ada siapapun yang melihat Aira sore ini.
Bahkan tetangga, ketua RT, satpam kompleks telah membantu pencarian. Namun tidak menemukan hasil apapun. Niat untuk melaporkan kasus hilangnya Aira ke pihak berwajib pun tidak bisa, dikarenakan hilangnya Aira belum 24 jam. Jadi warga kompleks menanti waktu 24 jam untuk membuat laporan ke polisi.
"Kata polisi kita harus menunggu 1x24 jam untuk melaporkan orang hilang." Ucap Pak Toni sebagai ketua RT.
"Lalu bagaimana pak ini?" Tanya salah seorang warga.
"Sebaiknya kita lakukan pencarian lagi. Kita lebih teliti mencari di sekitar kompleks, di taman, lapangan, semak-semak, balik pohon. Pokoknya jangan sampai ada bagian yang terlewati." Ucap Pak Toni.
"Pak apa jangan-jangan ...." Sahut salah seorang warga.
"Jangan-jangan apa pak?" Tanya Pak Toni.
"Jangan-jangan hilangnya Aira karena diculik mahluk halus."
Terdapat rumor yang dibuat oleh beberapa warga kompleks. Bahwa menghilangnya Aira secara tiba-tiba berhubungan dengan mistis. Kalau berdasarkan pengalaman orang-orang zaman dahulu. Jika ada anak kecil hilang secara tiba-tiba katanya diculik atau disembunyikan oleh mahluk halus.
"Ayo mari kita cari di pohon-pohon besar sekitar kompleks." Ajak salah satu warga.
"Ayo ayo." Sahut warga yang lain.
Entah memang hanya mitos atau kenyataan. Mereka berbondong-bondong mengelilingi kompleks ketika usai magrib. Dengan membawa peralatan rumah tangga seperti wajan, panci, dandang dan alat pemukulnya. Warga berjalan menyusuri jalanan kompleks sembari memukul perkakas yang telah dibawa.
"Aira ... Aira ... Aira ..." Warga berteriak sembari terus memukul-mukul perkakas.
Konon katanya dari orang zaman dulu kegiatan ini membantu menyadarkan mahluk halus yang telah menculik anak kecil. Entah ide ini berawal dari siapa, namun tampaknya seluruh warga yang membantu menyetujuinya.
**
Sementara itu di rumah.
Mama terus menangis putus asa kerena sampai saat ini belum ada tanda-tanda Aira ditemukan. Para ibu-ibu kompleks mendatangi rumah untuk membantu menenangkan mama. Malam ini rumah menjadi ramai dan kompleks yang bisanya sepi. Semua warganya keluar rumah untuk membantu mencari Aira.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Tangisan mama terdengar sendu.
"Aira ... Aira .... Aira ..." Mama terus memanggil nama Aira ditengah Isak tangisnya.
__ADS_1
"Bu Hana minum dulu ya." Ucap seorang tetangga sembari memberikan segelas air pada mama.
"Tidak!" Tolak mama.
"Saya mau Aira kembali pulang!" Ucapnya lagi.
"Aira .... Hu ... Hu ... Aira ..." Mama terus menangis memanggil Aira.
Tetangga yang membantu menenangkan mama mengelus punggung mama.
"Tenang Bu Hana. Warga masih mencari Dik Aira keliling kompleks sampai malam-malam begini."
"Semoga segera ditemukan ya bu."
"Amiinn." Ucap yang lainnya bersamaan.
Tidak lama kemudian papa masuk ke dalam rumah. Mencari keberadaan mama dan langsung memeluknya.
"Mama tenang ya. Para warga sedang membantu mencari Aira." Kini papa menenangkan.
"Aira kapan pulang pa?" Tanya mama.
"Aira pasti pulang dengan selamat ma." Ucap papa yakin.
Bang Ganjar yang mendengar keramaian langsung menuju ruang tamu. Sedangkan aku ....
**
Saat adzan magrib berkumandang aku menghentikan sejenak kegiatanku. Aku menghela napas panjang, berharap bisa membuat tubuhku lebih rileks. Kemudian aku duduk di sofa ruang keluarga yang berhadapan langsung dengan balkon.
"Mike kok belum datang ya?" Batinku.
Ya, aku mencari Mike yang hampir setiap malam selalu datang ke balkon. Tempat favoritnya di rumahku. Yang kini juga menjadi tempat favoritku juga. Sejak aku mengalami kerasukan sampai hilangnya Aira belum nampak juga si Mike. Padahal aku mau tanya banyak tentang kerasukan yang baru pertama kali aku alami.
"Mike ... Mike ... Mike ..." Aku memanggil namanya sembari melangkah menuju balkon.
Sesampainya di balkon tidak ada siapapun disana. Aku lihat samping kanan dan kiri balkon. Berharap dia sembunyi dariku lalu membuatku kaget. Namun, ternyata tidak ada siapapun juga.
- Ceklek -
Aku menyalakan saklar lampu balkon yang belum sempat aku nyalakan. Kini lampu kuning redup telah sedikit memberi penerangan balkon itu. Aku pun duduk di kursi yang ada di balkon itu.
"Mike ... Dateng dong ... Aku mau tanya ..." Ucapku.
__ADS_1
"Mike ..."
Ketika aku sedang asyik menunggu Mike. Ada sebuah suara yang terdengar ditelingaku. Suara tertawa anak kecil dan aku sangat kenal itu adalah suara Mike.
"Hehehe ... Ada apa Kalista?" Bisiknya ditelingaku.
Aku tengok kanan dan kiri, namun aku tidak melihat keberadaan Mike disana. Ingin aku pastikan apakah itu suara Mike atau bukan. Namun sayangnya aku tidak melihat siapapun saat itu.
"Apakah kamu Mike?" Tanyaku sedikit ragu.
"Kenapa aku tidak melihatmu Mike?" Aku masih melihat sekeliling mencari sosok Mike.
Suara itu menghilang seketika. Aku tunggu lagi suara itu datang. Namun tampaknya tidak datang juga.
"Mike ... Apakah kamu masih disini?" Tanyaku.
"Mike ..."
"Jangan bercanda ya Mike."
Aku mendengus kesal karena ulah suara bisikan yang mirip Mike itu. Dengan perasan kesal karena dipermainkan. Aku bangkit dari dudukku dan akan beranjak masuk ke dalam rumah. Ketika baru saja aku membalikkan badanku.
"Aaaaarghhhhhhhh .............." Suara teriakan yang sangat keras menghantam telingaku.
Suara itu membuatku sedikit terpental karena telinga dan tubuhku tidak seimbang dengan suara keras itu. Secara tertatih aku segera masuk ke dalam rumah. Aku tutup pintu balkon dan kordennya.
"Hush ... Hush ... Hush ..." Napasku terengah-engah.
Jantungku berdetak cepat sekali. Aku kembali duduk di sofa ruang keluarga. Mencoba menenangkan diriku, menstabilkan napas dan jantungku. Setelah sedikit agak rileks. Aku duduk sembari tetap memikirkan kemungkinan-kemungkinan keberadaan Aira. Satu per satu aku mengarahkan ingatanku ke belakang. Tempat-tempat yang menjadi tempat bermain Aira dan juga ruang-ruang yang belum aku singgahi.
"Gudang mainan!" Ucapku tiba-tiba.
Aku beranjak ke gudang mainan yang letaknya di ujung lorong lantai dua sebelah anak tangga. Ruangan yang memang jarang didatangi oleh seluruh anggota rumah ini. Ruangan itu tidak terlalu besar, makanya aku tidak kepikiran untuk mencari Aira di gudang mainan. Pasalnya yang biasanya ke gudang mainan hanya Mbak Yayuk ketika disuruh untuk menyimpan mainanku dan mainan Aira yang sudah tidak terpakai.
"Kresek ... Kresek ..." Samar aku mendengar suara itu.
Aku pun melangkah hati-hati mendekat ke arah pintu gudang. Tepat di depan pintu, aku menarik napas panjang. Aku pegang daun pintu. Dan ....
- Ceklek -
Taraaaa!!!!
Penasaran apa yang ada didalam gak? Mari lanjut lanjut. 👻👻👻
__ADS_1