Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Pencarian Aira


__ADS_3

Dear Diary,


Setelah aku melewati Astral Projection dan aku yakin Aira ada di dalam gudang mainan. Akhirnya aku bertekad kuat untuk kembali ke dimensi lain dan mencari Aira lagi.


***


Aku mengabaikan orang itu, aku bangun dan berjalan keluar kamar. Tujuanku adalah gudang mainan. Aku langsung membuka gudang mainan. Dan ternyata kosong dan gelap. Segera aku nyalakan lampu gudang itu.


Namun tetap saja kosong dan gelap, tidak ada siapapun di dalam gudang tersebut. Aku cari dibalik tumpukan barang-barang. Berlarian kesana kemari mencari keberadaan Aira. Aku bolak balikkan kursi yang aku yakini Aira duduk di kursi itu.


"Kok enggak ada?" Gumamku.


"Aira ... Aira ... Aira ..." Panggilku.


Bang Ganjar dan papa datang menyusul aku di gudang. Mereka pun bingung dengan apa yang sedang aku lakukan.


"Dik kamu ngapain?" Akhirnya papa bertanya padaku.


Aku menghentikan aktivitasku sejenak dan menoleh ke arah papa.


"Nyari Aira pa." Jawabku.


"Memangnya Aira ada disini?" Tanya papa lagi.


"Iya pa. Aira ada disini. Aku yakin." Jawabku percaya diri.


Papa mencoba menunggu aku mencari Aira di dalam gudang mainan itu. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya papa yakin kalau Aira tidak ada di gudang. Pasalnya gudang tersebut adalah ruangan yang kecil. Jika sudah dicari, namun tidak ketemu juga berati Aira tidak ada disitu.


"Sudahlah nak. Ayo keluar, kita lanjutkan pencarian besok saja dan besok kita laporkan ke polisi." Ajak papa.


"Tapi pa.... Aira ada disini." Kataku kekeh.


"Yuk ..." Papa mengandeng tanganku keluar dari gudang.


**


Pencarian Aira hari itu resmi dihentikan. Semua warga balik pulang ke rumah masing-masing. Sementara keluargaku juga memutuskan untuk istirahat sejenak. Sembari terus mencari Aira dengan bertanya melalui telepon kepada orang tua teman-teman sekolah Aira. Sedangkan mama, masih terus menangis di dalam kamarnya.


- Tok ... Tok ... Tok ...-

__ADS_1


Aku mendengar ketokan pintu setelah membersihkan diri.


"Ya masuk!" Perintahku.


Bang Ganjar memasuki kamarku dan duduk disampingku. Dia nampak mengamati aku yang sedang melamun. Aku memang sedang melamun, memikirkan perjalanan tadi sore mencari Aira. Namun, aku juga bingung bagaimana aku bisa kembali ke kejadian.


"Dik ... Kamu baik-baik saja?" Bang Ganjar memulai pembicaraan.


"Bang ... Aku tahu dimana Aira sekarang." Ucapku tanpa menoleh ke arah Bang Ganjar.


"Dimana dia?"


"Dia ada di gudang itu bang."


"Mana mungkin? Terus kenapa tadi sore kamu tidak menemukan Aira disana?" Ucap Bang Ganjar tidak percaya.


Benar saja aku tidak bisa menemukan Aira malam ini. Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa Aira ada di gudang itu. Aku pun terdiam dan tampak berpikir.


"Tapi aku yakin Aira berada di dalam gudang itu bang!" Ucapku.


"Aku tadi sempat melihat dia sama mama di taman samping rumah. Kemudian ada angin besar yang datang secara misterius. Dan setelah itu Aira menghilang. Aku cari kemana-mana tetapi tidak ketemu." Aku mulai menceritakan kejadian yang aku alami.


"Setelah itu aku masuk ke dalam rumah. Aku cari ke semua ruang di lantai satu. Namun, tidak ada tanda-tanda Aira ada di lantai satu. Aku hampir putus asa. Tidak lama aku mendengar suara yang sumbernya ada di lantai dua. Dengan setengah berlari aku naik ke lantai dua. Mencari ke setiap bagian di lantai dua. Dan ruangan terakhir yang belum aku datangi adalah gudang mainan."


"Kakiku melangkah masuk ke dalam gudang mainan itu. Aku melihat Aira ada disana bersama dengan sosok hitam, tinggi, dan besar. Oleh mahluk itu Aira diikat dengan sebuah kursi kayu."


"Makanya sedari tadi aku membolak-balikkan kursi kayu tersebut. Karena aku yakin Aira ada disana."


"Aku bertanya kepada sosok itu. Dia siapa dan kenapa Aira diikat. Tapi sosok itu tidak menjawab pertanyaanku. Malah sosok itu berubah wujud dari sosok hitam menjadi seorang perempuan, kemudian berubah lagi menjadi sosok hitam, lalu berubah jadi perempuan lagi. Terus begitu saja hingga membuat mataku terasa pusing melihatnya."


Aku menghela napas berat, menceritakan kejadian ini.


"Akhirnya sosok itu menabrak tubuhku hingga terpental jauh. Dan akhirnya aku tidak sadarkan diri. Ketika aku tidak sadarkan diri ada cahaya kemerahan yang mendorongku. Akhirnya aku membuka mata kembali ketika orang-orang ramai di kamarku tadi." Aku menutup ceritaku.


"Iya memang kamu tadi pingsan di depan gudang mainan itu." Ucap Bang Ganjar.


"Aku harus kesana lagi bang." Aku menatap Bang Ganjar.


"Kemana?" Tanyanya bingung.

__ADS_1


"Ke alam lain mencari Aira." Jawabku.


"Yang benar saja?"


Aku mengangguk mantap ke arah Bang Ganjar. Meskipun raut wajahnya kebingungan, namun dia tetap mengiyakan apa yang akan aku lakukan. Kemudian aku berpikir bagaimana cara aku bisa ke alam itu lagi.


"Gimana ya caranya?" Batinku.


Setelah sekian lama berpikir akhirnya aku memutuskan untuk mencobanya dahulu. Aku rebahkan badanku di ranjang. Sebelum memulainya, aku berpesan dulu kepada Bang Ganjar.


"Bang jika aku meronta-ronta, tolong segera panggil namaku sebanyak tiga kali ya." Pesanku.


Abang pun menganggukan kepalanya sebagai tanda mengerti dengan pesanku. Sedangkan aku mulai memejamkan mata dan fokus pada pernapasan. Beberapa lama aku fokus dan cahaya kemerahan itu kembali datang. Seolah menjemputku, cahaya itu menarikku berjalan dalam sebuah ruang yang warnanya kemerahan semua.


Aku terpental dari cahaya kemerahan itu dan perlahan aku buka mataku. Ternyata aku berada di sofa ruang keluarga rumahku. Aku bangun dan menenangkan diriku sebentar. Kemudian aku melangkah hendak ke gudang mainan lagi.


- Tap ... Tap ... Tap ...-


Kini langkahku sangat perlahan, hanya ujung jari kakiku yang menyentuh lantai. Supaya tidak ada yang mendengar langkahku. Aku buka gudang itu dengan hati-hati. Berusaha agar tidak bersuara sedikit pun.


Aku melihat ruangan itu sangat gelap, lebih gelap dari sebelumnya. Bahkan cahaya dari ventilasi udara tidak ada. Tanganku meraba dinding, berniat mencari sakelar lampu.


- Ceklek -


Lampu menyala dan aku melihat ada Aira di kursi itu. Aku menutup pintu kembali dan bergegas mendekati Aira. Dia terpejam dengan wajah yang sendu, aku raba seluruh wajahnya. Untuk memastikan bahwa itu benar-benar Aira.


"Aira ... Aira ... Aira ..." Aku berbisik ditelinganya.


Setelah aku yakin itu adalah Aira. Aku bergegas membangunkan Aira dengan menyentuh pelan tubuhnya. Kemudian aku lepaskan ikatan tali di tubuhnya. Terus aku memanggil namanya, berharap dia akan terbangun.


Cukup lama usahaku membangunkannya. Namun, Aira tidak bangun juga. Aku gendong tubuhnya keluar dari gudang mainan itu. Dengan langkah pelan aku gendong Aira menuju kamar kami. Kemudian aku baringkan tubuhnya di ranjang. Dan terus saja aku mencoba membangunkannya.


"Aira ... Aira ... Aira ... Bangun dik." Ucapku.


"Aira ayo kita pulang dik."


"Aku, mama, papa, Bang Ganjar, Mbak Yayuk, dan semua tetangga mengkhawatirkan kamu dik."


"Aira ....." Karena putus asa akhirnya aku menangis dengan memeluk tubuhku.

__ADS_1


***


Lanjutin di bab berikutnya ah...Biar ada penasarannya 👻👻


__ADS_2