Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Cerita Nenek Part I


__ADS_3

Dear Diary,


Sebuah cerita dari nenek yang membuatku sedikit terkejut dan berpikir ulang.


Cerita nenek berisi ......


***


Beberapa hari kemudian aku, mama, papa, dan Aira menjemput Bang Ganjar di rumahnya. Hari ini kami akan mengajak abang ke rumahku. Karena besok nenek sudah harus kembali ke kampung halamannya. Seperti janji ketika Tante Ria meninggal, Bang Ganjar akan menjadi anak angkat di keluargaku.


Sesampainya di rumah Bang Ganjar, kami langsung masuk ke dalam. Rumah yang biasanya sepi itu kini semakin sepi. Di rumah tersebut saat ini hanya ada nenek, Bang Ganjar, dan asisten rumah tangga.


Kabut kesedihan masih menyelimuti rumah itu. Bahkan ketika kami tiba, jendela dan pintu tampak tertutup rapat. Bak rumah kosong yang tak berpenghuni.


Tok ... Tok ... Tok ...


Papa mengetok pintu rumah itu. Keluarlah asisten rumah tangga dan mempersilahkan kami masuk ke dalam. Sementara itu dia langsung bergegas memanggil nenek.


Mama pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk kami semua. Papa dan Aira menonton televisi di ruang keluarga. Sedangkan aku ingin berjalan-jalan melihat foto-foto kenangan yang terpajang di dinding ruang keluarga.


Foto-foto itu tampak menguning karena termakan usia. Beragam kenangan keluarga kecil ini terpampang di dinding itu. Sekilas aku merasakan hangatnya cinta antara Tante Ria dan Om Yudi. Kemudian mataku fokus ke foto keluarga kecil ini yang terdiri dari foto Tante Ria dan Om Yudi di samping kiri dan kanan. Mengendong anak kecil yang tak lai adalah Bang Ganjar. Foto yang tampak bahagia dan aku pun dapat merasakannya.


Saat itu pula, tiba-tiba aku merasakan sesuatu berada di belakangku. Segera mungkin aku menengok ke belakang. Dan benar saja sekelebat bayangan putih ada disana. Namun aku terlambat melihatnya dan bayangan itu seketika menghilang.


Aku coba mencari bayangan itu ke sekeliling. Satu persatu sudut ruangan itu ku telusuri. Ruang demi ruang, pintunya aku buka. Tapi nyatanya bayangan itu tidak aku temukan. Aku pun kembali melihat foto-foto yang terpajang di dinding ruang keluarga.


Tidak lama kemudian. Suara hentakan kaki terdengar lirih dari anak tangga. Jarak antara satu langkah dengan langkah berikutnya terbilang cukup lama.


- Tak ..... Tak ..... Tak ..... Tak .... -


"Nenek ...." Teriakku ketika tahu langkah kaki itu milik nenek.


"Nenek tetep di Jakarta saja nek." Pintaku sembari memeluk nenek.


"Nenek harus urus rumah sayang." Tolak nenek.


"Kalau liburan sekolah ke rumah nenek ya." Nenek berpesan.


"Siap nenek." Kataku diikuti anggukan kepala.


**


Malam harinya aku menemani nenek untuk berkemas pakaian yang akan dibawanya pulang ke kampung. Momen yang paling aku sukai adalah mengobrol bersama nenek di setiap kegiatan yang beliau kerjakan. Dan kali ini sembari berkemas nenek menceritakan tentang keluarga Tante Ria.


Bercerita masa kecil Tante Ria dan mama, keseharian mereka, dan kenangan-kenangan indah semasa kecilnya. Nenek juga menceritakan kisah cinta antara Tante Ria dan Om Yudi hingga sampai pernikahan mereka. Kata nenek perjuangan cinta Tante Ria dan Om Yudi berat. Setelah berpacaran kurang lebih tujuh tahun, keduanya harus terpisah karena pekerjaan. Namun, diakhir kisah cintanya mereka pun menikah.


"Nenek ... Apakah aku boleh bertanya?" Tanyaku sedikit ragu.

__ADS_1


Nenek yang sedang berkemas menoleh ke arahku sembari tersenyum dan mengangguk.


"Tante Ria punya berapa anak nek?"


Nenek menghentikan aktivitasnya. Mengernyitkan keningnya karena kaget dengan pertanyaanku.


"Saat ini ya satu, abangmu Ganjar itu." Jawab nenek.


"Masa nek?" Aku tak percaya.


"Lalu siapa anak kecil yang mirip sekali dengan Bang Ganjar itu?" Lanjutku.


"Nenek tidak bohong padaku kan nek?" Aku menatap mata nenek untuk memastikan.


"Kamu tahu darimana nak?" Nenek tersenyum padaku.


"Kalista lihat sendiri nek."


Nenek terdiam sejenak dan menatapku. Meninggalkan pakaian-pakaian yang akan dia kemas. Dia beranjak dan duduk tepat di sampingku.


"Jadi kamu mewarisi bakat kakekmu?" Tebak nenek.


"Apa bakat kakek, nek?" Aku menatap nenek bingung.


"Kamu bisa melihat mereka yang tidak terlihat ya?" Nenek tersenyum.


"Iya, kakekmu dulu juga seperti kamu. Melihat, berinteraksi bahkan berteman dengan mereka yang tak terlihat."


Nenek menghembuskan napas panjang.


"Dan ternyata bakat itu nurun ke kamu ya nak." Nenek mengusap kepalaku.


"Nenek nggak tahu kalau kakek memilihmu sebagai penerusnya."


"Apakah kemampuan seperti itu harus ada penerusnya nek?"


"Nenek tidak tahu pastinya, tapi dulu sewaktu kakekmu masih hidup. Beliau selalu membicarakan penerusnya di keluarga besar kita."


"Apa alasan kakek memilihku nek?"


Nenek menggelengkan kepalanya dan masih tetap mengelus-elus rambutku.


"Nenek pun tidak tahu nak. Yang pastinya anggota keluarga kita yang istimewa bisa menjadi penerusnya."


"Apakah berat menjadi seorang indigo nek?"


"Nenek tidak tahu. Tetapi kakekmu selalu menggunakan kemampuannya itu untuk kebaikan. Untuk membantu sesama manusia atau bahkan membantu "mereka" yang kebingungan pulang."

__ADS_1


"Maksudnya "mereka" yang kebingungan pulang apa nek?"


Nenek kembali tersenyum kepadaku.


"Kalista nenek bilang nenek kurang tahu tentang hal begituan nak." Jawab nenek sedih.


"Mungkin ke depannya kamu akan lebih tahu daripada nenek." Lanjutnya.


"Intinya kemampuan yang kamu miliki itu langka. Maka gunakanlah sebaik mungkin untuk membantu orang-orang disekelilingmu. Jangan sesekali salah menggunakannya. Maka akibatnya akan kamu tanggung sendiri. Kamu harus menjadi bijak sedari dini nak. Supaya kedepannya kamu bisa semakin memahami dunia ini."


Aku terdiam mendengarkan kata demi kata yang nenek ucapkan. Meskipun hanya beberapa makna yang bisa aku serap ke dalam otakku dan akan selalu aku ingat nantinya. Maklum saja otak anak sembilan tahun yang dituntut untuk memikirkan sesuatu yang bukan pada umumnya.


"Kalau boleh tahu sejak kapan kamu bisa melihat "mereka", nak?" Pertanyaan nenek memecahkan keheningan.


"Setelah aku tenggelamnya nek. Sewaktu tenggelam aku dibawa ke dasar laut untuk bertemu Ibu Ratu."


"Oh, begitu." Nenek menganggukkan kepalanya.


"Ibu Ratu?" Nenek bertanya kembali.


"Iya ... Ibu Ratu." Jawabku singkat.


"Sama seperti kakakmu yang dulu sering membicarakan mengenai Ibu Ratu."


Pernyataan nenek membuat mataku membulat sempurna. Aku terkejut tentang cerita nenek barusan.


"Apakah ada keterkaitan antara kakek, Ibu Ratu, dan kemampuanku ini nek?"


"Nenek tidak tahu pastinya Kalista." Lagi-lagi jawaban nenek tidak mengetahui kepastiannya.


"Mungkin saja ada nak."


"Nenek yakin, seiring berjalannya waktu kamu akan mengetahui semuanya."


Suasana kamar itu kembali hening. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Oh iya nenek. Nenek belum jawab pertanyaanku tadi." Aku teringat sebuah pertanyaan di awal perbicangan kami.


Nenek mengerutkan dahinya seolah bertanya pertanyaan yang mana. Aku pun paham nenek lupa pertanyaan yang mana yang aku maksud.


"Pertanyaan tentang berapa jumlah anak Tante Ria nek." Aku mengulang pertanyaan.


"Oh yang itu nak."


Nenek kembali terdiam. Aku menyimpulkan bahwa nenek tidak mau menjawab pertanyaanku.


***

__ADS_1


Masih penasaran kan? Lanjut yuk! 👻👻👻


__ADS_2