
Dear diary,
Sesuatu yang aneh kembali terjadi di malam setelah kejadian itu. Ketika mataku sulit terpejam dan saat itu pula tampaknya ada sosok yang ingin berinteraksi denganku.
☠️☠️☠️
Malam selanjutnya mama masih merasa takut dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Rasa cemas kejadian kemarin akan terulang lagi selalu membayangi pikirannya. Membuat mama susah untuk memejamkan matanya.
"Kenapa belum tidur ma?" Tanya papa yang baru saja naik ke atas ranjang.
Mama tidak menjawab pertanyaan papa. Dia hanya terlihat beberapa kali meremas jari-jarinya. Papa pun sangat paham apa yang sedang mama pikirkan.
"Udahlah ma. Nggak usah berpikiran yang aneh-aneh. Ayo tidur saja, sudah malam." Ajak papa.
"Tapi pa--" Ujar mama.
"Mama nggak bisa tidur." Lanjutnya.
"Kenapa mama nggak bisa tidur? Karena mama masih memikirkan yang aneh-aneh." Ucap papa.
"Mama mikirin apa sih?" Tanya papa.
Kini papa sudah berbaring disamping mama dan menggenggam tangan mama. Memberikan sentuhan untuk menenangkan mama.
"Kalau ada dia lagi gimana pa?" Tanya mama.
"Dia siapa?" Sahut papa.
"Papa sudah mengunci semua pintu gerbang, pintu utama dengan kunci double ma. Jadi tidak akan bisa ada orang asing masuk ke rumah kita. Dijamin aman dari maling deh." Papa menjelaskan.
Mendengar penjelasan papa mama pun mengerucutkan bibirnya. Karena itu bukanlah jawaban yang ingin didapatkan oleh mama. Karena mama bukanlah takut dengan orang asing atau maling.
"Tapi bukan itu maksud mama, pa." Ucap mama dengan nada kesal.
"Lalu apa?" Tanya papa.
"Ya itu orang yang aku kira Mbak Yayuk. Mama beneran takut pa." Ucapnya lirih.
Papa menarik napas dalam, kemudian menghembuskan perlahan. Diusapnya puncak kepala mama, untuk memberikan ketenangan untuknya. Setelah beberapa saat akhirnya papa mulai angkat bicara kembali.
"Mama tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Nggak ada hantu di rumah itu. Waktu itu mama cuma salah lihat."
"Tapi pa. Nggak mungkin salah lihat."
__ADS_1
"SsStt--" Papa meletakkan telunjuknya di mulut mama.
"Udah ayo merem." Perintah papa.
Akhirnya mama pun mengiyakan perintah papa. Mama mulai merebahkan tubuhnya disamping papa. Mendekatkan tubuhnya ke tubuh papa. Dan tidak lupa terus menggenggam jemari papa.
**
Di kamarku
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, namun rasanya kantuk belum juga datang. Berulang kali aku mencoba memejamkan mataku, namun rasanya sulit sekali tertidur. Sesekali aku dapat memejamkan mataku, namun pikiranku terus berjalan kesana-kemari. Aku bolak-balikkan posisi tidurku, namun rasanya percuma saja.
Akhirnya aku bangun dari ranjangku dan berjalan mendekati jendela kamar. Aku coba membuka jendela kamar itu, untuk melihat pemandangan langit malam hari. Suatu kebiasaan yang beberapa hari yang lalu menjadi rutinitasku.
"Ah--. Aku kangen melihat pemandangan langit bersama Mike." Gumamku.
"Mike sedang apa ya? Pasti dia suka sekali dengan pemandangan langit malam ini."
Beberapa hari terakhir, setiap malam Jakarta selalu diguyur hujan. Namun, tidak dengan malam ini. Ya, karena malam ini langit tampak cerah dengan banyaknya bintang di atas sana. Si rembulan juga tampak tersenyum dibalik selimut awan.
Aku tarik kursi yang biasanya aku gunakan untuk belajar. Aku letakkan di dekat jendela kamar dan aku duduk di kursi tersebut. Melihat pemandangan indahnya langit malam disertai hembusan angin malam. Ketenangan yang saat itu benar-benar aku rasakan. Belum lama aku menikmati ketenangan malam itu.
PYARRRRRR ........
Suara itu terdengar oleh seisi rumah, termasuk aku. Menurut prediksiku sumber suara itu berasal dari lantai satu. Aku segara berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga. Aku lihat di bawah sudah ada kedua orang tuaku.
"Gucinya pecah." Jawab papa.
"Kok bisa?" Sahut Bang Ganjar yang baru saja datang dibelakangku.
"Nggak tahu, tiba-tiba saja pecah." Jawab papa.
"Ulang Choco kali om." Tebak Bang Ganjar.
"Choco ada di kandangnya." Bantahku.
Choco adalah anjing peliharaan di keluargaku. Anjing kami berjenis poodle yang bentuk badannya kecil. Dan tidak mungkin juga bisa menabrak guci ini sampai pecah.
"Lagian choco juga tidak mungkin kuat untuk memecahkan guci sebesar ini." Ucapku.
"Lalu kalau ternyata ini ulah maling bagaimana?" Tanyaku.
"Pa--" Mama mulai mencengkeram lengan papa.
__ADS_1
Papa yang paling memahami pemikiran mama. Pikiran papa kalut untuk mencari alasan yang tepat dan dapat diterima oleh kami semua. Dia pun menghembuskan napas secara perlahan.
"Paling gucinya sudah terlalu tua terus kena angin jadinya ambruk." Ucap papa.
"Gak mungkin pa." Ucap mama.
"Mungkin aja ma, namanya juga barang antik. Bisa rusak atau pecah kapan saja." Papa mencoba meyakinkan.
"Tapi pa--" Mama hendak kembali memprotes.
"Ma--" Papa melirik mama sebagai kode untuk mengiyakan kata-katanya.
Melihat itu mama pun cemberut, karena memang penjelasan papa sama sekali tidak logis. Padahal aku pun juga tidak percaya dengan apa yang papa jelaskan. Mana mungkin guci sebesar dan sekokoh ini bisa pecah karena angin. Lagian malam ini tidak terlalu berangin, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Mungkin papa hanya ingin berpikir positif agar kami semua tenang.
"Kok kalian belum tidur?" Tanya papa kepada aku dan Bang Ganjar.
"Aku sih terbangun om, mendengar suara benda yang pacah." Jawab Bang Ganjar.
"Belum bisa tidur pa." Jawabku.
"Kenapa belum bisa tidur?" Tanyanya lagi.
"Nggak tahu. Nggak ngantuk saja pa." Jawabku.
"Kamu takut?" Papa coba menebak.
"Enggaklah pa." Tolakku.
"Ya sudah sana kembali ke kamar dan segera tidur. Besok pagi ke sekolah jangan pada telat bangun ya." Pesan papa.
Aku dan Bang Ganjar segara berbalik badan dan melangkah menaiki anak tangga menuju kamar masing-masing. Segera aku rebahkan tubuhku di atas ranjang. Aku tarik selimut untuk menutup tubuhku dan mencoba kembali memejamkan mata. Namun, kurang lebih lima belas menit setelah itu.
"Krek ... Krek .... Krek ..."
Decitan suara jendela terbuka lalu tersapu angin terdengar. Hembusan angin terasa semakin dingin, karena memang saat ini menuju dini hari. Aku pun bangun dari posisiku, kemudian aku lihat sekitar kamar. Mataku tertuju pada arah jendela itu. Memang aku sedikit terkejut dan mengernyitkan dahiku.
"Perasan sudah aku tutup." Gumamku.
Rasanya malas sekali untuk berjalan dan menutup jendela itu. Namun, bagaimana juga kalau tidak segera aku tutup. Mungkin besok pagi aku dan Aira akan masuk angin, karena kedinginan semalaman. Perlahan aku langkahkan kakiku mendekati jendela. Aku hendak menutup jendela itu.
"Whaaaaaaaaaa ......" Teriakku.
Aku terkejut dengan apa yang barusan aku lihat tepat dihadapanku saat ini.
__ADS_1
☠️☠️☠️
Eh kira-kira apa sih yang dilihat? 👻👻👻