Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Menceritakan


__ADS_3

Dear Diary,


Akhirnya aku memiliki teman untuk menceritakan tentang indigo. Jadi sekarang aku tak harus memendam semuanya sendiri.


☠️☠️☠️


Suaranya hening seketika. Kami sibuk dalam pikiran masing-masing. Aku memikirkan maksud dan tujuan sosok itu mengangguku dan Bang Ganjar. Sementara dipikiran Bang Ganjar masih sibuk mencerna penjelasan yang aku sampaikan. Mungkin saja dia juga masih memikirkan tentang aku yang seorang indigo ini.


Aku menoleh kearah Bang Ganjar, terlihat jelas wajahnya yang tampak melamun. Dengan segera aku sadarkan dia dari lamunannya.


"Mikirin apa bang?" Tanyaku.


"E... Enggak." Jawabnya singkat.


Dia kembali hanyut dalam lamunannya. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Aku juga tidak tahu pasti, apa yang sedang dipikirkannya.


"Sejak kapan kamu jadi indigo?" Bang Ganjar bertanya kepadaku.


"Sehabis aku tenggelam." Jawabku.


"Kenapa bisa sejak saat itu?" Tanyanya.


Aku mengangkat kedua bahuku secara bersamaan. Jika ditanya pertanyaan seperti ini, aku sendiri pun tidak tahu. Aku saja hanya menjalani hidup seusai kehendak alam semesta.


"Kata nenek sih, dulu kakek juga memiliki kemampuan yang sama." Ucapku.

__ADS_1


"Kakek?" Bang Ganjar memastikan.


"Iya bang, mungkin keturunan." Jawabku.


Bang Ganjar menganggukkan kepalanya sebagai tanda memahami penjelasanku.


"Jadi ketika Aira hilang itu kamu udah punya kemampuan itu?" Tanyanya lagi.


"Iya bang." Jawabku.


"Tentang indigo, aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan kemampuan seperti ini. Aku pun tidak tahu awal mulanya bisa seperti ini." Lanjutku.


"Lalu kamu tahu kalau kamu indigo dari siapa dik?" Bang Ganjar kembali bertanya.


"Teman? Siapa?"


Aku tersenyum mendengar pertanyaan Bang Ganjar. Pasalnya teman yang memberitahukan dan mengajariku seputar dunia indigo, bukanlah teman dari golongan manusia. Aku ragu kalau harus bercerita, pasalnya tidak ada bukti nyata untuk menceritakan temanku itu.


"Adalah temanku." Itulah jawabanku untuk penutup obrolan tentang diriku yang indigo ini.


Suasana kembali hening. Sebelum akhirnya aku membuka pembicaraan.


"Bang kayaknya di rumah kita tidak beres." Ucapku.


"Maksudnya tidak beres?" Tanya Bang Ganjar bingung.

__ADS_1


"Sadar gak bang, sejak Aira hilang, Mbak Yayuk pingsan, guci pecah, hingga kejadian tadi malam." Perkataanku tidak berhenti sejenak, untuk memberi jeda agar Bang Ganjar mengingat kembali beberapa kejadian tersebut.


"Apakah kamu merasakan kejadian yang aneh yang berturut-turut itu bang?" Tanyaku.


"Iya sih aneh juga ya." Balasnya.


"Sepertinya ada yang janggal bang." Ucapku lagi.


"Awalnya aku pikir, mungkin kebetulan saja. Tapi setelah mendengar ceritamu. Aku jadi ikut kembali berpikir ulang deh dik." Ucap Bang Ganjar.


"Dan anehnya semua yang menganggu itu sosoknya sama semua bang."


Bang Ganjar mengernyitkan alisnya, seolah bingung dan berpikir. Lalu dia pun bertanya, "Apa sosoknya?"


"Sosoknya bayangan hitam, kalau tidak salah sih bentuk tubuhnya seperti perempuan bang. Tapi entahlah, aku belum bertemu dengan dia secara dekat. Hanya bayangannya saja yang sering menampakkan diri." Aku menceritakan apa yang aku ketahui kepada Bang Ganjar.


"Kamu gak tahu apa tujuannya sosok itu menganggu?" Tanya Bang Ganjar.


"Tidak bang. Aku sendiri juga bingung dengan hal ini. Untungnya aku bisa cerita dengan abang. Jadi aku memiliki teman untuk berkeluh kesah mengenai masalah sosok ini." Ucapku sembari tersenyum lega.


Ya benar saja, selama ini aku tidak memiliki teman untuk menceritakan hal-hal mengenai indigo. Dan kini akhirnya aku memiliki Bang Ganjar yang bisa memahami keadaanku ini sebagai anak yang berbeda dari anak-anak pada umumnya.


☠️☠️☠️


Setelah ini bagaimana lagu ya nanti?👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2