Diary Anak Indigo

Diary Anak Indigo
Aira Hilang! Part I


__ADS_3

Dear Diary,


Belum lama dari kejadian kesurupan yang aku alami. Hari ini "mereka" kembali menganggu ketegangan keluargaku. Kasus kali ini adalah menghilangnya adekku, Aira secara tiba-tiba.


***


Sore itu. Sekitar pukul 15.00 WIB.


"Mbak apa lihat dimana Aira?" Tanya mama pada Mbak Yayuk yang sedang memasak.


"Tidak itu bu. Saya dari tadi di dapur." Jawabnya.


"Aduh ... Dimana ya Aira." Mama mulai panik.


Mama segera berlari ke ruang keluarga mencari papa.


"Papa lihat Aira nggak?" Tanyanya begitu sampai di ruang keluarga.


"Tidak itu ma. Bukannya tadi sama mama ya?" Papa justru balik bertanya.


Aku dan Bang Ganjar yang sedang berada di lantai dua, ketika mendengar keributan pun segera ke lantai bawah.


"Ada apa tante?" Tanya Bang Ganjar.


"Aira tiba-tiba nggak ada. Tante sudah mencari ke tetangga sekitar. Tetapi tidak ada juga, teman-temannya juga tidak tahu." Mama menjelaskan sembari meremas-remas tangannya.


"Terakhir kali Aira dimana ma?" Sahutku.


"Ada di taman sama mama. Dia sedang bermain boneka dan mama sibuk menyiram tanaman. Nah pas mama susah selesai dan mau mengajaknya masuk ke dalam rumah. Aira-nya sudah tidak ada ditempat semula." Mama menjelaskan.


Panik dan khawatir itulah yang saat ini mama rasakan. Pasalnya orang yang terakhir kali bersama Aira adalah mama.


"Aduh ... Gimana ini?" Ucap mama lagi.


"Jangan panik dulu. Ayo kita cari bersama-sama." Saran papa.


"Sekarang mama dan Mbak Yayuk mencari Aira di sekitar taman dan rumah. Kalista dan Ganjar cari di dalam rumah. Dan papa akan cari ke tetangga depan kompleks." Papa menjelaskan.


Tanpa jawaban, semua orang yang ada di rumah segera menjalankan perintah papa. Aku membagi tugas lagi dengan Bang Ganjar.


"Dek kamu ke lantai dua. Siapa tahu Kalista ketiduran di atas. Aku di lantai satu. Cari ke semua bagian rumah ya. Jangan lupa di gudang dan balkon." Pesan Bang Ganjar kepadaku.

__ADS_1


Aku pun langsung mengangguk dan segara menaiki anak tangga. Dengan sedikit berlari aku cari Aira dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya. Dari satu sudut ke sudut yang lain, termasuk ke kolong-kolong meja dan kursi.


Lama aku mencari, namun tidak juga aku menemukan Aira. Aku menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Duduk sebentar di sofa ruang keluarga dan menenangkan diri.


"Mungkin aku harus santai dan tidak terburu-buru." Pikirku.


Sejujurnya aku memang terlalu panik mencari keberadaan Aira. Kini aku akan mencoba mencarinya lagi. Namun dengan hati-hati dan tenang. Tanpa lari-larian, buru-buru, dan teriak-teriak.


Aku tapakkan kakiku langkah demi langkah. Sesekali aku memanggil lembut namanya. Barangkali sama sepertiku yang akan tersadar dari kesurupan ketika namaku dipanggil sebanyak tiga kali. Ya berusaha saja siapa tahu memang benar. Hehe


"Adek .... ", Panggilku


Aku berniat mencari ulang Aira di dalam kamar. Dari mulai dalam tenda bermain Aira, rumah-rumahan Aira, sampai aku cari di kolong meja dan kursi. Satu lagi kolong yang belum aku tengok. Mataku menatap ranjang yang biasa digunakan Aira.


"Kresek ... " Suara itu terdengar jelas ditelingaku.


"Aira ..?" Sahutku segera ketika mendengar suara itu.


Aku melangkah perlahan ke arah ranjang Aira.


"Kresek ... " Suara itu kembali terdengar.


Kemudian aku berjongkok dan bersiap menyikap bed cover ranjang. Ketika aku tundukkan kepalaku bersamaan angin berhembus kencang dibelakangku. Ralat. Maksudnya bukan hanya angin biasa, tetapi seperti angin yang membawa bayangan. Aku tidak tahu bayangan apa itu, karena aku tidak sempat melihatnya.


Setelah tidak mendapatkan apapun dari kolong ranjang Aira. Aku segera bangkit dan berdiri. Berjalan ke arah jendela kamar yang terbuka. Lalu aku tengok kanan dan kiri jendela kamar. Siapa tahu bayangan tadi masih ada disana.


"Hmmm ... Ganggu aja. Bantuin kek." Gumamku.


***


Rumah lantai satu.


Bang Ganjar masih sibuk mencari Aira di lantai satu yang memiliki lebih banyak ruangan, dibandingkan dengan lantai dua. Tampaknya tinggal satu ruangan lagi yang belum dia datangi. Dia pun berjalan ke arah belakang rumah. Tepatnya di ruang cuci yang terletak di dekat dapur.


Ruang cuci adalah sebuah ruangan kecil yang terbuka bagian atasnya. Tentu saja banyak pakaian dan peralatan mencuci disana. Tanpa ragu Bang Ganjar masuk ke ruangan tersebut.Tumpukan pakaian menjadi sasaran pertamanya untuk mencari Aira.


"Kresek ... Kresek ..." Tiba-tiba terdengar suara.


Semula yang sibuk mencari dibalik tumpukan pakaian. Kini matanya ke arah pakaian-pakaian yang sedang digantung. Dia membalikkan badan dan melangkah mendekati gantungan tersebut.


Dari balik gantungan tersebut ada sebuah bayangan yang bergerak-gerak. Sepertinya memang ada orang dibalik gantungan pakaian-pakaian itu. Langkahnya semakin dekat dan semakin dekat.

__ADS_1


Kini tangannya sudah siap untuk menyingkap pakaian itu dan melihat siapa dibaliknya. Dan benar dia segera mengerakkan tangannya.


"Sret ..." Bang Ganjar menyingkap pakaian-pakaian itu.


Matanya membulat sempurna, karena tidak ada siapapun dibalik itu. Sebelumnya dia sangat yakin bahwa ada seseorang yang ada disana. Karena sedari tadi ada sesuatu yang bergerak-gerak disebaliknya. Tentu saja bergerak bukan karena angin, pikirnya.


"Kok kosong." Ucapnya.


Kemudian dia tetap menyikap satu per satu pakaian yang digantung. Untuk kembali mencari keberadaan Aira. Tidak lama ia mencari di area gantungan pakaian.


"Kresek ... Kresek ..." Suara itu terdengar lagi.


Bang Ganjar mengernyitkan kening dan memasang telinganya baik-baik. Apakah suara itu memang benar adanya atau hanya perasannya saja.


- Tak ... Tak ... Tak ...-


Kali ini suara kaki melangkah dengan cepat terdengar di telinganya. Bang Ganjar diam di tempatnya semula. Pikirannya kacau karena sedang menganalisis bunyi langkah siapa itu. Sementara orang-orang di rumah ini sedang sibuk mencari Aira sesuai tugasnya masing-masing. Cukup lama Bang Ganjar diam dan berpikir.


"Eh bang ... Belum ketemu juga?" Kini suara yang sangat dikenali Bang Ganjar yang terdengar.


Bang Ganjar menoleh ke arah pintu ruang cuci dan melihat aku disana. Dia pun menghela napas dalam dan memegangi dadanya karena terkejut.


"Huh" Bang Ganjar mendengus kesal.


"Aku kira siapa." Ucapnya.


"Abang takut ya?" Godaku.


"Cuma kaget aja." Dia mengelak.


Aku berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air minum. Rasanya haus sekali kesana kemari mencari Aira. Walaupun hanya di dalam rumah saja.


- Glek ... Glek ... Glek ... -


Aku meneguk segelas air putih sampai habis. Setelah itu aku berniat kembali ke lantai dua.


"Aku balik dulu ya bang." Pamitku pada Bang Ganjar.


"Bye ..." Aku melangkah meninggalkan dapur.


Bang Ganjar diam dan tidak menjawab ketika aku berpamitan. Mungkin dia masih kesal karena aku membuatnya terkejut. Tapi kan bukan niatku untuk membuatnya terkejut. Hehehe.

__ADS_1


***


Aira kemana ya sebenarnya. Penasaran? Lanjut saja yuk!👻👻👻


__ADS_2